
Aku memasukkan barang-barangku ke dalam koper. Setelah ini aku akan pulang ke rumah sebelum sidang perceraian aku dan Mas Bintang di pengadilan.
Aku terduduk sejenak, tanganku yang halus perlahan merengkuh figura dan kupandangi lekat-lekat foto tersebut. Aku menghela nafas mataku langsung berkaca-kaca, terlihat jelas semburat kehancuran dan kekecewaan yang menjelma menjadi kebencian. Titik-titik air mata bergulir dari kerling mataku yang indah. Foto pernikahan kami Bebe waktu yang lalu. Aku tampak bahagia dengan senyuman lebar serta gigi yang terlihat. Sedangkan suamiku Mas Bintang tanpa ekspresi dan tak ada senyum sama sekali di wajah tampannya. Harusnya sejak saat itu aku menyadari bahwa hubungan pernikahan kami takkan memiliki umur yang panjang.
"Terima kasih pernah hadir di kehidupanku, Mas. Maaf untuk banyak hal. Akhirnya aku menyerah pada cinta yang ingin kuperjuangkan. Terima kasih untuk enam bulan yang boleh kita lewati bersama. Maaf, aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu. Maaf, aku tidak bisa menyediakan cinta yang kamu perlukan. Mungkin perpisahan kita meninggalkan duka tetapi inilah jalan terbaik sebelum benar-benar terluka."
Kuletakan kembali figura itu ke atas nakas. Lalu kututup koper ini setelah memasukan beberapa barang penting yang akan aku bawa pulang kerumah Daddy dan Mama. Kuhela nafas panjang lalu menelisik ruangan kamar dengan ukuran cukup besar tersebut. Kamar ini telah menjadi saksi bisu tangis ku di malam hari dengan lampu temaram dan malam yang menenggelamkan.
Aku tersenyum kecut. Padahal dalam doa dan harapan yang masih tertinggal, aku ingin bersama Mas Bintang serta merajut mimpi dan asa tentang cinta kami berdua. Tetapi aku malah mengikari janji yang kubuat sendiri.
Aku menyeret koperku dan keluar dari kamar. Langkahku terhenti sejenak ketika tahu bahwa suamiku tak ingin mencari asisten rumah tangga hanya karena ingin menjadikan aku sebagai pembantu yang mengurus rumah dan keperluan suami.
"Nara."
Aku menoleh kearah suara yang memanggilku. Aku memaksakan senyum ketika suamiku berjalan dengan wajah sendu dan rapuhnya. Bohong, jika aku tak merasakan debaran saat bersama dengannya. Bohong, jika aku tak rindu dan ingin memilikinya. Semua perasaan itu ada tetapi aku langsung ditampar oleh kenyataan bahwa sebentar lagi kami akan menjadi mantan suami dan istri.
"Aku pamit, Mas," ucapku.
Mas Bintang berdiri tepat di depanku. Tubuhnya yang menjulang tinggi membuat aku harus menangkat kepala untuk menggapai wajahnya.
"Apakah tidak ada kemewahan untukku?" tanyanya masih menanyakan pertanyaan yang sama.
Bayangan beberapa belas tahun yang lalu terngiang di kepalaku. Di mana Papa meminta kesempatan kedua dari Mana agar tidak menceraikannya. Namun, saat itu tak ada kesempatan kedua dan pada akhirnya Papa dan Mama terpisah hingga maut yang tak bisa menyatukan mereka lagi.
__ADS_1
"Maaf, Mas." Aku memaksakan senyum.
Maaf untuk banyak hal jika aku terlihat egois dan tak mau memberikan suamiku kesempatan. Aku benar-benar tidak bisa melupakan rasa sakit yang telah di turihkan di hatiku.
"Nara...."
"Aku pamit, Mas. Jaga diri baik-baik."
Aku melenggang pergi meninggalkannya dengan menyeret koper yang ada di tanganku. Apa ada yang tahu jika hatiku hancur karena harus melepaskan cinta yang ingin aku miliki sepenuh hati dan jiwa ini? Apa ada yang tahu seberapa terhempas tubuhku hingga menjadi puing-puing kehancuran dalam sukma yang menjelma menjadi rasa sakit.
