Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Mengatakan


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku menyuapi Nara dan Naro secara bergantian. Kedua anakku tampak makan dengan lahap, apalagi menu yang ku masak kesukaan mereka.


"Ma, kok Papa tidak datang juga sampai sekarang?" tanya Nara sendu


Aku menghela nafas panjang. Kasihan sekali Nara, bagaimana reaksi nya saat tahu jika Papa dan Mama nya akan segera berpisah?


"Mama." Tangan Naro terulur mengusap punggung ku.


"Iya Nak, kenapa?" tanyaku lembut.


"Apa semua baik-baik saja, Ma?" tanya Naro dengan wajah sendu nya.


"Naro," suaraku tercekat. Sanggupkah aku mengatakan semua ini, kenapa dadaku terasa sesak membayangkan wajah terkejut Nara dan Naro?


"Katakanlah, Ma. Apa yang terjadi?" tanya Naro mengusap pipiku dengan lembut.


Lagi, aku tak mampu menahan lelehan bening ini. Sementara besok adalah sidang perceraian ku dengan Mas Galvin. Apakah aku sanggup menghadapi kenyataan ini? Berpisah dengan lelaki yang aku cintai. Dan memulai hidup yang baru tanpa nya. Semua benar-benar sulit, aku merasa hidupku bagai diujung tanduk kehancuran.


"Kalian berdua siap mendengarkan penjelasan Mama?" tanyaku menatap kedua anakku secara bergantian. Semoga mereka mengerti.


"Iya Ma," jawab kedua nya kompak.


Aku menghela nafas panjang untuk menetralisir emosi yang terasa membuncah dalam dadaku. Sesak rasa hatiku ketika mengingat cinta yang ku perjuangkan dengan susah payah harus berakhir di meja hijau.


Besok adalah hari terpanjang dalam hidupku. Hari-hari yang mulai aku jalani tanpa Mas Galvin di hidup ku. Aku akan menjadi janda diusia 28 tahun. Usia masih muda untuk seorang perempuan. Tapi aku tak menyesali takdir hidupku.


"Nara. Naro," panggilku pada kedua anakku.

__ADS_1


"Iya Ma?" sahut kedua nya serentak


"Mama sebelum nya minta maaf sama kalian berdua. Mama belum bisa membuat kalian bahagia. Tapi Mama janji, Mama akan berjuang demi masa depan kalian," ucap ku sambil mengigit bibir bawah menahan air mata yang hendak terjatuh dipipi. Aku tak boleh lemah. Aku harus kuat demi anak-anak ku.


"Mama sudah buat Naro bahagia kok," jawab Naro cepat.


"Iya Mama. Nara sudah bahagia sekarang," sambung Nara.


Namun, apakah mereka akan bahagia jika tahu yang sebenarnya bahwa sebentar lagi perpisahan yang aku hindari benar-benar akan terjadi dan memisahkan kami.


"Nara. Naro. Papa sama Mama, akan....," lidahku benar-benar kelu untuk mengucapkan mata pisah ini.


"Akan apa, Ma?" tanya Nara tak sabar.


"Mama sama Papa, akan berpisah," jawabku sambil memejamkan mata. Aku tak sanggup melihat ekspresi kedua anakku.


"Mama mau pisah sama Papa?" tanya Nara dengan mata berkaca-kaca, bahkan lelehan di pipi nya sudah membanjir.


Berbeda dengan Naro yang tenang-tenang saja. Kadang aku kagum dengan kepribadian putra kecil ku itu. Masih belia tapi dia sudah mampu menguasai cara berpikir nya. Tidak terburu-buru. Tidak panik dan terkesan dingin.


"Tapi kenapa, Ma? Kenapa harus pisah sama Papa? Nara tidak bisa jauh dari Papa Mama," ucap Nara sambil menangis.


Sudah kuduga, hal ini benar-benar akan melukai hati Nara. Apa yang harus aku katakan? Hati anak kecil seperti nya benar-benar sensitif. Aku tahu apakah Nara paham apa itu perpisahan?


"Mama dan Papa tidak bisa bersama, Sayang," jawabku dengan nada berat. Aku dan Mas Galvin memang takkan bisa bersama sampai kapan pun karena Mas Galvin sudah memasukkan orang ketiga dalam rumah tangga kami.


"Kenapa tidak bisa bersama? Selama ini Papa dan Mama baik-baik saja? Apa ada yang salah Ma?" cecar Nara. Air mata menetes dengan deras dipipinya.


