
"Maaf," ucap Om Shaka merasa bersalah.
"Enggak apa-apa kok, Om. Cuma Lea enggak habis pikir aja sih. Kok bisa Om bilang mau ke proyek? Kenapa Om enggak jujur aja sama Lea? Lagian 'kan enggak boleh ikut campur urusan masing-masing," ucapku santai. Namun, apakah dia tahu jika ada kekecewaan dari nada bicara yang keluar dari mulutku.
"Saya belum terbiasa," jawabnya.
"Its oke." Aku tersenyum pasrah.
Dengan percayaku paling dalam. Aku telah memilihnya dan ingin jatuh cinta kepadanya setiap waktu yang ku punya. Ingin menjadikannya seseorang yang menyatu denganku dalam segala doa dan rencana-rencana. Aku ingin menjadikannya teman paling bahagia. Kekasih hidup yang berteguh pada setia. Kami adalah janji-janji yang akan selalu kami tepati. Bodoh, kau benar-benar bodoh Lea. Harusnya sadar diri bukan malah berimajinasi tinggi. Aku berharap sangat banyak pada hubungan ini.
"Kamu marah?" Om Shaka melirik ke arahku.
"Enggak! Untuk apa Lea marah, Om?" Aku menampilkan senyuman tanpa beban. Toh, kalaupun aku marah dia tidak akan peduli.
"Kemarin itu setelah proyek, Felly nelepon saya supaya datang ke rumahnya. Dia lagi sakit," jelas Om Shaka. Kenapa aku merasa yang dia ucapkan bohong? Apa karena kemarin melihatnya bersama Kak Felly?
"Kak Felly sakit apa, Om?" tanyaku kepo.
"Leukemia stadium lanjut," jawabnya terlihat sendu dan seperti menahan perih di dalam dadanya.
"Astaga!" Aku menutup mulut tidak percaya. "Kalau begitu Om harus sering-sering temanin Kak Felly, Om. Itu penyakit serius," ucapku dengan enteng. Padahal hatiku serasa teriris sakit, istri mana yang tak patah saat melihat suaminya lebih peduli pada wanita lain.
"Tapi–"
"Om tenang aja, Lea bisa jaga rahasia kok," potongku seraya tersenyum simpul.
Weh, aku sudah pandai acting, sepertinya setelah ini aku ikut casting saja siapa tahu jadi artis dadakan. Bayangkan aku sedang tertawa sambil memegang tongkat kera sakti.
"Makasih udah ngerti posisi saya," ucapnya tersenyum.
__ADS_1
"Enggak perlu lah Om makasih sama Lea. Om fokus aja sama Kak Felly. Lagian tahun depan juga kita udah pisah 'kan? Nah pas kita udah pisah, Om bisa deh nikah sama Kak Felly!" seruku.
"Apa saya nyakitin hati kamu?" tanyanya.
"Nyakitin apa, Om? Iya enggaklah, sejak awal 'kan kita udah sepakat?" Aku geleng-geleng kepala sambil tertawa getir.
Aku tersenyum kecut. Lalu kulirik cincin pernikahan yang melingkar di jari manisku. Sudah beberapa bulan cincin ini mendiami jariku. Entahlah, setiap kali melihat cincin ini dadaku selalu berdebar-debar. Apa sebenarnya aku memang sudah jatuh cinta pada pria tua itu?
Aku berusaha untuk tidak memikirkan apa yang aku lihat dan katakan. Namun, perasaanku sama sekali tak bayangan Om Shaka mendorong kursi roda Kak Felly sambil tertawa lepas seperti menyadarkan aku satu hal. Bahwa diriku hanya gadis kecil yang sama sekali tidak akan pernah membuat pria tua itu jatuh cinta padaku. Dia seperti menunjukkan jika tak ada ruang sama sekali di hatinya untuk aku sekedar masuk dan mencari tempat tinggal.
Saat keberanian itu muncul dan menggebu-gebu. Entah darimana asalnya, yang aku tahu aku takut apa pun selain kehilangan dirinya. Aku menghabiskan waktu lebih banyak untuk melukis, menghabiskan tenaga untuk menekuni hal-hal yang aku suka. Aku mempertaruhkan segalanya demi dia. Sebab, aku tak ingin kami menjadi sejarah yang dikenang sebagai masa lalu. Aku meninggalkan segala rasa nyamanku waktu itu, dan memilih menghabiskan masa mudaku bersama memenuhi kesungguhan memilikinya.
