Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 12.


__ADS_3

Kami turun dari mobil saat sudah sampai di BabyShop.


"Ayo Arin sama Anggi sudah menunggu di dalam," ajak Kak Nara.


"Kakak duluan ya. Naro mau ke toilet sebentar," ucapku beralasan.


"Jangan lama-lama, Kakak. Tunggu di dalam," sahut Kak Nara.


Aku membalas dengan anggukan. Aku berjalan kearah toilet. Lebih tepatnya mencoba menenangkan perasaanku. Apa maksud Kak Nara jika Mas Angga yang menginginkan aku menikahi Ariana? Apa Mas Angga ingin menjebakku agar aku mengurus wanita murahan itu? Hubunganku dan Mas Angga memang sangat baik, dia salah satu rekan bisnis dan saudara yang sering membantu aku jika dalam kesulitan masalah perusahaan. Tetapi haruskah aku yang bertanggungjawab atas semua perbuatan yang dia lakukan?


"Tenang, Naro. Kamu harus cari tahu kebenarannya. Apa maksud Mas Angga meminta kamu menikahi wanita pelacur itu."


Aku menatap diriku di depan cermin toilet. Entah kenapa aku benar-benar tak bisa menerima Ariana sebagai istriku? Rasanya hatiku hancur ketika mengingat bahwa dirinya yang di hamili oleh Mas Angga tetapi aku yang menjadi korban. Namun, kenapa aku tak bisa melepaskan wanita itu? Aku sama sekali tidak memiliki perasaan pada wanita itu. Tetapi setiap kali melihatnya menangis hatiku hancur walau aku penyebabnya.


Aku keluar dari toilet karena takut Kak Nara curiga.


"Kak Naro."


Langkahku terhenti ketika ada yang memanggil namaku.


"Auny?" gumamku.


"Hai, Kak," sapa Auny.


"Kamu sama siapa di sini? Sejak kapan kamu datang?" tanyaku. Auny ini tinggal di Singkawang bersama kedua orang tua nya.


"Auny tugas di rumah sakit Mas Bintang, Kak," jawab Auny.


"Terus, kamu ke sini mau apa?" tanyaku penuh selidik.


"Tadi, Auny diminta Kak Galaksi menemani Kak Arin beli perlengkapan bayi," sahut Auny.


Aku menatap gadis tersebut dengan penuh tanda tanya. Apa maksud Galaksi meminta adiknya menemani istriku membeli perlengkapan bayi? Tunggu, kenapa aku mengatakan bahwa Ariana adalah istriku? Tidak! Tidak, dia memang istriku tetapi hanya status saja dan aku sama sekali tidak menginginkannya.


"Oh ya sudah, ayo kita masuk," ajakku.


"Ayo, Kak."


Aku dan Auny masuk ke dalam. Di sana aku kulihat Ariana bersama Kak Nara dan Anggi yang sedang memilih pakaian. Aku heran, padahal usia kandungan Ariana baru memasuki bulan kedua. Jenis kelaminnya juga belum di ketahui, kenapa Kak Nara keukeh membelikan pakaian untuk calon keponakannya itu. Ingat calon keponakan dan bukan calon anakku karena Mas Angga adik Kak Nara juga.

__ADS_1


"Nah, itu suami kamu!" Kak Nara menunjuk aku dan Auny yang baru datang.


Wanita itu hanya menyapa dengan anggukan dan senyuman saja.


"Siang, Kak," sapanya.


Aku membalas dengan anggukan. Aku benci suara wanita ini, bila perlu dia tidak perlu berbicara padaku.


"Oh, mana teman Kakak itu?" Anggi memincingkan mata curiga padaku. Padahal hubunganku dan Anggi cukup baik, tetapi aku tak habis pikir kenapa dia malah membela wanita pelacur itu di banding aku?


"Teman siapa?" sambung Kak Nara.


"Itu lho, Kak. Teman cakepnya Kak Naro," ucap Anggi menatapku sinis. Aku tahu jika Anggi menyinggung masalah Sherly.


"Siapa sih, Kak?" tanya Auny ikut menimpali. Sementara Ariana diam saja sambil menggandeng tangan Angkasa. Tunggu, kenapa wajah wanita ini pucat? Tak seperti biasanya.


"Bukan siapa-siapa, " jawabku.


"Sudah-sudah, ayo kita lanjutkan!" ajak Kak Nara.


