Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Penyesalan tiada akhir


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Galvin POV


"Maafkan Papa, Nak," ucap ku memeluk Nara sambil terisak.


"Papa, jangan pergi lagi. Nara sayang Papa," sahut Nara menangis segugukan dipelukkan ku.


Kini aku menyadari segala hal dalam hidupku. Betapa aku bodoh telah meninggalkan Ara dan anak-anak hanya demi obsesi ku semata. Jika boleh kembali ke masa lalu, aku tidak akan melakukan kesalahan tersebut. Aku akan menjaga mereka. Aku akan membuat mereka bahagia.


Nara, putri kecilku. Begitu teganya aku membuatnya seperti ini. Ketika aku tahu bahwa Ibu dan Lusia yang telah menyuruh seseorang untuk menabrak Nara dan Naro, aku sempat marah. Namun tak bisa berbuat apa-apa, karena jujur aku masih marah pada Ara yang menceraikan ku tanpa menunggu persetujuan dariku. Tetapi sekarang aku sadar bahwa aku bukan Papa yang baik untuk Nara dan Naro, aku telah melukai hati mereka.


Nara, putri kecilku. Kini terduduk dikursi roda dengan kondisi kaki yang tak bisa berjalan seperti biasa. Hatiku benar-benar sakit saat melihat Nara-ku seperti ini. Bisakah waktu diulang kembali?


"Papa jangan tinggalkan Nara lagi. Ayo Pa pulang kerumah, kita tinggal sama Mama," ajak Nara sambil menyeka air matanya dengan kasar.


Air mataku luruh, tak kuasa menahan sakit yang menghantam bagian dadaku. Ini bukan salah orang lain, tetapi kebodohan ku sendiri yang termakan rayuan Ibu dan Lusia yang sejak awal tak menyukai Ara.


"Maafkan Papa, Nara. Papa tidak bisa tinggal bersama kalian lagi," sahutku mengusap pipi lembut anak perempuan ku ini.


20 tahun yang akan datang aku akan tinggal disini dengan waktu yang panjang tersebut. Mungkin ketika aku keluar, Nara dan Naro telah tumbuh menjadi anak-anak yang dewasa. Saat itulah, aku akan menjadi insan terlupakan. Seorang ayah yang bodoh dan gagal dalam mendidik anak-anak nya.


"Kenapa, Pa?" renggek Nara.


"Papa tinggal disini, Nak. Papa tidak bisa pulang lagi kerumah kita. Ini lah rumah Papa," jawabku tersenyum getir. Ya sekarang ini adalah rumahku. Tempat yang akan aku tinggalin selama 20 tahun kedepan.

__ADS_1


Tangis Nara semakin pecah ketika mendengar penjelasan ku. Ingin rasanya ku hentikan tangisan putri kecilku. Sungguh aku tak sanggup melihat air mata yang terjatuh dipipi manis nya, apalagi ini semua karena ulahku sendiri. Aku yang telah menyebabkan air mata luruh dipipinya.


"Papa," renggek Nara.


Aku menoleh pada Ara dan Naro yang sedari tadi diam, tanpa peduli pada aku dan Nara yang saling bertangsian.


"Naro," panggilku pada putra bungsuku itu.


Naro tampak diam saja sambil memegang lengan Ara. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia seperti tak peduli pada panggilan ku. Sejak dulu, aku dan Naro bagai musuh. Kami tak dekat, bahkan hanya untuk sekedar bermain layaknya ayah dan anak, kami tidak pernah lakukan hal tersebut.


"Maafkan Papa, Son," ucapku menatap Naro dalam.


Naro tetap diam, ekspresi wajahnya sama dengan Ara. Mereka berdua seperti tak mendengar ucapan ku. Apakah aku sangat buruk di mata mereka? Kenapa mereka sama sekali tak mau melihat ku disini?


"Papa menyesal karena sudah melakukan semua ini," ujar ku lagi. "Papa menyanyangi mu, Nak," tutur ku


"Untuk apa Papa menyesal? Papa sudah menyakiti hati Mama ku! Apa penyesalan Papa bisa membuat hati Mama sembuh?" tanya Naro, suaranya terdengar dingin dan tak bersahabat dengan ku.


