Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Belajar melepaskan


__ADS_3

POV Nara.


Akhirnya aku belajar melepaskan Mas Bintang, bukan karena aku tidak lagi mencintainya. Bukan juga karena sayangku sudah habis di dalam hati. Namun, aku sadar, mencintainya sendirian bukanlah cinta yang wajar. Aku dibunuh berdebar-debar dada dan kecemasan akan kenangan berselimut luka. Itulah mengapa aku mulai belajar melepaskan. Sebab, aku tahu cinta terbaik akan selalu pulang tetapi jika Mas Bintang tak kunjung datang, barangkali dia memang ditakdirkan sebatas kisah yang hanya layak tersimpan sebagai kenang.


"Nara," panggilnya menatapku berkaca-kaca. "Aku mohon jangan tinggalkan aku," mohonnya berlutut di kakiku.


Mas Bintang harusnya paham dan mengerti, berbulan-bulan aku bertahan. Aku menjadi separuh waras. Mendekati sakau. Dia tahu tetapi seperti setengah hati dan membiarkan aku menyerah pada waktunya. Dia tidak mampu menyakinkan aku seperti aku memperjuangkan dan mempertahankannya. Aku tidak akan menyesalkan apapun atas perlakuannya. Aku paham, aku yang teramat cinta padanya. Perasaan ini yang terlalu sulit ku patahkan, meski hatiku sudah dikalahkan. Dia tetaplah seseorang yang kucintai dengan sangat. Seseorang yang pernah mengalirkan air mata hangat. Mas Bintang tetaplah cintaku. Kesungguhan atas hidup yang ku rindu, meski terasa pilu saat mengingatnya.


"Maaf, Mas. Keputusan aku sudah bulat," jawabku.


Silakan jika takdir ingin mentertawakan aku karena kalah dalam memperjuangkan cinta yang ingin kumiliki. Aku menyerah, aku berhenti cukup sampai di sini. Pengkhianatan Mas Bintang telah membuatku sadar diri bahwa cinta yang ingin kuperjuangkan setengah mati akan berakhir dengan tangisan air mata.


"Aku tidak bisa bertahan, Mas. Aku menyerah," ucapku sekali lagi.


Ayah Langit dan Bunda Senja hanya terdiam. Beberapa kali Bunda Senja menyeka air matanya ketika mendengar penuturan ku yang ingin berpisah dari Mas Bintang. Aku yakin Bunda Senja paham karena dia pernah berada di posisiku. Bunda Senja sama sekali tdiak menahan kepergianmu, sebab hati yang telah di sakiti akan sulit untuk kembali kecuali orang itu telah mati rasa dan tak peduli dengan semua rasa sakit yang menampar dadanya.


"Tolong berikan aku satu kesempatan, Nara. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Mas Bintang mengenggam tangannya.


Seandainya dia menyadari perasaannya sebelum pengkhianatan Mbak Mona mungkin aku masih memberi satu kesempatan. Tetapi Mas Bintang akhirnya tahu jika dia mencintaiku setelah kehilangan wanita yang dia cintai. Lalu menjadikan aku sebagai pelampiasan cintanya yang tak terwujud. Meyakinkanku bahwa cintanya tulus dan setelah dia kembali membaik dengan membuatku kembali terluka, dia akan kembali pada cinta lama yang ingin dia dapatkan kembali.


Aku mengangkat tubuh Mas Bintang agar berdiri. Rasanya tidak nyaman ketika melihatnya berlutut seperti itu di kakiku. Ku seka air mata Mas Bintang dengan lembut. Jika boleh jujur aku masih sangat mencintai dan menyayangi suamiku. Namun, aku tak bisa melangkah setelah apa yang dia lakukan dengan melukaiku. Bahkan dengan terang-terangan Mas Bintang meminta aku pergi dan meninggalkan dia. Namun, aku malah bertahan dan berharap bisa membuat suamiku jatuh cinta. Satu hal yang seharusnya aku sadari bahwa perasaan memang tak bisa di paksa.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Aku percaya Mas akan bahagia tanpa aku. Sekarang, biarkan aku pergi dan mencari kebahagiaanku sendiri. Mungkin memang berpisah adalah jalan terbaik untuk masalah rumahtangga kita, Mas," ucapku mengusap pipinya. Jantungku masih sama tetap berdegup kencang ketika menyentuh pipi lembutnya. Ini bisa di katakan pertama kali aku menyentuhnya secara intim. Selama ini jangankan di sentuh melihatku saja dia enggan.


