Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Keluarga.


__ADS_3

"Nara."


Mama menyambutku dan berhambur memeluk tubuhku yang memang sangat butuh kehangatan dari pelukan seseorang.


"Ma."


Aku menangis dalam pelukan Mama meluapkan semua rasa sakit yang menyeruak masuk dan menusuk sangat dalam.


Kadang aku ingin tertawa sekencangnya. Menatap takdir dan menyakini semua ini sedang bercanda. Aku benar-benar tidak percaya, jika akhirnya aku menyerah. Bagaimana mungkin takdir yang menabur janji, kini ia cabut sendiri. Mas Bintang seperti orang yang tidak mengenalku. Dia biarkan aku tertinggal dengan perasaan yang dia tanggalkan. Katanya, menyerah lah sampai kapanpun aku takkan bisa membuka hati untukmu! Hati yang tak bisa bersamanya. Dan bagian tersakiti dari semua itu saat dia katakan hal-hal yang kini masih melekat dalam relung hatiku.


Selama ini setengah mati aku memperjuangkannya. Meyakinkannya bahwa cinta yang aku miliki adalah benar adanya. Membuat dia mencintaiku dengan berbagai cara tetapi tetap saja akhirnya akulah petarung yang kalah.


"Mama, hiks hiks hiks."


Tangis ku pecah. Ku peluk Mama sekuat dan seerat mungkin. Ku luapkan semua emosi, kemarahan dan kecewa yang terasa mencekik dada dan leher. Rasanya aku ingin mati setelah puas menangis di pelukan Mama.


"Mama."


Tak peduli dengan perasaan malu atau gengsi karena aku sudah dewasa. Bagiku, Mama adalah tempat ternyaman untuk pulang. Walau seluruh dunia menghakimi dengan pendapat mereka tetapi Mama selalu meyakinkan aku bahwa semua akan baik-baik saja.


"Menangislah, Nak."


Hancur lebur, semua menjadi kepingan luka yang takkan bisa kembali menyatu seperti sediakala.


"Mama, Nara..."


Suaraku sampai serak dan tak jelas. Ini pertama kalinya aku menangis dengan hebat tanpa peduli pada keadaan sekitarku.


Daddy, Naro, Tata dan Shaka menyaksikan tangisku seperti anak kecil, tetapi apakah aku peduli? Aku sama sekali tak peduli. Menangis memang tidak menyelesaikan masalah tetapi menangis dapat memberi kelonggaran dalam dada.

__ADS_1


Kini semua telah berbeda dari yang pernah aku sebut sebagai rencana. Mas Bintang memilih jalan dengan menyakitiku, sementara aku menikmati tikaman-tikaman tajam yang menyeruak masuk ke dalam dada. Kubiarkan dia menjauh, sebab apalah artinya mempertahankan seseorang yang slalu membuat rapuh. Aku belajar pada kenyataan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku mencari cara untuk memahami apa yang terjadi. Dia memang tak pernah sepenuh hati tetapi aku terbawa hati.


"Sayang."


Mama melepaskan pelukanku lalu menyeka dan mengusap air mataku.


"Nara yang kuat ya, Sayang. Nara 'kan anak Mama yang paling cantik," ucap Mama menguatkan ku.


Sejak kecil hidupku memang selalu dalam kesengsaraan. Aku dan Naro pernah mengalami kecelakaan akibat kecelakaan itu hingga menyebabkan aku mengalami kelumpuhan di kedua kakiku. Tak hanya sampai di situ, aku juga harus menerima penceraian antara Papa dan Mama. Aku belum paham apa itu arti perpisahan tetapi waktu itu aku menolak karena aku begitu dekat dengan Papa. Satu hal, aku di vonis menderita gagal jantung oleh dokter dan harus mendapat donor jantung agar aku bisa bertahan hidup lebih lama. Setelahnya aku harus kehilangan Papa untuk selamanya agar aku bisa hidup dan menikmati janji-janji yang ingin dia tepati.


"Mama," rengekku.


Mama tersenyum sembari mengusap kepalaku. Sentuhan hangat dan nyaman ini benar-benar membuatku nyaman.


