Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 08.


__ADS_3

Anggi berjalan kearahku dengan mulut komat-kamit seperti dukun baca mantra. Entah, apa yang dia bicarakan dengan Kak Naro dan Kak Sherly.


"Kenapa, Nggi?" tanyaku dengan mengerutkan kening.


"Itu, Kak. Masa Kak Naro bilang kalau wanita itu hanya teman saja. Mana ada teman main peluk-pelukan segala," omel Anggi dengan napas naik turun sambil mencebik kesal.


"Sudahlah biarkan saja," sahutku.


"Kakak tidak cemburu?" Anggi menatapku penuh curiga.


Mustahil bila aku tak cemburu, aku sangat cemburu malah. Namun, apa yang bisa aku lakukan jika suamiku memang menginginkan ini semua.


"Cemburu! Tapi Kakak percaya itu temannya," jawabku asal. Tidak mungkin aku menceritakan keretakan rumah tangga kami pada Anggi.


"Iya sudah ayo, Kak. Setelah ini kita ke tempat Kak Nara sebentar ya. Aku mau kasih ini sama Baby Angkasa," ucap Anggi memarkan paper bag di tangannya padaku.


"Iya," jawabku.


Kami berdua masuk ke dalam mobil taksi yang sudah di pesan Anggi sejak tadi. Aku terdiam sejenak ketika merasakan nyeri di bagian perutku, kenapa penyakit ini menyiksaku di waktu yang tidak tepat?


"Kakak kenapa?" tanya Anggi mengusap bahuku ketika aku diam saja.


Aku menggeleng seraya mengukir senyum palsu. Andai Anggi tahu, betapa perihnya rasa sakit di bagian pinggang yang menjalar ke perut dan rasanya hampir membuat tubuhku berhenti bekerja.


"Tapi Kakak kayak kesakitan?" tukas Anggi lagi yang masih menatapku dengan selidik. Jiwa ingin tahunya memang masih membara seperti api.


"Tangan Kakak juga dingin." Anggi menyentuh telapak tanganku. "Terus berkeringat?" sambungnya sambil menempelkan punggung tangan di dahiku.


"Oh mungkin karena AC mobil," jawabku asal.


"Pak, tolong kecilkan suhu AC-nya!" pinta Anggi.


"Iya, Bu," jawab sang supir.


Rasanya aku ingin mengutuki diri, kenapa rasa sakit ini seolah menunjukkan aku lemah di mata orang lain? Aku tak mau ada yang tahu bahwa kondisi tubuhku sedang tak baik-baik saja. Aku tak mau di kasihani.


"Kakak sudah hamil ya?" tanya Anggi.

__ADS_1


"Hamil?"


"Iya, secara kan Kakak sudah menikah. Jadi, wajar dong kalau hamil. Ehh Kakak kan baru menikah seminggu masa iya sudah hamil." Anggi terus berceloteh.


Andai saja Anggi tahu bahwa aku memang sedang mengandung anak dari kakaknya, apakah dia juga akan menganggap aku wanita rendahan dan murahan? Apakah Anggi juga akan membenciku seperti mereka yang lain?


Aku mengigit bibir bawah dan tersenyum kikuk. Aku masih belum siap mengakui masalah kehamilanku pada Anggi. Dia tidak perlu tahu bahwa aku memang hamil anak dari kakaknya. Aku tidak mau membuat Anggi membenci Mas Angga karena kabur di hari pernikahan kami.


"Mungkin Kakak cuma kecapean, Nggi," jawabku asal. Semoga Anggi percaya dan tidak bertanya lagi masalah wajahku yang pucat.


"Kakak, kalau kecapean itu istirahat. Jangan terlalu capek. Nanti bisa memicu kesulitan hamil," ucap Anggi menasehati.


Aku membalas dengan anggukan seraya menelan saliva susah payah. Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak berterus terang pada Anggi.


"Kak." Anggi mengenggam tanganku. "Sekali lagi, maafkan semua kesalahan Mas Angga ya, Kak. Sebenarnya Anggi tidak setuju Kakak menikah dengan Kak Naro, tapi daripada pernikahan itu batal dan membuat malu keluarga, malu bagaimana lagi." Terdengar helaan nafas panjang setelah Anggi mengucapakan kalimat tersebut.


