
Season 3. Rasa yang di rindukan.
"Kamu ini, kenapa tidak bilang kalau mau keluar?" Kak Rimba menarik pipiku gemas.
"Kakak." Aku merenggut kesal sambil mengusap pipiku yang memerah karena ulah Kak Rimba.
Aku hanya diam karena kedinginan, bukan sakit kaki yang tidak bisa berjalan.
"Ayo makan," ajaknya.
Aku duduk di sofa dan di susul oleh Kak Rimba. Aku tersenyum saat dia mengaduk-aduk nasi di dalam piring tersebut.
"Makan yang banyak supaya cepat sembuh," ucapnya lagi.
"Kakak, aku bisa makan sendiri," tolakku dengan bibir menggerecutkan bibir kesal.
"Tidak, Nara. Kamu belum pulih, biar Kakak yang rawat."
Kak rimba menyuapi aku dengan sabar dan telaten. Sesekali dia mengomel karena makanku yang lambat dan sedikit.
"Kak, aku sudah kenyang." Aku mendorong sendok yang di sedorkan Kak Rimba ke mulutku.
Kak Rimba tampak menghela nafas panjang. Aku benar-benar tak nafsu makan, padahal aku termasuk wanita yang suka dan hobby sekali jika bersangkutan dengan makanan.
"Iya sudah, ayo minum obat."
Mataku berkaca-kaca melihat Kak Rimba yang begitu peduli padaku. Kami tak memiliki hubungan darah atau hubungan spesial hanya teman lama yang di pertemukan kembali. Tetapi Kak Rimba memperlakukan aku seperti adiknya sendiri. Aku sangat merindukan rasa ini, rasa yang tak pernah aku dapatkan dari suamiku Mas Bintang.
"Kenapa?" Kak Rimba menyeka air mataku dengan ibu jarinya.
"Maaf, Kak. Sudah merepotkan," ucapku tak enak hati.
"Sama sekali tidak. Jangan merasa begitu," sarkas Kak Rimba.
Sejenak kami terdiam seolah sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku kembali teringat pada kejadian semalam, di mana Mas Bintang menurunkan aku di tepi jalan hanya karena Mbak Mona yang meneleponnya. Seharusnya aku sadar bahwa takkan mungkin bisa menggapai cinta suamiku.
"Apa yang terjadi, kenapa bisa kamu hujan-hujanan di jalan?" tanya Kak Rimba lembut.
__ADS_1
Aku menunduk, terlihat semburat kehancuran di wajahku. Titik-titik air mata bergulir dari kerling mataku yang indah. Lalu menumpuk di pelupuk mata dan menjatuhi pipi merah dan panasku.
"Ayo, ceritakan. Mungkin Kakak tidak bisa banyak membantu. Tetapi setidaknya saat kamu cerita sama Kakak. Beban kamu sedikit ringan."
Menceritakan masalah pada orang lain memang tak menyelesaikan masalah. Tetapi ada sedikit kelonggaran dalam dada ketika berbagi cerita dan rasa itu pada orang yang tepat.
"Semalam aku dan Mas Bintang berkunjung ke rumah Bunda Senja. Lalu ketika kami pulang, Mas Bintang dapat telepon dari Mbak Mona yang memintanya ke sana. Karena buru-buru, akhirnya Mas Bintang menurunkan aku di tepi jalan," jelasku panjang lebar. Air mata pun tak terbendung mengalir dan menetes dengan deras.
Tangannya terulur mengusap bahuku, seakan menyalurkan kekuatan lewat sentuhan tersebut. Memang benar, sentuhan hangat dan nyaman itu seketika menjalar dan menelusup masuk ke dalam rongga dada.
"Lepaskan jika memang kamu sudah tak mampu mengenggamnya. Aku yakin suatu saat nanti kebahagiaan akan menghampiri kamu. Jangan menyiksa diri demi orang lain, Ra. Kamu berhak bahagia dengan atau tidak adanya Bintang," ucap Kak Rimba mengenggam tanganku. Kenapa aku bisa melihat titik kehancuran di dalam bola matanya? Apa Kak Rimba juga merasakan perasaanku saat ini?
"Kak, aku_"
"Kamu bisa, Nara. Kamu pasti bisa. Kamu hanya perlu berusaha untuk terbiasa tanpa Bintang," sambung Kak Rimba lagi.
