
"Kalian saling kenal?" Pak Denny melihat ke arah kami berdua secara bergantian.
"Kenal, Pa."
"Kenal, Om."
Aku melayangkan tatapan permusuhan pada gadis ini. Gara-gara dia Fenny sampai salah paham, apalagi ucapannya yang asal keluar seperti kentut itu.
"Bagus dong kalau saling kenal," ucap Tante Lestari ikut menimpali sambil terkekeh.
"Ma, Pa, jangan bilang yang mau dijodohin sama Lea itu, om ini?" tunjuknya padaku.
"Saya bukan om kamu!" hardik ku. Kesabaranku benar-benar diuji, belum menikah saja dia sudah membuat darahku mendidih karena ucapannya.
"Shaka," tegur Mama menggeleng.
"Biasanya yang begini-begini nanti bakal bucin," celetuk Kak Tata menutup mulutnya menahan tawa.
"Dih, bucin darimana?" sarkasku.
"Sudah, sudah, jangan berdebat. Hai, Lea," sapa Daddy.
Kami semua duduk. Aku dan gadis ingusan itu saling tatap-tatapan permusuhan. Dia benar-benar membuat aku kesal setengah mati. Apalagi masih sempat-sempatnya dia menjulurkan lidahnya ke arahku dan mengejekku. Awas saja nanti, kalau sudah menikah aku akan menghukumnya.
"Begini, Den. Maksud kedatangan kami ke sini ingin melamar Lea menjadi istri dari putra bungsuku, Arshaka," ucap Daddy memulai obrolan.
"Kami menerima lamaran anakmu, Dan," jawab Pak Denny.
"Shaka, ayo cepat pasang cincinnya ke jari Lea!" perintah Daddy.
"Iya, Dad," jawabku terpaksa.
Aku mengambil benda berbentuk lingkaran itu dari tangan Kak Tata. Lalu melihat gadis yang tampak tersenyum tanpa dosa ini. Lihat saja nanti, kalau dia sudah menjadi istriku akan kubuat hidupnya menderita.
"Sini jari kamu!" Aku menarik tangannya sedikit kasar.
"Jangan kasar-kasar, Om. Belum nikah saja sudah KDRT," protesnya.
__ADS_1
"Pikiran kamu itu terlalu jauh, siapa juga yang mau nikah sama kamu," bisikku kesal. Kami berdua saling bisik-bisikan satu sama lain.
"Dih, tidak mau atau pura-pura tidak mau?" godanya.
"Jangan terlalu percaya diri kamu," ketusku.
"Lebih baik percaya diri daripada percaya kata orang," ujarnya tersenyum tanpa dosa.
Memasang cincin saja kami berdua masih sempat-sempatnya saling berdebat satu sama lain.
"Hem, nanti lagi berdebatnya kalau sudah nikah," sindir Tante Lestari.
Sontak saja kami melihat ke arah mereka yang melihat kami. Aku melepaskan tangan gadis itu setelah memasang cincin di jarinya. Begitu juga dengan dia. Entah bagaimana cincin dadakan tanpa diukur ini bisa pas di jari kami berdua.
"Maklum, Tante. Mereka sudah tidak sabar bertempur di atas ranjang," celetuk Kak Tata sambil tertawa lebar.
"Sayang!" Mas Rey menggelengkan kepalanya ke arah Kak Tata.
"Lah 'kan memang benar, Mas. Apalagi Shaka itu perjaka tua," ucap Kak Tata tersenyum mengejek ke arahku.
Jika saja bukan di rumah orang sudah pasti aku dan Kak Tata akan berdebat sejadi-jadinya. Dia benar-benar keterlaluan mempermalukan aku di depan calon mertua sendiri, tunggu! Calon mertua? Apa aku menerima gadis ini sebagai istriku? Oh tidak, tidak. Dia masih terlalu kecil, usianya 19 tahun jauh sekali bedanya dengan aku.
Kata Mama Lea anak bungsu dan aku juga anak bungsu. Jadi, pasti nanti kami berdua akan selalu rusuh setiap hari. Tak bisa kubayangkan bagaimana nanti perjalanan rumah tanggaku dengan gadis ini. Hah, rasanya aku ingin lompat dan berlari menghampiri Fenny sambil mengadu bahwa aku tidak mau menikah dengan gadis bau kencur ini.