"Tapi_"


Aku meraba tasku dan sedikit menjauh.


"Ayah, Bunda. Nara pamit ya." Ku salami kedua mertuaku.


"Nak."


Bunda Senja memberikan pelukan hangat padaku. Bisa kurasakan air matanya yang menetes membasahi bahuku.


"Jaga diri baik-baik ya, Nak. Bunda sayang sama kamu," ucapnya mengecup keningku dengan sayang.


Andai saja waktu bisa di ulang kembali. Aku memilih tak ingin jatuh cinta pada Mas Bintang. Aku memilih menjadi orang asing di hatinya. Tetapi siapa yang bisa memilih jatuh cinta pada siapa karena hati itu akan tahu pada siapa dia harus menaruh rasanya.


"Ya sudah, Nara pamit ya."


Aku melenggang keluar dari rumah mertua. Air mata yang sedari ku tahan sekuat hati kini benar-benar menyeruak masuk dan menyiksa dalam dadaku. Aku masuk ke dalam mobil dan menangis dengan hebat.


Suamiku Mas Bintang, separuh jiwaku masihlah mengendap di sisa pelukku. Di sisa kecupan lembut yang pelan-pelan menghabisi ku. Dia tetaplah menjadi seseorang yang kukenal dengan kuat. Jangan menyerah menghadapi hidup. Kini kubiarkan dia berjalan menjauh. Namun, aku tak pernah benar-benar melepaskan jiwanya yang mengikat jiwaku. Dia tak pernah benar-benar bisa ku hapuskan dari ingatanku. Hanya saja, aku paham, aku memang harus belajar bahagia lagi. Aku harus mampu menenangkan kecemasan. Aku harus mampu belajar bahwa kenyataan kini sedang memporak-porandakan pertahanan yang ku bangun untuk mencintaiku.

__ADS_1


Sesak menyerang bagian dadaku, menghimpit di antara rongga hingga menciptakan sesak yang menelusup masuk ke dalam sana. Ku pukul dadaku berulang kali ketika pasokan udara dalam paru-paru serasa menipis.


"Argh!"


Aku berteriak beberapa kali memukul stir mobil. Mengingat semua yang Mas Bintang lakukan membuatku tak bisa menahan perceraian ini. Tidak, aku mencintainya tetapi aku tidak bisa bersamanya. Aku tidak bisa terus berada di sampingnya sedangkan dia masih memikirkan wanita lain. Dia mencintaiku karena kehilangan cintanya.


"Argh!"


Ternyata berteriak kencang di dalam mobil sedikit membuat sesak dalam dadaku perlahan hilang.


"Kamu tega, Mas. Kamu jahat. Aku benci sama kamu."


Setelah lama menangis, ku nyalakan mesin mobil dan meninggalkan kediaman rumah mertuaku yang sebentar lagi akan menjadi mantan mertua.


Sepanjang perjalanan aku masih menangis. Air mata murahan ini tak mau berhenti menetes. Seolah mewakili rasa sakit yang benar-benar menyiksa dada.


Cinta terbaik adalah ketika mampu melepaskan seseorang yang di cintai. Bukan karena tak mencintai tetapi bertahan tidak akan berujung pada saling mencintai. Aku akhirnya belajar melepaskan cinta yang perlahan takkan bisa kumiliki.


Deru mobil terdengar bersahutan dengan tangisan yang mengikis malam. Entah berapa lama aku di rumah mertuaku dari pagi sampai malam? Awalnya aku datang ke sini karena mencari suamiku semalam dia tidak pulang, tetapi siapa sangka bahwa kedatanganku juga menjelaskan rumah tangga kami yang takkan bisa menyatu.


"Mas Bintang. Aku tidak bisa bersamamu lebih lama. Aku melepaskanmu demi bahagiamu. Mulai saat ini biarkan aku pergi menjauh tanpa mengingat semua luka yang telah kamu turihkan di hatiku."

__ADS_1


Aku tetaplah wanita biasa yang jatuh cinta pada suamiku sendiri. Biarlah aku menjadi abu, Mas Bintang tetap menjadi api, berkali-kali membakar rinduku. Sekarat tetapi tak pernah mati.


Bersambung...


__ADS_2