Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 05. Tata Story 24.


__ADS_3

"Lala."


Seketika musik terhenti ketika Lala jatuh ke atas panggung begitu saja. Aku dan Mas Gevan berhambur ke arah panggung begitu juga dengan para guru yang lain. Jantungku berdebar-debar takut terjadi sesuatu pada anak perempuanku itu.


"Lala." Aku mengangkat Lala yang ternyata pingsan di atas panggung.


"Astaga darah!" pekik Bu Ani selaku guru kelas Lala.


"Ta, ayo kita bawa Lala ke rumah sakit!" ajak Mas Gevan.


Mas Gevan merebut Lala dari gendonganku. Lalu kami setengah berlari menuju mobil. Tanpa sadar air mataku menetes. Tuhan aku takut, kenapa Lala mimisan? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.


"Pakai mobil Mas saja," ucap Mas Gevan.


Aku tak bisa lagi menolak. Saat ini yang paling penting adalah Lala. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada anak semata wayang yang aku dapatkan dengan susah payah itu.


Aku duduk di samping kemudi sambil memangku tubuh kecil Lala. Air mata benar-benar tak bisa di ajak berkerja sama. Dia jekauf begitu saja membasahi pipi ini.


"Sayang, Mama mohon jangan buat Mama panik dan takut seperti ini." Aku memeluk tubuh Lala masuk ke dalam pelukanku.


Lala adalah harta paling berharga yang aku miliki. Aku tidak akan tahu seperti apa hidup tanpanya. Dia gadis kecil yang membuatku kuat menjalani pahitnya kehidupan ini. Jika tak ada Lala bagaimana aku bisa hidup?


"Lala pasti baik-baik saja, Ta. Dia gadis yang kuat," ucap Mas Gevan menenangkan aku.


Bagaimana aku bisa tenang jika anakku terpejam begini. Apalagi darah mengalir dari hidungnya. Aku takut, aku benar-benar takut. Aku sejak kecil kehilangan sosok seorang ibu. Aku sejak kecil tak merasakan kasih sayang itu. Walau Mama Ara bisa menjadi segalanya. Tetapi tetap saja ada perbedaan antara ibu kandung dan ibu sambung.


Oleh sebab itu, aku ingin memastikan bahwa Lala merasakan sentuhan dan kasih sayang seorang ibu. Aku tak mau dia terluka. Aku tak mau dia sedih. Dia jantung hatiku. Dia detak nadi yang membuatku merasa memiliki separuh hidup.


Sampai di rumah sakit aku dan Mas Gevan langsung turun dan setengah berlari menuju ruangan UGD.


"Dok, tolong anak saya. Selamatkan dia," pintaku. Aku benar-benar memohon, untuk kali ini jangan ambil Lala. Dia segala sesuatu yang aku butuhkan dia dunia ini. Dia jantung hati yang aku inginkan ada.


"Baik, Bu. Silakan menunggu." Suster langsung menutup ranjang Lala dengan tirai pemisah.

__ADS_1


"Tata." Aku menoleh.


"Mas Rey."


Aku memeluk lelaki ini sambil menangis. Rasanya sakit sekali melihat Lala yang seperti tadi. Aku tak bisa bayangkan jika ada sesuatu lain di tubuh lain. Sementara aku yang selama ini bersamanya tidak tahu apa-apa.


"Kamu yang tenang, ya." Mas Rey mengusap bahuku. "Sambil berdoa. Yakinkan semuanya bahwa Lala baik-baik saja."


Entah kenapa tiba-tiba aku berinisiatif mengirim pesan pada Mas Rey dan mengatakan jika di larikan ke rumah sakit. Rasanya aku ingin mengadu pada lelaki ini.


"Ayo kita duduk dulu. Sambil menunggu Lala." Mas Rey menuntun aku duduk di bangku tunggu.


Sementara Mas Gevan tampak melihat kami berdua. Dia diam saja lalu duduk di sampingku. Aku sudah tak peduli padanya. Bagiku, sekarang yang paling penting adalah Lala.


"Kamu minum dulu!" Mas Rey membuka tutup botol di tangannya.


Aku menunggak air itu hingga tandas. Jujur saja tenggorokanku terasa kering karena berteriak memanggil Lala tadi. Apalagi aku sambil menangis.


"Terima kasih, Mas," ucapku mengembalikan botol tersebut.


"Aku tidak tahu, Mas. Tadi Lala ikut lomba dance di sekolah lalu saat perform dia jatuh dan pingsan. Hidung berdarah, Mas," aduku.


