Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Kepergian Galvin.


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Ternyata belum siap aku kehilangan dirimu. Belum sanggup untuk jauh dari mu, yang masih selalu ada dalam hatiku. Tuhan tolong mampukan aku tuk lupakan dirinya, semua cerita tentang nya yang membuatku selalu teringat akan cinta yang dulu hidup kan ku (Stevan Pasaribuan)


Perpisahan abadi adalah kematian. Tak peduli sehebat apa jabatan yang kau punya, sebanyak apa uang yang ada. Tak ada satu manusia pun yang bisa menghindari kematian. Tak peduli seberapa keras kau menolaknya, ia akan tetap menghampiri orang yang kau sayangi. Mengambil nya dengan paksa, mengikis nya begitu saja. Tak peduli seberapa hebat kau terluka, seberapa lama kau menangis, jika Tuhan sudah mengambil hakNya apapun yang kau lakukan dan katakan semua akan sia-sia.


Kau tahu bagaimana yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan adalah berpisah karena kematian. Ada partikel-partikel kepatahatian yang tak bisa dijelaskan lewat kata ungkapan atau tulisan. Hal tersebut bisa meremukkan seluruh jiwa dan raga.


Ku tatap tubuh kaku yang sudah di pakaikan jas dan dasi tersebut. Wajah pucat tanpa darah. Dia seperti tidur dan tanpa merasakan sakit.


"Papa," teriak Naro.


Sementara Nara masih belum sadarkan diri dari pengaruh obat bius. Apalagi sebelum nya kondisi Nara memang sudah kritis.


"Papa jangan tinggalkan Naro, Pa. Papa bangun," panggil Naro.


Dibalik wajah dingin tanpa ekspresi tersebut, aku tahu bahwa Naro sangat menyanyangi Papa-nya walau hubungan mereka tak pernah baik sebelum nya.


Mas Galvin sudah di masukkan kedalam peti. Sekarang sedang ibadah sesi pemakaman yang di pimpin oleh seorang pendeta. Suasana haru biru terdengar menggema. Ada mantan ibu Mertua dan juga Lusia yang masih memakai baju tahanan. Keluarga besar turut hadir. Apalagi Mas Galvin adalah salah satu anggota keluarga yang begitu di hargai.


"Mas Galvin," teriak Lusia.


"Galvin," teriak mantan ibu mertua.


Jika semua orang menangis histeris saat kepergian Mas Galvin, aku justru terdiam seperti patung hidup. Bukan aku tak histeris tetapi sudah lelah menangis. Jiwa ku di hantam hebat oleh kenyataan yang menjadikan semua nya terasa hampa.


Apa ada yang tahu betapa aku hancur saat ini? Dunia ku gelap tak menemukan sedikit pun terang.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kamu Ara. Kamu egois," teriak mantan ibu mertua padaku.


"Dasar perempuan pembawa sial!" hardik Gisel, adik nya Mas Galvin.


"Ini yang kamu inginkan 'kan Ara? Kamu mencoba balas dendam dengan cara seperti ini," sentak Lusia juga.


Semua tuduhan kebencian dari keluarga mantan suamiku seperti nya tertuju padaku. Termasuk mantan ayah mertua yang dulu nya selalu tegas hangat, kini dingin bak kulkas. Bahkan dia enggan melihat ku.


Apa ini salahku? Aku juga tidak ingin ini terjadi, jika bisa biar aku saja yang mendonorkan jantungku untuk Nara. Tetapi takdir malah berkehendak lain.


Aku diam saja, tak memberikan komentar apapun. Tuduhan itu ku anggap angin lewat. Walau perasaan ku terhadap Mas Galvin sudah tidak ada lagi, tetapi rasa kehilangan ini membuatku hancur.


"Perempuan pembawa sial." Lusia menarik rambutku dengan kasar.


Aku yang tadi nya diam sontak saja tersungkur ditanah.


"Ara."


Mantan mertua dan Lusia memberontak tidak mau kehilangan Mas Galvin. Mereka dibawa kembali ke kantor polisi karena menciptakan keributan.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Pak Dante lembut.


