Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 06. Istri Kecil Shaka 04.


__ADS_3

"Saya tahu kamu tidak menginginkan pernikahan ini," ucapku menatap gadis itu serius.


"Iya terus mau apa, Om? Mau dibatalin? Percuma, Om. Orang tua kita tidak akan mau," jawab gadis itu tenang.


"Emang kamu mau nikah sama saya?" tanyaku menatap gadis ini serius.


"Sebenarnya tidak mau. Tapi karena paksaan ya mau bagaimana lagi? Lea tidak bisa menolak!" Dia tersenyum tanpa dosa sambil mengedipkan matanya jahil.


"Dih, asal kamu tahu kalau saya sudah punya pacar," tekanku.


"Tahu kok. Kakak dokter yang kemarin, 'kan?"


Aku tak menjawab. Seketika kami berdua sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Apa yang harus dilakukan? Apakah ada cara lain agar pernikahan ini bisa dibatalkan? Jika bisa, aku benar-benar ingin menolak.


"Bagaimana kalau kita buat surat perjanjian saja?" saranku.


"Surat perjanjian apa, Om? Nikah juga belum!" Dia menguap beberapa kali mendengar ucapanku.


"Surat pernikahan kontrak," jawabku.


"Dih, Om pikir pernikahan bisa dijadikan perjanjian?" ketusnya.


"Saya tidak mau tahu kamu harus mau," tekanku.


"Iya, Om," sahutnya mengalah.


"Setelah menikah nanti, kamu harus tandatangan surat kontrak pernikahan kita. Nanti saya akan jelaskan poin-poin penting di dalamnya," ujarku.


"Iya terserah Om saja. Ingat ya, Om dilarang jatuh cinta!" serunya dengan percaya diri.


"Dasar anak ingusan!" Aku mendorong keningnya dengan gemas. "Kamu pikir saya nafsuan sama anak bau kencur kayak kamu," ketusku. Ah, sejak mengenal gadis ini aku jadi suka marah-marah.


"Aw, Om. Kejam!" rintihnya sambil mengusap kepalanya.


"Makanya jangan terlalu percaya diri kamu." Aku berdiri dari dudukku.


"Memang harus percaya sama siapa lagi?" Dia ikut berdiri sambil masih mengusap kepalanya bekas dorongan dari jari telunjukku. Kenapa aku merasa kasihan dengan gadis ini?


"Percaya itu sama Tuhan," jawabku sambil berjalan.


"Om," panggilnya.

__ADS_1


"Bisakah kamu tidak memanggil saya om?" geramku.


"Tidak bisa. Kan memang om sudah om-om," ledeknya.


"Kamu–"


Aku menarik gadis itu hingga kami berdua jatuh di atas tanah. Dadanya membentur dadaku dan dia berada di atas tubuhku. Seketika tatapan kami berdua bertemu. Ah, kenapa indah sekali matanya? Aku seperti siap disihir oleh mata indah tersebut.


"Awas jatuh cinta, Om!" Dia berdiri dari atasku.


"Ck, jangan mimpi kamu saya bakal jatuh cinta sama kamu," ketusku. Hoh, sangat tidak mungkin aku jatuh cinta pada gadis tidak waras ini. Felly jauh lebih cantik dan dewasa. Sedangkan dia, bikin pusing kepala.


"Iya sih, Om memang tidak boleh jatuh cinta sama Lea. Soalnya Lea itu sudah punya gebetan Om, ketua osis di sekolah Lea dulu. Orangnya ganteng banget, yang pasti bikin betah kalau melihatnya."


Entah kenapa aku tidak suka mendengar ucapan gadis tersebut? Apa benar ada laki-laki yang menyukainya? Atau sebenarnya gadis ini sudah memiliki pacar? Kenapa hatiku sedikit sakit saat tahu hal itu? Harusnya ini bisa menjadi alasan untuk kami berdua agar sama-sama menolak pernikahan gila ini.


"Kamu punya pacar?"


* * *


"Sayang!" Aku berjalan ke arah Felly.


"Hai, Mas," sapanya. Tak lupa wanita ini selalu mencium punggung tanganku setiap kali kami bertemu.


"Mas ke mana saja semalam? Kenapa pas aku telepon tidak diangkat?" Wajahnya tampak cemberut kesal.


