Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Perjalanan cinta.


__ADS_3

Ada beberapa hal dari jatuh cinta yang akhirnya membuat seseorang kewalahan. Memperjuangkan segala harapan sendirian, misalnya. Sesuatu yang seharusnya dihidupkan berdua, malah dihadapi sendiri. Hal semacam itulah yang pelan-pelan akan membunuh cinta meski beberapa cinta terlalu kuat, tetap bertahan meski sekarat. Beberapa lagi memilih mati daripada merana sendiri. Ada orang yang tahan banting hingga tetap bertahan meski berkali-kali perasaannya sedih berkeping-keping. Ada orang yang cinta buta, tak peduli betapa kali didusta tetapi tetap saja memilih percaya.


"Bintang."


Tubuhku seketika menegang ketika mendengar suara panggilan tersebut. Suara familiar yang begitu aku kenal dan sudah lama menghilang dari hidupku.


Aku membalikan badanku dan kulihat Mona dengan menggendong bayi kecil di tangannya.


"Mona?" gumamku dengan kening mengerut.


Kami saling menatap begitu lama. Tak ada lagi ada rasa cinta sedikitpun yang tersisa untuk perempuan ini. Setelah aku tahu dia menggandung anak dari Ikmal, aku sungguh membencinya hingga mendarah daging.


"Ada apa kamu ke sini?" tanyaku dingin.


Dia berjalan pelan kearahku dengan langkah tertatih. Apa sebenarnya yang terjadi pada wanita ini? Bayi dalam gendongannya menangis, untung tidak sedang berada di ruangan rawat inap Ayah sehingga tidak menggangu istirahat Ayah.


"Maafkan aku, Bintang," ucapnya dengan lelehan bening yang menetes di pipinya. "Ikmal meninggalkan aku dan bayi kami. Aku tidak tahu dia ke mana sekarang?" ucapnya mengadu. Untuk apa dia mengadu padaku.


Mona ingin melakukan apa saja, aku bahkan tidak peduli lagi. Rasa sedih yang dulu tertahan selama berbulan-bulan itu ternyata perlahan pergi. Kini, semua terasa hambar, kabar dari Mona pun bukan lagi hal yang membuat dadaku berdebar.


"Lalu untuk apa kamu ke sini? Apa kamu bermaksud meminta tolong aku untuk mencari keberadaan Ikmal?" cecarku. Oh tidak segampang itu, aku adalah pria pendendam. Sekali saja aku di sakiti, maka takkan ada kesempatan kedua bagi orang tersebut, sekalipun dia berlutut atau bersujud di kakiku.


"Bintang...."


Masih terngiang jelas di kepalaku. Bagaimana Mona mengatakan bahwa dia menjalani hubungan dengan Ikmal secara diam-diam di belakangku hanya karena aku enggan menyentuhnya. Apa dia tak tahu betapa besar dulu perasaanku padanya, itulah sebabnya kenapa aku tidak mau merusaknya.


"Aku minta maaf, Bintang. Aku tahu aku salah," ucapnya dengan lelehan bening menatapku penuh harap.


Entah kemana perasaan yang dulu menggebu di dalam dada. Saat ini aku sama sekali tak memiliki rasa kasihan atau iba pada Mona walau menangis. Jika dulu air matanya sangat berharga bahkan satu tetes saja jatuh sudah membuatku merasa gagal menjadi pria. Tetapi sekarang, sekalipun matanya mengering atau bola matanya keluar tak ada sedikitpun perasaan yang dulu ku jaga dengan susah payah.

__ADS_1


"Kenapa kamu minta maaf? Bukankah ini yang kamu inginkan? Meninggalkan aku dan pergi bersama pria lain?"


Aku tak semudah itu memaafkan. Aku bahkan tak peduli jika Mona merenggek atau melakukan apa saja demi minta maaf padaku. Rasa sakit yang dia turihkan telah menjelma menjadi benci yang takkan bisa menemukan kata maaf.


Mona tampak menunduk dan sesekali menyeka air mata bayi dalam gendongannya. Sekarang, aku paham kenapa dulu Ayah dan Bunda tidak merestui hubungan kami. Mona memang bukan wanita yang baik untukku. Aku bersyukur mengetahui hal tersebut sebelum aku menjadikan dia pendamping hidupku. Walau setelah semua terbongkar aku malah kehilangan istri yang sudah diam-diam mendiami hatiku.


