Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Hukum Pidana.


__ADS_3

Salah satu kejahatan yang acap dialami oleh kaum perempuan adalah kejahatan asusila. Dari sekian banyak kejahatan asusila yang sering menjadikan kaum perempuan sebagai korbannya, yakni kejahatan perkosaan. Era kontemporer ini, tindak pidana perkosaan merupakan kejahatan yang cukup mendapat atensi di kalangan masyarakat. Sering di surat kabar atau majalah diberitakan terjadi tindak pidana perkosaan.


Jika mempelajari sejarah, sebenarnya jenis tindak pidana ini sudah ada sejak dulu, atau dapat dikatakan sebagai suatu konfigurasi kejahatan klasik yang akan selalu mengikuti perkembangan manusia kebudayaan itu sendiri. Ia ada dan berkembang setiap saat walaupun mungkin tidak terlalu berbeda jauh dengan sebelumnya. Di sisi lain, tindak pidana perkosaan ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar yang relatif lebih maju kebudayaan, kesadaran atau pengetahuan hukumnya tetapi juga terjadi di pedesaan yang relatif masih memegang nilai tradisi dan adat istiadat.


Kalau ditarik lebih jauh, perempuan rawan menjadi korban kejahatan perkosaan, salah satu anasirnya karena kedudukannya yang lemah. Hal ini berarti pula bahwasanya tindak pidana perkosaan adalah salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang merupakan contoh kerentanan posisi perempuan, aksentuasinya terhadap kepentingan seksual laki-laki. Citra seksi perempuan yang ditempatkan sebagai obyek seksi laki-laki, ternyata berimplikasi jauh pada kehidupan perempuan, sehingga dia terpaksa harus selalu menghadapi kekerasan, pemaksaan dan penyiksaan fisik serta psikologis.


Berbagai penelitian di seluruh belahan dunia menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan sesuatu yang mengerikan bagi perempuan itu sendiri, dan merupakan menyebabkan kerugian fisik serta kesehatan reproduksi perempuan.Perhatian dan perlindungan terhadap kepentingan korban tindak pidana perkosaan, baik melalui proses pidana pidana maupun melalui sarana kepedulian sosial tertentu merupakan bagian mutlak yang perlu dipertimbangkan dalam kebijakan hukum pidana dan kebijakan-kebijakan sosial, baik oleh lembaga legislatif, eksekutif, yudisial, maupun oleh lembaga-lembaga sosial yang ada.


Berdasarkan tujuan untuk mewujudkan pemerataan keadilan dan kesejahteraan umum, maka hak korban tindak pidana perkosaan untuk dilindungi pada dasarnya merupakan bagian integral dari hak asasi di bidang jaminan sosial.


Setiap Orang yang dengan Kekerasan atau Ancaman Kekerasan memaksa seseorang bersetubuh dengannya dipidana karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.


Begitulah jenis-jenis hukuman dari tindakan pemerkosaan yang di baca oleh hakim.


Hari ini adalah persidangan antara Ikmal dan kasus pemerkosaan terhadap adikku, Bee. Aku menatap benci Ikmal yang duduk di kursi sidang. Lelaki itu tak dapat berkutik, sedangkan Mona di bebaskan dengan alasan mengurus bayinya yang masih kecil.


Aku tersenyum licik ketika melihat Ikmal akan mendekam di penjara. Walau dnshan begitu takkan bisa mengubah kehidupan Bee seperti semula. Dia telah kehilangan mahkotanya dan harus menerima malu seumur hidup. Hanya saja aku bersyukur dari pihak keluarga tidak ada yang mengintrogasi Bee secara berlebihan. Kami menerima dengan lapang dada Bee yang hamil tanpa seorang suami. Mau menyesal pun sudah terjadi.


Bunda dan Bee saling berpelukan satu sama lain di bangku belakang. Ada Daddy Dante dan Mama Ara serta Nara juga di sana. Walau aku dan Nara sudah menjadi orang asing tetapi hubungan keluarga kami tetap baik.


Aku menghampiri adikku dan berjongkok menyamakan tinggiku dengan Bee yang duduk di bangku. Jiwa adikku ini terguncang akibat pemerkosaan tersebut. Kasihan sekali, tetapi apa yang bisa aku buat.


"Bee."


"Mas."


Bee memelukku sambil menangis terisak. Aku menyesal karena memarahinya saat pertama kali tahu jika dia hamil tanpa mendengar penjelasan Bee.


