
Air mata luruh berderai saat melihat anakku terbaring tak berdaya dengan tatapan sendunya. Wajah Lala tak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Semakin hari kondisinya semakin menurun dan aku tak sanggup melihat dirinya yang terbaring dalam seperti ini.
"Mama." Suara Lala terdengar lirih. Tatkala dia mengeluh sakit di bagian tubuhnya.
"Iya, Sayang. Mama di sini." Kukecup punggung tangan anakku. "Apa ada yang ingin Lala katakan?" tanyaku mengusap kepala plontosnya. Wajah Lala pucat seperti tak berdarah. Setelah kemoterapi kondisinya tak pernah baik-baik saja. Dia mengalami beberapa penurunan obesitas.
"Lala pengen ketemu papa, Ma."
Mulutku langsung bungkam. Andai saja aku bisa mewujudkan keinginan Lala tersebut. Aku pasti sudah mempertemukannya dengan Mas Gevan. Namun, sejak kejadian kemarin mantan suamiku hilang tak berkabar, ponselnya juga tidak aktif sama sekali. Entah apa yang terjadi padanya, apakah Mas Gevan tidak datang ke sini karena dilarang oleh Mbak Queen?
Apakah ada yang tahu? Hal yang lebih sakit dari kehilangan seseorang? Bayangkanlah saat seseorang yang di cintai. Dia yang ada di samping. Namun, hatinya tidak pernah benar-benar bisa di miliki.
Rasa bahagia datang ketika perasaan terbalas. Cinta yang dulu dia ucapkan dibalas dengan pengucapan yang sama, dia juga mencintai. Dia sepenuh jiwa berasa di sampingku. Mewujudkan rencana-rencana baik dengannya. Tidak ada orang lain di hatinya. Tidak ada cinta yang memancar di dadanya.
"Papa ke mana, Ma? Kok tidak pernah datang jengguk Lala?" tanya Lala lagi.
Aku tersenyum dan kueratkan gengaman tanganku pada Lala. Kugantungkan semua rasa sakit padanya, seolah menyalurkan semua rasa yang menghantam bagian dadaku.
"Papa lagi sibuk kerja, Nak. Nanti papa pasti jengguk Lala kalau kerjaannya sudah selesai," ucapku tersenyum lebar menutupi luka yang mengangga di dalam sana.
"Tapi Lala pengen ketemu papa, Ma. Lala kangen banget sama papa." Air mata Lala luruh.
Aku paham, bagaimana sakitnya merindukan seseorang yang tak bisa digapai.
"Sabar ya, Nak." Hanya itu yang bisa aku katakan saat ini.
Seseorang yang pernah ada tidak akan bisa dihilangkan begitu saja kecuali hilang ingatan. Tanpa di sadari tidak ada manusia yang benar-benar tumbuh tanpa seseorang di masa lalu. Mau tidak mau, kehilangan adalah salah satu hal yang membuat manusia belajar menerima kenyataan. Aku memahami hal itu. Sesuatu yang membuatku tidak membenci. Sesekali aku ingin mengutarakan kepadanya. Bahwa rindu yang menggembang di dalam dada adalah sebuah pembuktian bahwa aku masih sangat dan sungguh mencintai dia. Walau untuk kembali bersama adalah sebuah ketidakmungkinan.
"Tapi Lala pengen ketemu papa sekarang, Ma," renggek Lala lagi.
__ADS_1
Apa yang harus aku lakukan? Sejak kemarin aku menghubungi Mas Gevan tetapi ponselnya sama sekali tidak aktif. Apa Mbak Queen sekejam itu yang menahan Mas Gevan bertemu putrinya sendiri?
Semua hanya perkara akan penerimaan. Berbulan yang sedih telah ku sudahi. Langkah-langkah yang sempat terhenti. Tangis yang pecah berhari-hari. Semua keadaan yang tak dapat ku percaya akhirnya terjadi. Dari semua yang berlalu dan kini di sebut masa lalu. Aku mencoba menjadikan pelajaran untuk hidup yang tak akan berhenti sebab patah hati. Namun, kenyataannya ada-ada saja kejadian yang membuat aku mendekat pada perasaan luka.
"Mama, hiks hiks Lala mau ketemu papa. Lala mau ketemu papa." Lala memberontak dan menangis memanggil nama Mas Gevan. Aku berusaha menenangkan anak Perempuanku itu dan meyakinkan dirinya.