Mas Bintang mungkin sudah lupa hari-hari penting yang pernah kami lalui, walau hanya sekilas dalam haluanku. Nyatanya dia tak pernah benar-benar mau melewati hari panjang ketika masih berada di sisiku. Jalan-jalan yang pernah kami tempuh. Atas semua kenangan yang pernah membuat kami merasa benar-benar utuh. Namun, bagiku semua tetap sama. Semua kehilangan masih saja menjadi hal yang ingin aku miliki. Hal-hal yang tak pernah bisa lepas, meski baginya semua mungkin sudah kandas. Hari-hari ini masih saja berulang di kepalaku. Di tanggal-tanggal yang sama, di suasana pagi dan senja yang sama, di setiap embusan udara yang tak mampu membuat rindu mereda. Tepat di tanggal pernikahan kami, aku memutuskan berpisah dan memilih menjalani kehidupan masing-masing.
"Sudah, Kak?"
"Sudah," jawabku.
"Sini, Kak. Biar Naro yang masukkan kopernya," pinta Naro mengambil alih koper di tanganku dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Aku tersenyum hangat menutup luka yang menyayat. Adik-adik yang kusayangi menghargai aku sebagai sosok tertua yang harus mereka hargai dan hormati.
"Silakan masuk, Tuan Putri." Naro membuka pintu mobil agar aku masuk.
"Terima kasih adik," balasku lalu masuk.
__ADS_1
Aku menatap kosong kearah luar jendela mobil. Kepadatan kota Pontianak dengan debu yang menyebar membuat dadaku kembali sesak. Pergantian musim membuat daya tahan tubuhku seperti di uji. Apalagi dalam kondisi banyak pikiran seperti ini. Sebenarnya aku sedikit khawatir kalau pergantian musim akan membuat beberapa partikel dalam tubuhku tak mampu bekerja sama.
"Sudah jangan melamun terus. Nanti juga dapat pengantin," celetuk Naro sambil terkekeh.
Aku menghembuskan nafas kasar. Aku belum menceritakan masalah rumah tanggaku pada Daddy dan Mama. Namun, Tata yang memiliki mulut seperti baskom sudah mengadu sejak tahu aku dan Mas Bintang tak baik-baik saja. Apalagi ketika tahu kami akan bercerai. Alhasil Daddy meminta aku untuk pulang ke rumah.
"Bagaimana respon Daddy dan Mama?" tanyaku mengalihkan pembicaraan seraya melirik adikku.
"Kalau Mama terlihat syok. Kalau Daddy santai seperti biasa. Kakak tahu sendiri 'kan Daddy itu orangnya tenang? Makanya dia minta Kakak untuk pulang ke rumah sebelum sidang perceraian Kakak dan Mas Bintang," jelas Naro sambil menyetir.
Adikku yang satu ini sebenarnya sangat dingin dan sulit di ajak bicara tetapi jika bersamaku dia akan hangat dan lembut. Naro bisa di katakan pria dingin tak tersentuh, masalah wanita dia sangat selektif dan bahkan di usia 23 tahun dia belum pernah sama sekali pacaran. Bukan tak ada wanita yang mendekatinya, hanya saja dia seperti memasang tembok pemisah untuk wanita-wanita yang bukan pilihannya.
"Apa Mama sedih?" tanyaku lagi. Mama adalah sosok terpenting dalam hidupku. Aku tak sanggup melihatnya menangis.
"Iya, Kak. Mama sedih banget. Tapi Kakak tidak perlu khawatir, Mama paham kok sama apa yang Kakak rasakan," ucap Naro menenangkan.
"Kakak takut jadi beban pikiran Mama," ucapku dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, Kak. Kakak jangan lupa kalau Mama juga pernah mengalami apa yang Kakak rasakan," jelas Naro mengusap lenganku.
Aku melingkarkan tanganku di lengan kekar Naro serta merebahkan kepalaku di sana. Adikku ini memang dewasa sejak kecil, tatkala masukkannya lebih rasional dari pada masalahku.
"Kakak lelah, Naro."
__ADS_1
Bersambung...