"Jadi, bagaimana kalau kita percepat saja pernikahan mereka?" ujar Pak Denny. "Bulan depan Lea sudah lulus sekolah," sambungnya kemudian.
"Malah kalau bisa besok saja, Om," timpal Kak Tata ikut menyambung.
Aku memutar bola mataku malas. Aku melirik benda pipih itu, sejak tadi ponselku berdering untung saja suaranya tidak aku aktifkan. Fenny meneleponku, pasti dia panik karena biasanya di jam-jam seperti ini kami sibuk saling bertukar cerita lewat gawai tersebut. Ah, aku jadi merindukan kekasih berhijabku itu. Setelah ini aku harus menghubungi Fennny, beberapa menit saja tak mendengar suaranya, terasa sepi dan rindu seperti ada sesuatu yang hilang di dalam dadaku.
"Baiklah, bulan depan saja. Untuk persiapan pernikahan–"
"Biar Mama sama Jeng Ara saja, Pa," potong Tante Lestari.
"Boleh, Jeng," jawab Mama.
"Tata ikut, Tante. Kebetulan Tata sudah buatkan desain gaun penggantin yang cocok untuk Lea," sambung wanita bawel itu.
__ADS_1
Daddy dan Pak Denny tampak mengangguk setuju dengan para istri yang mau mempersiapkan pernikahan anak-anaknya. Aku pasrah, mau menolak juga percuma.
"Pa, tapi syaratnya." Gadis itu yang dari tadi diam sambil mengejekku kini angkat bicara.
"Kenapa, Sayang?" tanya Pak Denny menatap gadis itu dengan cinta dan penuh sayang.
"Pernikahannya tidak perlu mewah. Lea maunya pernikahan ini tidak banyak orang yang tahu apalagi teman-teman sekolah Lea. Soalnya 'kan Lea masih muda, lagian setelah ini Lea juga mau ikut test pramugari. Takut berpengaruh," jelas Lea.
Aku menatap gadis itu tajam. Harusnya aku yang berbicara seperti itu. Namun, kenapa malah dia? Tapi, idenya bagus juga dengan begini Fenny tidak perlu tahu pernikahanku dan aku bisa menyembunyikannya pada orang-orang kantor.
"Shaka setuju, Dad," sambungku ikut menimpali.
Terdengar helaan napas panjang dari mulut mereka semua. Kak Tata seperti mau protes, tetapi secepatnya ditegur oleh Mas Rey. Aku tahu keluarga besarku dan keluarga Lea keberatan dengan keputusan kami berdua. Namun, aku berharap mereka mengerti dengan kondisi saat ini. Aku sungguh-sungguh tak mencintai Lea. Dia masih terlalu muda dan sifatnya juga tidak dewasa.
"Baiklah. Tapi tolong persiapkan diri kalian!" ucap Pak Denny.
"Iya, Pa."
"Iya, Om," sahutku.
"Shaka, mulai sekarang jangan panggil Om lagi, kamu calon menantu Papa. Panggil papa saja," ujar Pak Denny mengusap bahuku.
"I-iya, Pa," jawabku canggung.
Setelah cara selesai dilanjutkan dengan makan-makan. Aku melirik ke arah Lea yang tampak sibuk dengan makanannya. Aku benar-benar salut dengan cara makannya, wanita aneh yang tidak menjaga image sama sekali di depan calon suaminya, wait! Calon suami? Ah tidak, kenapa aku malah mengatakan diriku calon suami dari gadis bau kencur itu? Walau kenyataannya aku memang calon suami dari Lea.
"Hei," bisikku.
"Kenapa sih, Om?" Kebetulan kami duduk berdua. "Ganggu Lea makan saja." Dia mencebik kesal.
"Ikut saya sebentar, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu!" ajakku.
"Bicara apa sih?" ujarnya malah melanjutkan makannya. Mulutnya yang penuh dengan makanan membuat wanita ini tampak imut dan juga menggemaskan.
"Ikut saja!" desakku.
"Bentar! Lea habisin dulu, sayang mubazir," ucapnya.
__ADS_1
Setelah lea menyelesaikan makannya. Kami berdua meminta waktu untuk berbicara di taman rumahnya. Gadis itu tampak menghentakkan kakinya kesal. Tanpa sadar sudut bibirku terangkat, kenapa gadis ini terlihat lucu? Ck, tidak, aku tidak boleh terpesona padanya. Bisa naik bulu wanita ini nantinya.
"Om mau bicara apa sih sama Lea?