"Maafkan Mama ya, Nak. Kalau saja Mama tidak memaksa kamu menikah dengan Bintang, kamu pasti tidak akan mengalami hal seperti ini," ucap Mama merasa bersalah.


"Ayo, Nak. Duduk dulu," ajak Daddy.


Mama memapahku duduk di sofa dan di ikuti oleh ketiga adikku. Tampak Tata juga menangis melihat kesedihanku begitu juga dengan Shaka. Sedangkan Naro diam dengan wajah datar tanpa ekspresi entah apa yang di pikirkan.


"Kakak minum dulu." Tata memberikan segelas air putih padaku.


"Terima kasih, Ta." Aku menyambut gelas itu dari tangan Tata dan menunggak air tersebut hingga tandas.


Kuhela nafas sepanjang mungkin sambil menteralisir emosi yang seketika hendak meledak di dalam sana. Semua hanya perkara akan penerimaan. Berbulan sedih yang telah ku sudahi. Langkah-langkah yang sempat terhenti. Tangis yang pecah berhari-hari. Semua keadaan yang tak dapat ku percaya akhirnya terjadi. Dari kesemua yang berlalu dan kini di sebut masa lalu. Aku mencoba menjadikan pelajaran untuk hidup yang tak akan berhenti sebab patah hati. Jalan-jalan akan semakin panjang.


"Pelan-pelan ceritanya," ucap Mama lembut. Suara ayu nan lembut itu berhasil menenangkan hati dan jiwaku.


"Mama." Ku gengam tangan Mama dengan erat. "Maafkan Nara ya, Ma. Nara belum bisa buat Mama bahagia. Nara tidak bisa bertahan, Ma," ungkapku.

__ADS_1


Mama menggeleng, "Mama yang harus minta maaf karena Mama yang minta kamu menikah dengan Bintang," sahut Mama. "Nara sudah buat Mama bahagia. Jadi Nara tidak perlu merasa bersalah," ucap Mama lagi.


Betapa beruntungnya aku memiliki orang tua yang selalu mendukungku dalam segala hal. Daddy, walau bukan ayah kandung tetapi menyayangiku dengan tulus. Tata yang juga bukan adik kandungku juga mendukungku dengan baik.


"Nara tidak bisa bertahan, Ma. Mas Bintang bukan laki-laki yang tepat buat Nara," ungkapku.


Mama menarik ku kembali ke dalam pelukannya. Tangannya terulur mengusap punggungku yang rapuh.


"Ini hanya masalah waktu, Nak. Mama yakin suatu saat nanti kamu akan menemukan kebahagiaan yang lain. Alan ada laki-laki yang sayang dan tulus mencintai kamu apa adanya," ucap Mama lagi.


Entahlah, aku tidak tahu apakah masih bisa jatuh cinta setelah ini? Bahkan saat Kak Rimba mengatakan mencintaiku, aku belum bisa memberikan jawaban atas ungkapan perasaannya tersebut, sebab aku tak tahu apakah aku bisa jatuh cinta untuk kesekian kali setelah di patahkan dan di hancurkan oleh cinta yang ingin aku miliki dengan sangat.


"Nara, kamu sebaiknya istirahat dulu. Nanti Daddy akan bicarakan dengan Ayah Langit," ucap Daddy.


Aku mengangguk, "Iya Dad," sahutku.


"Ayo, Kak. Biar Tata bantu ke kamar," tawar Tata. Aku dan Tata sangat dekat, layaknya kakak dan adik kandung.


"Terima kasih, Ta," sahutku.


Tata membantu aku masuk ke dalam kamar. Rasanya tubuhku lemah dan bagai tak bertenaga. Seluruh aliran dalam darahku mendesis dan saling menghimpit satu sama lain.


"Kakak istirahat ya," ucap Tata memapahku duduk di bibir ranjang.


"Ta." Aku menatap adikku. Aku berharap kelak Tata takkan mendapatkan apa yang aku rasakan saat ini.


"Iya, Kak?" Tata juga membalas tatapanku. "Apa ada yang ingin Kakak katakan pada Tata?" tanya Tata lembut. Adikku ini memang cerewet dan berisik tetapi dia tempat ternyaman untuk aku bercerita tentang masalahku.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2