Aku juga tidak mau menikah dengan Kak Naro. Aku ingin menikah dengan Mas Angga dan menjadi satu-satunya wanita yang dia cintai. Namun, takdir malah mempermainkan kami. Mas Angga tega meninggalkan hari pernikahan kami dan menghilang begitu saja.


"Tapi asal Kakak bahagia, Anggi juga bahagia. Yang penting Kakak tetap jadi Kakak-nya Anggi."


Gadis berusia 20 tahun ini memelukku dengan erat. Kuusap punggung Anggi dengan perasaan bersalah dan hancur. Perasaan yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Aku ingin bercerita pada Anggi apa yang sebenarnya terjadi, tetapi aku tak yakin jika dia akan paham.


"Ayo, Kak," ajak Anggi.


"Iya."


Aku berjalan pelan sambil memegang perutku yang terasa masih sangat sakit. Tuhan, setidaknya kuatkan aku dalam kondisi seperti ini. Aku tak mau di anggap lemah oleh orang lain dan jangan sampai ada orang yang tahu tentang penyakitku, cukup Kak Galaksi saja yang tahu.


"Kak Nara."


"Anggi."


Anggi berhambur memeluk Kak Nara dengan erat. Dia memang sudah lama tidak pulang ke Pontianak setelah mengambil studi keperawatan.


"Kapan kamu datang kenapa tidak memberitahu Kakak?" Kak Nara melepaskan pelukannya.


"Surprise." Anggi menunjukkan paper bag di tangannya.

__ADS_1


"Apa ini, Nggi?" tanya Kak Nara.


"Buka saja, Kak. Ini buat keponakanku yang imut dan menggemaskan itu." Anggi mencubit pipi Angkasa yang berusia 3 tahun.


Pria kecil itu meringgis kesakitan. Dia menatap marah pada Anggi yang mencubit pipinya. Pasti sakit karena terlihat merah.


"Hiks hiks hiks Anty jayat." Angkasa memukul tangan Anggi dengan marah.


Kami hanya terkekeh gemas. Tuhan, apakah aku masih memiliki kesempatan untuk melihat anakku nanti? Rasanya aku tak sabar menanti kelahirannya, walau hadirnya tak membawa bahagia bagi orang lain. Tetapi dia adalah anugerah terindah yang aku miliki saat ini.


"Arin, apa kabar kamu?" tanya Kak Nara.


"Arin baik-baik saja, Kak," jawabku sambil tersenyum hangat.


"Lho, kenapa muka kamu pucat?" tanya Kak Nara bingung.


"Oh jadi ini perempuan yang hamil anak pria lain tapi yang nikahin Kak Naro."


Kami semua menoleh kearah suara tersebut. Tampak Tata berjalan dengan angkuh dan sinis melihatku.


"Tata," tegur Kak Nara. "Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Kak Nara menatap Tata tajam.


"Lah, emang kenapa, Kak? Kenyataannya 'kan? Dia di hamili oleh Mas Angga lalu Kak Naro yang harus bertanggungjawab," ungkap Tata.


Aku meremas ujung gaun yang ku pakai seraya menundukkan kepala. Keringat dingin mengucur dan membasahinya dahiku.


"Maksudnya?" tanya Anggi melihat kami secara bergantian.


Aku tak sanggup melihat ekspresi wajah Anggi yang pasti terkejut saat mengetahui kehamilanku. Tanganku terulur mengusap perut rata yang belum berbentuk ini. Seolah menyalurkan kekuatan pada bayi dalam kandunganku. Kami berdua harus kuat demi agar dia melihat dunia ini. Tak apa jika ibunya di caci maki tetapi anaknya harus bahagia nanti.


"Jadi selama ini kamu tid_"


"Tata!" tegur Mas Bintang. "Masuk kamar sana. Untuk apa kamu ikut campur masalah orang lain!" hardik Mas Bintang.


Kak Nara mengusap bahuku dengan lembut seakan dia tahu bahwa aku tak sanggup mendengar ucapan Tata tadi.


"Hoh, Mas Bintang dan Kak Nara mau kalau Kak Naro hidup menderita dan tidak bahagia bersama pelacur itu."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2