"Hai, Kak Arin," sapa Auny. "Bagaimana kandungan Kakak? Semoga sehat ya, Kak." Dia mengusap perut rata Ariana.


"Terima kasih, Uny," sahut Ariana.


"Rin, apa lagi yang kamu mau beli?" tanya Kak Nara.


"Ini sudah cukup, Kak," sahut Ariana.


"Iya sudah, kita bayar ke kasir. Naro, tolong kamu bawa belanja istri kamu!" titah Kak Nara.


Aku mengangguk tanpa membantah. Kurebut dengan paksa ranjang tersebut dari tangan Ariana. Rasanya aku tak sudi bersentuhan tangan dengan wanita pelacur ini. Aku takut ketularan sial juga seperti dia.


"Awas kalau kamu bicara macam-macam masalah rumah tangga kita sama Kak Nara. Kamu akan tahu sendiri akibatnya!" ancamku berbisik di telinga wanita tersebut.


Ariana mengganguk paham dengan wajah polosnya. Ah, entahlah kenapa rasa benciku begitu besar pada wanita ini? Aku tak tahu alasannya. Jelasnya, aku benar-benar tak ingin melihatnya apalagi mengingat jika dia adalah wanita yang sekarang berstatus sebagai istriku.


Aku membayar belanja Ariana atas perintah Kak Nara. Kalau bukan karena kakakku, sampai mati pun aku tidak rela jika uang hasil kerja kerasku di gunakan untuk membayar perlengkapan bayi haram itu.


"Rin, kenapa wajah kamu pucat?" tanya Kak Nara. Kami semua menoleh kearah Ariana.

__ADS_1


"Iya, Kak. Pucat banget! Kakak sakit?" sambung Auny menempelkan punggung tangannya di kening Ariana.


"Aku tidak apa-apa," sahut Ariana tersenyum lebar.


"Astaga, Kakak. Kenapa hidungnya berdarah?" tanya Anggi panik.


"Kak, ayo duduk!" ajak Auny.


"Arin, kamu kenapa?" tanya Kak Nara ikut panik.


Auny dan Anggi membantu wanita itu duduk di kursi tunggu. Tanpa sadar aku berhambur kearah mereka, antara panik dan penasaran. Kenapa Ariana bisa sampai mimisan?


"Tunggu sebentar, Kak. Anggi ambil P3K di mobil!" ucap Anggi. Ariana membalas dengan anggukan. Wajahnya tampak pucat seperti tak berdarah. Tatapan sayu dengan mata sendu. Kenapa sebenarnya wanita itu? Apakah efek kehamilan atau bagaimana? Dan ini lagi, kenapa aku harus panik? Lagian bukan urusanku kalau dia sakit.


"Arin, kamu kenapa sih? Kok bisa sampai mimisan?" tanya Kak Nara. "Naro, cepat belikan istrimu air minum!" suruh Kak Nara. Tak menjawab apapun, aku langsung membeli air minum dan untuk di BabyShop ini ada yang jual.


"Ini, Kak!" Aku memberikan air minum itu pada Kak Nara.


"Arin, minum dulu!" Kak Nara membantu wanita itu menunggak air mineral di dalam botol kecil tersebut.


"Terima kasih, Kak." Suaranya tampak parau. Dia seperti menahan sakit, apa dia benar-benar kesakitan?


"Kakak, kenapa? Kok bisa sampai mimisan?" tanya Auny. Tidak lama kemudian Anggi datang membawa kotak P3K.


"Tidak apa-apa, Uny. Mungkin hanya kelelahan," jawabnya.


Kenapa aku merasa wanita ini bohong? Tatapan matanya tak menunjukkan jika jawaban yang dia berikan adalah yang sebenarnya.


"Kak, angkat sedikit dagunya."


Auny memasukkan kapas di antara lobang hidung Ariana. Tak bisa ku pungkiri, melihat darah yang keluar dari hidung Ariana membuatku sedikit panik.


"Kita bawa Arin ke rumah sakit saja," saran Kak Nara.


"Tidak perlu, Kak. Arin baik-baik saja," tolak Ariana.


"Baik-baik bagaimana, Arin? Hidung kamu berdarah," desah Kak Nara sambil geleng-geleng kepala.


"Ini hanya kelelahan, Kak. Sudah biasa," jawab wanita itu.

__ADS_1


Sudah biasa? Maksudnya, bagaimana? Apa selama in dia memang sering mimisan?


Bersambung..


__ADS_2