Mas Rey manggut-manggut paham. Dia memang cukup dekat dengan Lala selama aku berpisah dengan Mas Gevan, apalagi tutur bahasa lelaki itu yang lembut dan penuh perhatian. Mungkin saja itu yang membuat hati Lala luluh dengan perhatiannya.


"Kita tunggu hasil dokter," ucap Mas Rey.


Aku mengangguk dan bersandar di bahu Mas Rey sambil menunggu dokter selesai memeriksa Lala. Aku tak bisa pungkiri bahwa ketakutan kian menerkam dadaku. Semoga, Lala-ku baik-baik saja. Aku ingin bersama dengannya hingga ku habiskan akhir dari usia.


"Lala."


Aku mengangkat pandanganku. Kulihat ada Kak Naro, Kak Galaksi dan Shaka.


"Kakak." Air mataku luruh.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada Lala?" cecar Kak Naro memperbaiki rambutku yang sedikit berantakan.


"Tadi Lala pingsan, Kak."


Sejak aku bercerai dari Mas Gevan. Kak Naro begitu perhatian dan sayang pada aku dan Lala. Begitu juga dengan Kak Galaksi dan Shaka. Aku begitu beruntung memiliki saudara laki-laki yang sayang dan peduli padaku. Dalam keadaan terpuruk mereka selalu menjadi tempat paling nyaman untuk aku pulang.


"Semoga baik-baik saja." Kak Naro menarik aku dalam pelukannya.


Tak ada yang peduli pada Mas Gevan termasuk Mas Rey. Apalagi hubungan mereka memang tak baik-baik saja. Sebenarnya aku kasihan pada mantan suamiku itu tetapi semua juga atas perlakuannya sendiri.


"Kamu jangan jadi ibu yang cenggeng. Kamu harus kuat di saat Lala lemah," ucap Kak Naro.


Harusnya memang begitu tetapi bagaimanapun aku adalah perempuan biasa yang memiliki hati tak kuat saat melihat putri kecilku terbaring sakit seperti itu.


Kami masih duduk kursi tunggu. Kenapa dokter lama sekali? Tatapan mataku terus tertuju pada tirai yang menutupi ranjang Lala. Sementara Kak Galaksi masuk ke sana dan ikut memeriksa keponakannya itu.


Aku memang tidak sehebat dia dalam perkara melupakan. Tidak bisa bagiku secepat itu merelakan. Namun, aku percaya detik demi detik berlalu akan kubunuh semua detak yang masih menginginkannya. Akan kubenamkan dia lebih dalam di relung luka yang paling dalam. Aku tidak akan membiarkan sedetik pun untuknya bernafas tenang dalam kepalaku. Tidak ada tempat lagi untuk seseorang yang telah menyakiti hatiku. Hanya saja, aku butuh waktu, semuanya memang tidak mudah bagiku. Biarlah pelan-pelan semuanya berjalan. Karena pada akhirnya dia pun tak akan lagi ada dalam bagian yang aku inginkan.


Maka dari itu ku lirik mantan suamiku yang tampak menunduk. Aku tahu dia juga hancur melihat kondisi putrinya yang seperti ini. Jujur ada perasaan iba ketika dia diabaikan oleh ketiga saudara lelaki itu. Aku tak mengajarkan keluargaku membenci Mas Gevan tetapi perlakuannya sudah melewati batas.


Kak Galaksi dan beberapa dokter keluar dari tirai tersebut. Tampak Kak Galaksi berbicara serius dengan dokter tersebut. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada putri kecilku.


"Kakak."


"Ta, kamu dan Mas Gevan segera menemui dokter. Ada yang ingin dokter bicarakan dengan kalian," ucap Kak Galaksi melihat aku dan Mas Gevan secara bergantian.


Aku mengangguk. Lalu kami masuk ke dalam ruangan dokter. Tuhan, kumohon aku tak ingin mendengar sesuatu yang berat terjadi pada putri kecilku.


"Silakan duduk, Pak, Bu," ucap dokter mempersilakan.


Kami berdua duduk di kursi depan meja dokter. Dokter tersebut tampak mengeluarkan kertas dari amplop berwarna putih di tangannya mungkin itu hasil pemeriksaan Lala.


"Menurut hasil pemeriksaan laboratorium, Lala di diagnosis Leukemia stadium lanjut."

__ADS_1


Deg


Bersambung...


__ADS_2