"Ada apa, Mas?"


Hingga obrolanku dan Mona terbuyarkan ketika mendengar suara Nara yang keluar dari ruangan rawat Ayah.


"Mbak Mona," ucapnya pelan yang masih bisa ku dengar dengan jelas.


"Nara," balas Mona.


Sejenak Nara dan Mona terdiam. Nara menatap kearahku. Kuharap dia tidak salah paham dengan kedatangan Mona. Kalaupun dia salah paham hal tersebut juga takkan merubah hati Nara. Baginya akulah sang pria pengkhianatan yang telah merusak pernikahan kami, walau memang begitu kenyataan yang sebenarnya.


Aku menatap mantan istriku. Entah kekuatan dari mana sehingga aku merangkul bahunya agar mendekat kearahku. Aku tak mau memberi celah untuk Mona menelusup masuk lagi. Sudah cukup, jangan tambahkan luka yang belum sembuh ini.


"Mas..." Nara menatapku heran.


"Mona, sebaiknya kamu pulang dan bawa bayi itu. Suasana rumah sakit tidak baik untuk kesehatan anakmu," ucapku. Mengusir secara halus karena aku tak ingin melihat Mona ada di sini.


"Bin_"


"Kita sudah tak memiliki hubungan apapun. Kamu tidak berhak mengadu sama aku tentang masalah rumah tangga kamu dan Ikmal." Aku bahkan tak mau mendengar alasan apapun dari Mona. Bagiku, dia adalah wanita yang tak lebih dari iblis yang menyerupai malaikat.


"Bintang, apa kamu tahu bahwa Bee menggandung anak Ikmal?"


Aku menatap Mona, jika Mona tahu bahwa anak yang di kandung Bee adalah darah daging Ikmal. Artinya mereka sudah sengkongkol selama ini menghancurkan adikku.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" hardikku yang masih merangkul bahu Nara.


"Seperti yang aku katakan tadi," jawab Mona.


"Apa ini rencana kalian untuk merusak adikku?" tanyaku dengan wajah merah padam. Jika hal tersebut benar, aku tidak akan membiarkan Ikmal hidup dengan tenang.


"Maaf, Bintang. Aku tidak bermaksud melakukan hal tersebut, aku hanya ingin kamu kembali sama aku," ucap Mona dengan tatapan memohonnya.


Aku menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin ada orang yang tega menghancurkan dan merusak orang lain hanya demi balas dendam. Harusnya aku yang membalaskan dendamku pada Mona dan Ikmal karena mereka sudah merusak Bee.


"Kamu benar-benar jahat, Mona." Aku tersenyum miris dan terkadang mentertawakan kebodohanku.


Tak hanya aku yang syok tetapi Nara juga. Pasti dia pun tak menyangka jika wanita yang dulu aku ajak ke rumah adalah iblis berkedok malaikat.


"Maaf, Bintang. Aku terpaksa," ucap Mona.


Semudah itu meminta maaf. Aku tidak akan biarkan Mona hidup bahagia bersama Ikmal dan bayi mereka. Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan. Hancur, hancur sekali melihat Bee yang ketakuta dan frustasi. Pantas saja adikku itu seperti sangat ketakutan bertemu dengan orang lain, pasti dia merasakan ketakutan yang luar biasa.


"Mbak Mona, kenapa tega melakukan hal itu? Apa Mbak tahu bagaimana kondisi Bee saat ini?" Nara ikut menimpali dengan wajah tak percaya.


"Ra, ak_"


"Sekarang kamu pergi, Mona. Bersiaplah, kamu dan Ikmal akan membusuk selamanya di penjara," usirku dengan kalimat mengancam.


Aku terduduk di kursi tunggu dengan menangkup kedua wajahku. Sesekali kupukul wajahku frustasi. Bagaimana tak hancur, ketika adik sendiri di lecehkan oleh orang yang pernah di cintai di masa lalu. Aku tak habis pikir apa salahku pada Mona dan Ikmal? Harusnya aku yang membalaskan rasa sakit hatiku, bukan mereka.


"Mas."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2