Kak Galaksi dan Dokter Hansel masuk ke dalam ruangan rawat inap Lala untuk menenangkan anakku dengan menyuntikkan obat penenang.
"Ta, sebaiknya kamu temui Gevan. Lala butuh dia," saran Kak Galaksi.
"Tapi, Kak–"
"Kesampingkan dulu perasaan egois kamu, Ta. Kamu harus utamakan perasaan Lala," sergah Kak Galaksi.
Aku mengangguk patuh. Apapun demi putri kecilku. Sekalipun aku harus mengorbankan segala hal dalam hidupku. Bukankah yang paling penting di dunia ini adalah Lala? Lantas kenapa aku ragu walau mungkin hal itu akan sedikit membuat aku terluka?
Setelah Lala tenang. Aku keluar dari kamar inapnya. Aku berjalan pelan sambil mencengkram kunci mobil di tanganku. Tak ada pilihan lain, aku harus menemui Mas Gevan agar segera datang ke rumah sakit. Aku tak peduli dengan Mbak Queen yang akan mengatakan aku menggoda suaminya. Apapun, demi Lala aku akan maju.
"Ta."
"Mas Rey."
Aku berhambur memeluk pria ini. Pria yang katanya mencintaiku. Entahlah, aku belum bisa membuka hati sepenuhnya. Rasa takut karena perang sakiti itu kini menjelma menjadi rasa trauma yang berat dan aku gan tahu bagaimana mendeskripsikan perasaanku sendiri.
Kini semua telah berbeda dari hal yang pernah kami sebut sebagai rencana. Mas Gevan telah memilih jalannya sendiri, sementara aku juga harus bertahan dengan hidup yang kulalui. Apakah akan kubiarkan dia menjauh? Sedangkan hati ini masih belum bisa berpaling, walau ada orang yang dengan terang-terangan mengatakan ingin menjagaku lebih dari dia?
Sebab jatuh cinta adalah hal-hal yang tak selalu mampu disebut dengan kata; terkadang hanya menjelma tatap mata dan degup di dada. Maka, kuserahkan saja segala kebekuan bibir ini pada tatap matanya, pada rentang lenganmu, pada obrolan-obrolan ringan yang kutahan agar tak cepat berlalu. Aku, telah berusaha patah mengutuk waktu menahannya dengan segala gemuruh di dadaku. Sesuatu yang akhirnya ku simpulkan sebagai rindu.
"Menangislah!" Mas Rey mengusap kepalaku yang menempel di dadanya.
__ADS_1
"Lala, Mas." Aku butuh pelukan. Aku butuh kekuatan. Sebab, sejak Lala sakit aku tak hanya cenggeng tetapi juga rapuh karena keadaan.
Mas Rey melepaskan pelukannya. Dia usap pipiku dengan ibu jarinya.
"Aku mau menemui Mas Gevan, Lala pengen ketemu dia, Mas," aduku.
Mas Rey membalas dengan anggukan. Aku bisa lihat jika perasaannya cukup dalam. Terbukti selama ini dia selalu menjaga dan memastikan semuanya baik-baik saja.
"Ayo, Mas antar!" ajaknya menggandeng tanganku. "Tunggu sebentar!"
"Kenapa, Mas?" tanyaku.
Mas Rey membuka jas yang membungkus tubuh kekarnya. Lalu memasangkan benda itu di tubuhku.
"Ayo!"
Kami berdua masuk ke dalam mobil. Aku duduk dengan tenang sambil menatap kosong ke arah jendela mobil. Tak ada yang kuinginkan di dunia ini selain kesembuhan.
"Jangan sedih terus, kamu harus kuat!" Mas Rey mengenggam tanganku. "Kita bawa Lala berobat keluar negeri," sarannya.
Aku mengangguk. Kak Naro dan Kak Nara serta Daddy dan Mama memang meminta agar Lala dibawa keluar negeri saja untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.
Sampai di kediaman Mas Gevan. Kami berdua keluar dari mobil.
"Lho, kenapa ramai ya, Mas?" tanyaku.
"Mas tidak tahu. Tapi, kenapa ada bendera warna kuning?" ujar Mas Rey. "Siapa yang meninggal?" sambungnya kemudian.
Bersambung ...
__ADS_1