Aku memeluk Kak Rimba dan membenamkan wajahku di dada bidangnya. Aku merindukan pelukan hangat dan nyaman yang tak pernah ku dapatkan sebelumnya, selain pelukan Papa. Sejak kecil aku sudah kehilangan figure seorang ayah. Aku butuh laki-laki yang bisa menjadi segalanya untukku. Namun, lelaki yang menikahiku malah menancapkan duri tajam.
Kak Rimba melepaskan pelukanku. Di sekanya air mata murahan yang tak malu-malu menunjukkan kelemahannya. Aku tahu, tidak seharusnya aku menceritakan masalahku pada laki-laki lain saat bermasalah dengan suamiku. Namun, aku tak ada pilihan lain sebab hanya Kak Rimba tempatku berpulang paling nyaman.
"Iya sudah, kamu siap-siap. Kakak mau mengajakmu jalan-jalan ke pantai. Kamu sudah lama 'kan tidak ke sana?" tanya Kak Rimba.
"Kak, kita aku mau makan seblak," pintaku.
"Iya, iya. Terserah kamu mau makan apa saja. Kakak akan belikan, ya sudah kamu siap-siap sana. Kakak mau ke ruang kerja dulu," ucapnya. "Oh ya, pakaian kamu ada di lemari. Kamu pilih mana yang kamu mau," tuturnya.
"Lho, sejak kapan pakaian aku ada di rumah Kakak?" tanyaku heran.
"Hem, pakaian baru, Nara. Semalam Kakak suruh Beni yang siapkan keperluan kamu," jelasnya. "Kakak pamit keluar. Mandi yang bersih sana," ucapnya sambil menutup hidungnya seolah aku bau.
"Iya, Kakak." Aku menjawab dengan senyuman manja.
Kuhela nafas sepanjang mungkin seraya menteralisir emosi yang terasa menyeruak masuk memenuhi dadaku.
"Andai Kak Rimba suamiku, pasti aku akan sangat bahagia," ucapku. "Aish, apa sih? Kenapa malah memikirkan Kak Rimba?" Aku menepis perasaanku.
.
__ADS_1
.
"Kak."
Aku berjalan kearah Kak Rimba yang menunggu di ruang tamu. Dia hanya mengenakan kaos oblong dengan celaan selutut. Aku baru sadar kalau Kak Rimba ini tampan.
Dia tersenyum sambil berdiri dan menyambut kedatanganku.
"Sudah siap?" tanyanya.
"Susah, Kak," jawabku.
"Iya sudah, ayo," ajaknya.
Kami berdua masuk ke dalam mobil. Beni sudah menunggu sejak tadi. Kata Kak Rimba, Beni ini tak hanya sebagai asisten tetapi juga kaki tangan yang selalu bersedia membantunya sama keadaan apapun.
"Kak, kita ke kebun binatang juga ya!" seruku.
Kak Rimba mengangguk. Kami akan berlibur ke Singkawang, di sana banyak pantai yang bisa menghilangkan sejenak beban pikiran. Ada kebun binatang juga yang sering aku kunjungi dulu bersama Papa dan Mama serta Naro. Sungguh aku merindukan moment bahagia itu. Di mana keluargaku masih utuh, Papa seorang suami dan tulang punggung keluarga. Sedangkan Mama yang mengurus suami dan anak.
"Jangan sedih lagi." Kak Rimba mengacak kepalaku.
Aku mengangguk antusias. Sesekali ku lirik ponselku berharap ada pesan masuk yang bertanya kenapa aku tidak pulang? Tetapi sepertinya memang Mas Bintang sama sekali tak peduli padaku, mau aku pulang atau tidak, dia tak mau tahu sama sekali.
"Berharap dia kirim pesan?" tebak Kak Rimba.
Aku mendelik kearahnya, kenapa tebakannya bisa tepat.
"Kok Kakak tahu?" tanyaku penasaran.
"Dari wajahmu sudah kelihatan," jawabnya terkekeh.
"Tapi dia tidak mengirim pesan, Kak." Aku tersenyum miris.
"Ya sudah jangan di tunggu," sahutnya.
Bagaimana aku tak menunggu, aku juga rindu di khawatirkan dan di pedulikan oleh orang lain. Tetapi aku harus menelan pil pahit itu karena Mas Bintang takkan bisa menerima aku.
__ADS_1
Bersambung...