"Mas, Bee takut. Bee takut," ucapnya berulang kali.

__ADS_1


Kakak mana yang takkan sakit jika melihat adiknya di perlakukan bak manusia tak berharga. Untung saja Ayah dan Om Fajar menahanku, jika tidak. Mungkin nasib Ikmal sudah tak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Aku akan membunuh Ikmal dan mengeluarkan usus-usus perutnya, agar dia merasakan seperti yang dirasakan oleh adikku Bee.


"Semua akan baik-baik saja. Kamu jangan takut, ya. Ada Mas di sini," ucapku berusaha menenangkan Bee.


Kami hanya berdua saja. Tidak ada saudara lain, adapun hanya sepupu. Akulah yang akan menjadi penjaga Bee.


Sekarang, aku paham. Melihat Bee yang di sakiti dan di perlakukan secara tak berharga. Membuatku teringat pada Nara yang juga pernah ku perlakukan seperti itu. Aku sekarang paham, rasa sakit di hati Nara.


"Tapi bagaimana dengan anak Bee?"


Aku melepaskan pelukan adikku. Dia sangat berharga untukku. Aku tak dapat ungkapkan bagaimana rasa sayangku pada adikku ini.


"Ada Mas yang akan bantu kamu menjaga anak itu. Ada Ayah dan Bunda juga. Jadi kamu tidak sendirian." Kukecup kening adikku dengan sayang.


Bee mengganguk sambil menyeka air matanya. Sungguh air mata adikku seperti menyiksa jiwa dan ragaku. Aku tak sanggup melihatnya menangis dan mengeluarkan air mata seperti ini. Aku berharap, setelah ini dia akan bahagia. Walau sebenarnya aku tahu Bee tak baik-baik saja.


"Kak Nara," panggil Bee.


"Hai, Bee," sapanya berjongkok.


Setiap kali melihat wajah Nara, perasaan bersalah itu kian menyeruak masuk. Andai waktu bisa di putar kembali, aku ingin sekali menjaga wanita ini sepenuh jiwa dan ragaku. Tetapi sepertinya dengan cara apapun aku mengungkapkan sebuah penyesalan takkan mengubah keadaan.


"Kakak."


Bee berhambur memeluk Nara. Dia menangis lagi untuk uang kesekian kalinya.


"Kamu yang kuat ya," ucap Nara mengusap bahu Bee.


"Kak," renggek Bee.

__ADS_1


Mantan istriku melepaskan pelukan Bee dan tersenyum hangat. Aku kadang salut melihat wanita yang pernah ku sakiti ini, sesakit apapun hatinya dia tetap tersenyum. Aku tahu Nara tak baik-baik saja dengan hubungannya dan Rimba karena aku melihat sendiri bagaimana Rimba marah saat Nara berbicara denganku kemarin.


"Bee malu, Kak," ucap Bee mengungkapkan isi hatinya.


Nara menggeleng, "Jangan malu. Kamu tidak salah. Inilah jalan takdir yang harus kamu lewati. Kakak yakin kamu bisa," ucap Nara.


"Terima kasih, Kak."


Setelah persidangan selesai, kami meninggalkan kantor kepolisian. Bee memang terlihat belum pulih dari traumanya.


"Kamu sama siapa?" tanyaku pada Nara.


"Aku menunggu Naro, Mas," jawab Nara.


"Sama aku saja. Biar aku antar. Lagian setelah ini Daddy sama Mama mau ke rumah," ajakku.


Besok aku dan keluarga besarku akan pindah ke Singkawang. Entah berapa lama kami akan ke sana yang pasti untuk kembali ke Pontianak mungkin jika ada kepentingan saja. Sementara rumah sakit, aku percayakan pada Rino, sahabat dekatku.


"Apa merepotkan, Mas?" tanyanya.


"Sama sekali tidak," sahutku.


Nara tampak takut-takut karena Rimba sangat posesif padanya. Sepertinya Rimba takut jika Nara kembali ke dalam pelukanku.


"Iya, Mas."


Kami berdua masuk ke dalam mobil. Di mobil tak ada percakapan, Nara diam tanpa berbicara apapun. Dia menatap kosong kearah jendela kaca mobil.


"Kamu baik?" Aku meliriknya sekilas.

__ADS_1


"I'm not okay."


Bersambung....


__ADS_2