Aku mengangguk dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku tak pernah baik-baik saja. Aku sudah tahu bahwa semua tuduhan itu akan disematkan padaku.


"Ayah kecewa sama kamu, Ara. Kamu tega mengorbankan Galvin demi kepentingan kamu sendiri," ucap mantan ayah mertua.


Aku memejamkan mataku sejenak. Meresapi rasa sakit yang mengendap masuk kedalam sana. Apa aku yang meminta Maaf Galvin mendonorkan jantungnya untuk Nara? Aku bahkan menolak dengan keras, tetapi Mas Galvin bersikeras melakukan nya sebagai bukti cinta nya pada Nara.


"Maaf Ayah," ucap ku lirih dan pelan.


Kenapa semua orang menyalahkan aku? Apa mereka tahu bagaimana sulitnya berada diposisi ku saat ini? Memilih antara dua nyawa yang sama-sama berarti bagiku. Tetapi tetap saja aku bukan Tuhan yang bisa mengubah takdir.

__ADS_1


"Sudah jangan didengarkan. Semua bukan salah kamu," ucap Ayah.


Suasana pemakaman semakin ramai. Bersamaan dengan peti Mas Galvin yang di masukkan kedalam tanah, begitu juga tangisku pecah. Tak kusangka cinta ku berakhir untuk selamanya. Beginikah rasanya kehilangan? Beginikah rasanya mengikhlaskan kepergian seseorang yang pernah ada di dalam hidup.


"Mas Galvin," panggilku.


'Selamat jalan cinta, selamat berpisah untuk selamanya. Terima kasih untuk sebelas tahun yang boleh kita lewati bersama. Aku tak pernah menyangka jika cinta kita berakhir seperti ini. Terima kasih untuk pengorbanan mu untuk anak kita, Nara. Aku berjanji akan menjadi ayah dan ibu untuk mereka berdua. Maaf untuk banyak hal. Maaf karena segala hal. Aku pernah begitu membenci mu, tetapi sekarang aku sadar bahwa ketulusan mu telah membuat hatiku kembali luluh. Semoga bertemu di kehidupan kedua nanti. Jika diberikan satu kesempatan aku ingin menjadi istrimu lagi, Mas."


.


.


Ku tatap Nara yang masih terpejam. Andai Nara terbangun dan tahu bahwa Papa yang begitu dia cintai telah pergi meninggalkan bumi. Tak bisa ku bayangkan bagaimana reaksi nya. Aku tahu betapa putri kecil ku ini mencintai Papa-nya. Tetapi apa boleh buat jika takdir saja tak mengizinkan hidup bersama lebih lama.


"Nara, maafkan Mama, Sayang. Kamu harus kehilangan kebahagiaan di masa kecil. Cepat sembuh, Nak."


Ku kecup kening Nara dengan sayang. Aku sangat menyayangi anak ku lebih dari apapun, tetapi aku tak bisa menyediakan kebahagiaan yang mereka inginkan.


Jujur perasaan bersalah kini menyeruak masuk kedalam dadaku.


Ku genggam tangan Nara seraya membenamkan wajahku disana. Aku, aku gagal menjadi seorang ibu dan istri.


"Hiks hiks hiks hiks."


Seandainya aku bisa dilahirkan kembali, aku tak ingin ada disini. Aku tak ingin berada diposisi sulit ini. Aku ingin hidup bahagia seperti wanita lainnya.


"Papa akan abadi dihati kamu selamanya, Nak. Tumbulah menjadi wanita yang kuat. Mama yakin kamu bisa melewati ini semua."


Di keheningan malam, aku menangis dalam sujud ku. Raung dan erangan ketidakberdayaan seolah menjadi saksi betapa aku hancur saat ini. Adakah cahaya terang yang bisa membawa aku pergi menjauh dari hidup yang sama sekali tak kuinginkan ini? Jika bisa, aku ingin pergi saja agar semua rasa sakit ini hilang bersama waktu.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote guys..


__ADS_2