Om Shaka juga terlihat begitu. Dia lebih rajin bekerja dari biasanya. Sering kali dia ingatkan aku akan target yang harus lebih rajin belajar supaya bisa menempuh pendidikan yang aku mau. Waktu kami semakin dekat untuk bisa menumpas jarak yang membuat rindu tercekat. Namun, siapa sangka ternyata dia malah menusuk-nusukkan jarum pentol di hati yang sebelumnya tak pernah memiliki lobang yang menciptakan perih.
"Mama bicara apa aja sama kamu?" Tiba-tiba suasana di antara kami canggung.
"Dih, masih kecil udah mikirin malam pertama." Dia mendorong keningku dengan gemas.
"Ihh, Om. Suka kali dorong-dorong kening Lea. Entar bengkak kecantikan Lea berkurang lho," protesku.
"Bukan kecantikan kamu yang berkurang. Tapi kinerja otakmu itu!" ketusnya.
Namun, pada hari yang tak pernah kuduga. Jam-jam yang kuanggap semua akan baik-baik saja. Dia hempaskan segalanya. Dia hancurkan semua yang kubangun dengan sepenuh jiwa. Dia katakan kepadaku. Kami tak punya waktu, dia ingin menjalani dengan orang yang ternyata diam-diam telah memintanya menjadi bagian hidupnya. Ah, aku sempat berlari menjauh dari tempatku. Menghabiskan hari-hari sedih di tempat lain. Untuk membunuh waktu yang terasa pedih. Aku bahkan tak percaya, bagaimana mungkin orang yang kusebut cinta ternyata menusukan luka. Dia bahkan terlihat tak peduli remuk perasaanku. Dia biarkan aku tenggelam pedih, seolah semua yang kuperjuangkan bukan hal yang dia butuhkan. Hingga waktu berlalu pelan-pelan aku paham satu hal tentang dia. Dia bukan orang yang kayak di perjuangkan sepenuh hati.
Tidak terasa mobil yang dia kendarai sampai di sebuah restoran mewah. Aku yakin tempat ini yang biasa dia kunjungi bersama Kak Felly.
"Om setong ke sini ya sama Kak Felly?" tebakku.
"Lea, bisa enggak saat kita berdua. Kamu jangan bahas Felly dulu?" mohonnya.
__ADS_1
Keningku mengerut heran. Kenapa Om Shaka seperti tak suka saat aku membahas Kak Felly? Bukankah Kak Felly ini kekasih yang dia cinta? Harusnya dia senang karena sebagai istri aku tak mempermasalahkan suamiku memiliki hubungan dengan wanita lain.
"Okeh deh, Om." Aku cenggesan.
"Ayo, masuk!" ajaknya.
"Eh!" Aku terkejut ketika Om Shaka menggandeng lenganku.
"Kamu itu jalannya lelet. Kalau enggak digandeng bisa-bisa enggak makan kita," sindirnya.
"Bilang aja pengen pegang tangan Lea, Om. Enggak usah malu-malu apalagi malu-maluin," celetukku sambil tertawa ngakak seperti orang gila.
"Dasar, terlalu percaya diri!"
Kami berdua masuk ke dalam restoran. Aku sering ke tempat ini bersama Kak Zico atau kadang Kak Leon dan teman-temanku yang lainnya.
"Kamu mau pesan apa?" tanyanya membuka buku menu makanan.
"Emang boleh pesan apa aja, Om?" Mataku berbinar-binar melihat lobster di gambar tersebut. Ah, aku sudah bayangkan betapa lezatnya daging tersebut saat mengenai lidahku.
"Boleh. Tapi kalau sampai enggak habis, kamu saya hukum cuci piring di sini!" ancamnya.
"Dih, kejam." Aku bergidik ngeri mendengar ancamannya.
Aku menyebutkan semua makanan yang aku suka. Mumpung ditraktir suami, jadi makan saja apa yang mau dimakan.
"Lea!"
Hingga suara seseorang memanggil namaku membuyarkan obrolan kami berdua.
__ADS_1