Aku tak sanggup mengatakan apapun. Namun, ku rengkuh tubuh kecil ini masuk kedalam pelukanku. Aku paham luka di hati Nara. Bagaimanapun perpisahan orang tua, anak lah yang menjadi korban. Aku tak bermaksud mengorbankan perasaan kedua anakku. Aku tak bermaksud egois. Hanya saja, aku tak bisa bertahan lama. Bertahan pun tak ada guna nya. Mas Galvin takkan kembali lagi kepadaku, dia sudah menjadi milik orang lain. Lantas apa lagi yang perlu aku pertahankan.


Aku dan Nara saling bertangsian satu sama lain. Saling memeluk dan menguatkan. Badan Nara bergetar hebat sambil menangis dipelukkan ku. Aku paham, harusnya aku yang menghapus air matanya bukan malah menangis bersamanya. Tapi aku tak sekuat itu hatiku, lemah dan rapuh.


"Mama, Nara tidak mau pisah sama Papa, Ma. Nara mau sama Papa," renggek Nara memberontak.

__ADS_1


Nara kecil, putriku. Seribu kata maaf ku ungkapkan padanya. Aku bukan Mama yang baik, aku hanya seorang perempuan yang berusaha menyelamatkan diri dari keegoisan suamiku. Bukan, bukan aku tak memikirkan perasaan kedua anakku. Perasaan mereka adalah yang terpenting. Tapi bertahan seperti ini tidak baik, akan lebih sakit jika mereka tahu kebenaran yang sebenarnya bahwa Papa yang mereka sayang selama ini telah memiliki perempuan lain di kehidupan nya.


Aku melepaskan pelukan Nara dan menyeka air matanya.


"Sayang, Nara masih bisa bertemu Papa. Tapi Nara tidak bisa hidup sama Papa. Papa sudah punya kehidupan sendiri, Sayang. Nara harus bisa," ucapku memberi pengertian.


"Tapi Ma_"


"Bisa ya, Nak. Mama janji, Mama akan menjaga Nara seperti Papa. Pelan-pelan kita bisa ya, Sayang," ucapku lembut.


Nara tak menjawab, gadis kecil ini hanya menangis seperti menunjukkan bahwa dia benar-benar terluka dengan perpisahan kedua orang tua nya. Aku tahu ini rasa sakit yang benar-benar menghantam dadanya. Tapi lah jalannya, harus berpisah.


"Apa Papa sudah tidak mau bertemu Nara, Ma? Kenapa Papa tidak pernah datang menjenguk Nara disini?" tanya Nara seraya menghapus air mata dengan punggung tangannya.


"Papa lagi sibuk," jawabku asal.


Kupeluk kembali anak perempuan ku ini. Semoga seiring waktu berjalan Nara mengerti, mengapa semua terjadi? Tak sepenuh nya ini keinginan hati. Namun, inilah takdir yang jalan takdir hidup yang harus di jalani.


"Sudah jangan menangis lagi ya, Sayang," bujuk ku mengusap kepala Nara. Rambut panjang Nara menjuntai ke belakang. Rambut anakku ini memang ikal dan lebat, sejak kecil aku tak pernah memotong nya karena Nara menyukai rambut panjang


"Mama," renggek Nara.


"Iya Sayang?" sahutku tersenyum.


"Nara kangen Papa," wajah Nara tampak sendu. Aku tahu dia rindu Mas Galvin, karena aku juga merasakan hal yang sama seperti Nara.


"Besok kita ketemu Papa dipengadilan ya," sahutku.


Aku melirik Naro yang tampak diam tanpa ekspresi. Entah apa yang dipikirkan oleh anakku yang satu ini. Sifat Naro sulit ditebak karena dia kebanyakan diam dari pada berbicara.


"Naro," panggil ku.


Tanpa aba-aba Naro berhambur memelukku. Pelukkan anak ini terasa berbeda. Aku tahu Naro sebenarnya terluka, hanya saja dia berusaha dewasa diusia belia nya. Dia pasti terpukul mengetahui perpisahan kami.

__ADS_1


Aku mengusap punggung Naro dan membiarkan dia memelukku erat. Kurasakan air matanya berjatuhan dan membasahi pipiku. Namun, lelaki kecil ini hanya bisa menangis dalam diam tanpa mampu mengucapkan kata-kata.


Bersambung


__ADS_2