Ara hanya diam, tatapannya kosong kedepan. Sejak kami berpisah sifat lembut nan ramah itu tak lagi kulihat.


"Hiks hiks, Papa menyesal Naro." Aku tersungkur didepan Naro sambil berlutut dikakinya. Aku hanya ingin Naro memaafkan ku.


"Ma, ayo kita pulang," ajak Naro menggandeng tangan Ara.


"Ra," ucapku lirih. "Maafkan Mas, Ra. Maafkan Mas."


"Nara ayo, Sayang. Kita pulang ya," ajak Ara tanpa peduli padaku.


"Ra, Mas mohon maafkan Mas. Berikan Mas kesempatan untuk memperbaiki kesalahan Mas pada kalian," ucapku memohon sambil memeluk kaki Ara berharap hatinya akan luruh.

__ADS_1


"Mas." Ara terlihat menghela nafas panjang. "Kembalilah ke tempat mu, Mas. Dihatiku tidak ada kamu lagi. Kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Kamu juga yang menciptakan luka di hati ini. Jangan pernah menyesali apa yang sudah kamu putuskan. Perasaan sakit yang dulu tertahan kini mulai sembuh, jadi aku mohon jangan ganggu aku lagi, Mas. Aku dan anak-anak sudah hidup bahagia," ucap Ara.


"Ayo Sayang," ajak Ara


Mereka melenggang pergi meninggalkan aku yang masih tersungkur dilantai sambil menangis hebat. Beginikah rasanya patah hati yang sesungguhnya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menjalani hidup setelah ini?


"Ayo Pak."


Dua orang polisi mengangkat tubuh ku agar masuk kembali ke dalam jeruji besi itu. Aku tak dapat memberontak, apalagi menolak. Bukankah sekarang aku tinggal disini?


Rekaman kenangan kami bersama seolah terngiang kembali di kepalaku. Dulu, kami hidup bahagia dan saling menyayangi satu sama lain. Ara wanita mandiri dan keras, tetapi aku suka dengan sikapnya yang tegas. Aku sungguh mencintainya. Namun, entah bagaimana aku dengan tega menyakiti hatinya? Entah bagaimana aku membiarkan Lusia masuk kedalam pernikahan kami? Aku paham perasaan kecewa dan marah di hati Ara. Dia rela meninggalkan keluarga nya demi hidup bersama ku. Namun, aku malah membuatnya seperti salah memilih pasangan.


"Ara," teriakku


Aku duduk meringgis dengan segala penyesalan yang menyeruak didalam dada. Pikirku, apakah setelah ini lebih baik aku mati saja? Tidak ada harapan untuk aku berjuang untuk tetap hidup, toh menunggu 20 tahun yang sangat lama itu bukan waktu yang singkat. Aku akan kehilangan segala hal yang baik dalam hidupku. Aku kehilangan segalanya, Ara dan anak-anak.


"Hiks hiks hiks hiks."


Aku tahu menyesal tidak akan mengembalikan yang pergi datang lagi, yang hilang datang kembali. Semua nya telah berlalu bersama waktu yang menerkam dada ini.


"Maafkan Mas, Ara. Maafkan Mas."


Mungkin sejuta kata maaf aku ucapkan tidak akan mengobati segala luka yang bersemayam di hati Ara dan anak-anak. Semua percuma. Semua tak ada guna nya. Tetapi kenapa hanya kata maaf yang kini keluar dari bibirku. Sungguh, aku benar-benar tak sanggup hidup seperti ini. Aku ingin menyerah menjalani takdir yang telah ku pilih.


"Seandainya aku tidak menduakan mu, kita pasti masih bersama hingga kini," ucapku dalam penyesalan.


Penyesalan yang teramat sangat, kini telah membuat lobang disebagian hatiku. Sebenarnya aku telah melukai hatiku sendiri dengan cara menjijikan seperti ini. Aku tahu menangis takkan membuat semua masalah ku selesai, tetapi kenapa dengan menangis aku dapat merasakan kelonggaran dalam dadaku.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2