Semalam kami pulang sampai tengah malam dari rumah Lea. Maklum, Daddy dan Papa Denny kalau sudah bertemu sampai lupa waktu dan lupa diri. Mereka mengobrol panjang lebar untuk membahas hal-hal tak penting termasuk pernikahan kami.


"Mas ketiduran, Sayang," jawabku asal. Tidak mungkin aku jujur bahwa semalam aku sedang melakukan lamaran.


"Aku kira Mas ke mana?" Dia mendesah pelan.


"Maaf, Sayang." Aku merangkul bahunya. Wanita ini benar-benar sempurna, dia jarang sekali marah atau merajuk seperti wanita pada umumnya. Jika ada masalah kami selalu selesaikan dan bicarakan bersama untuk mencari solusi dari masalah tersebut.


"Sudah makan?" tanyaku memainkan jilbab belakangnya.


"Belum 'kan aku menunggu Mas," ucapnya.


"Iya sudah ayo makan!" ajakku.


Untung saja aku tak lupa melepaskan cincin tunanganku semalam, kalau tidak Felly pasti akan melihat dan bertanya, cincin siapa?

__ADS_1


"Silakan masuk, Sayang!" Aku membuka pintu mobil agar wanita itu masuk ke dalam sana.


"Terima kasih, Mas," jawabnya tersenyum simpul.


Aku menyalakan mesin mobil dan melakukannya dengan kecepatan sedang. Seperti biasa kami akan makan di restoran favorite. Aku dan Felly jarang makan, di warung-warung makan karena dia sangat menjaga pola makanku, maklum dokter tentu tahu makanan yang sehat untuk tubuh.


Kami berdua masuk ke dalam. Pemilik restoran ini sudah kenal, saking seringnya datang ke tempat ini.


"Mbak, seperti biasa ya," ucapku pada pelayan.


"Baik, Mas. Apa ada lagi?" tanya waiters pada kami.


"Tidak ada, Mbak. Itu saja," jawab Felly mewakili.


Sambil menunggu pesanan datang, kami mengobrol singkat membahas seputar pekerjaan dan kesibukan hari ini.


"Mas." Felly mengenggam tanganku yang ada di atas meja.


"Iya, Sayang. Kenapa?" Aku tersenyum lalu menyatukan tangan kami. "Ada yang ingin kamu bicarakan?" tanyaku dengan senyuman lebar.


Felly mengangguk. Dia menatapku dalam. Aku bisa lihat dari tatapan matanya jika dia juga mencintai aku, sama halnya dengan perasaan yang kini terasa memenuhi rongga dadaku. Cintaku. Sayangku. Seluruh hidupnya hanya untuk dirinya. Aku tak ingin semua berlalu saat kulewati dengannya.


"Ini tentang hubungan kita Mas."


Aku menatapnya serius. Hubungan kami? Hubungan kami baik-baik saja walau tanpa restu dari orang tua.


"Ada apa dengan hubungan kita, Sayang?" tanyaku sembari menepuk-nepuk tangannya.


Tunggu! Kenapa di belakang Felly ada gadis itu? Aku sedikit menyendengkan kepalaku dan di sana memang ada Lea bersama seorang pria muda memakai jas putih, tampaknya dia dokter karena terlihat dari ciri khas pakaiannya. Siapa pria itu? Apa itu pacar Lea? Mereka berbicara tampak serius.


"Mas kenapa?" tanya Felly mengikuti arah pandangku. "Lho, bukannya itu gadis yang sama Mas kemarin?" sambung Felly lagi.


"Iya." Hatiku seketika panas. Gadis itu benar-benar keterlaluan, padahal sebentar lagi menikah denganku. Kenapa malah sibuk dengan pria lain?


"Itu 'kan Dokter Zico!" ucap Felly lagi.


"Kamu kenal?" tanyaku.


"Kenal, Mas. Dia satu tempat kerja sama aku," jawab Felly.


Aku memalingkan wajahku dan tidak mau melihat gadis itu. Entah kenapa dadaku terasa sesak melihatnya mengobrol akrab sambil tertawa lepas seperti itu?

__ADS_1


"Sayang, tadi kamu mau ngomong apa?" tanyaku mengalihkan pembicaraan dan berusaha menepis perasaan anehku.


Felly tampak menghela napas panjang. "Aku dijodohkan sama anak Pak Ustadz, Mas. Abi dan Umi memaksa aku menikah sama dia. Tapi tidak mau, aku hanya mau menikah sama Mas."


__ADS_2