
Aku masuk ke dalam rumah dan kulihat mobil Om Shaka sudah terparkir di garasi. Harusnya dia sudah pulang beberapa hari yang lalu, tetapi baru datang ke rumah sekarang. Ke mana saja suami tuaku ini? Dih, apa hakku ingin tahu urusannya? Bukankah kami tak seharusnya mengurus urusan pribadi masing-masing.
"Dari mana aja kamu?" tanya Om Shaka memasang wajah juteknya.
"Jalan-jalan, Om," jawabku singkat padat dan jelas. "Om kapan datang?" tanyaku.
"Sudah lama. Nunggu kamu. Ini buat kamu!" Dia melempar paper bag ke arahku.
"Apa ini, Om?" tanyaku dengan kening mengerut.
"Buka aja!" suruhnya sambil duduk di sampingku.
"Entar aja dah," ucapku meletakkan paper bag tersebut. "Om, ke mana aja sih? Kok lama amat, katanya cuma seminggu?" cecarku menatapnya curiga. Padahal aku sudah tahu bahwa dia bersama Kak Felly.
"Kemarin proyek saya belum kelar," jawabnya terlihat gugup.
Ah, apapun yang dia lakukan aku sudah tak peduli. Apakah hubungan seperti ini membuatku sedih? Sama sekali tidak. Entah apa yang membuatku tak sedih? Aku hanya sekarang tidak ingin peduli dengan apa yang di lakukan Om Shaka, mau dia peduli pada siapapun bukankah itu bukan urusanku? Aku tidak akan mengekang atau melarang apa yang ingin dia lakukan atau pergi ke mana dan dengan siapa?
Namun, waktu tidak pernah bisa ditebak. Terkadang perasaan diuji oleh hal-hal yang tak pernah terbayangkan. Hal-hal yang membuat menjadi lemah seolah tidak kuat untuk saling mempertahankan. Padahal tidak selemah itu. Namun, hidup selalu punya hal-hal tak terduga. Kadang hati merasa di ragukan oleh kondisi dan keadaan. Aku mengerti, banyak hal yang tak pernah bisa kubuat pasti. Yang aku tahu, aku hanya berusaha sekuat-kuatnya aku.
"Kamu habis jalan-jalan sama Mama. Tadi Mama telepon saya?" tanyanya.
"Iya, Om. Benar," jawabku. "Oh ya, Om. Lea mau belajar masak karena bagaimanapun Lea harus melayani Om sebagai suami Lea. Lea enggak mau dicap jadi istri durhaka," celetukku.
"Dih, yakin kamu bisa masak?" tanyanya.
Tak sengaja aku melirik jari Om Shaka. Tak ada cincin pernikahan kami yang melingkar di jarinya. Hah, kenapa dadaku sesak? Padahal mau dia pakai atau tidak itu bukan urusanku.
"Makanya Lea mau belajar, Om," sahutku penuh penekanan.
"Enggak perlu, takut kamu capek. Kamu di rumah aja. Lakuin apa yang mau, asal itu enggak melanggar surat perjanjian kita," tukasnya.
"Bosan, Om," renggekku.
"Lah, kamu 'kan jago bikin lukisan. Habisin aja waktu buat ngelukis," sahutnya. "Udah mandi sana, saya mau ajak kamu makan keluar!" titahnya.
__ADS_1
"Makan ke mana, Om? Makan seblak yaa?!" pintaku sambil mengedipkan mata jahil.
"Udah mandi aja sana. Nanti juga kamu tahu dan yang pasti bukan makan seblak," ketusku.
"Iya deh." Aku melenggang masuk ke kamar sambil melompat-lompat.
Mengikhlaskan sesuatu itu butuh waktu, tidak bisa instan. Apalagi melepaskan seseorang yang begitu di sayangi. Tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Hanya saja, sesuatu yang memaksakan diri untuk di lepas, sekeras apapun mempertahankan tetap saja akan lepas. Begitu juga dengan aku dan Om Shaka, sekuat apapun aku mengenggam tangan Om Shaka dan menceritakan semua keluh kesahku saat aku mengeluh karena berpisah darinya. Dia tidak akan kembali lagi memelukku seperti saat ini. Walau tidak ada ungkapan cinta di hati. Namun, aku sadar bahwa Om Shaka hanya mau sama Kak Felly.
Aku masuk ke dalam kamar mandi sambil menguyur tubuh dengan di bawah shower. Om Shaka mengatakan bahwa ada proyek yang belum di selesaikan. Padahal aku melihat dengan mataku sendiri bahwa dia jalan-jalan dengan Kak Felly. Tunggu! Kenapa Kak Felly duduk di kursi roda dan wajahnya juga pucat.
"Apa Kak Felly sakit ya? Tapi sakit apa?" gumamku.
Setelah mandi aku segera bersiap-siap, memakai rok berbahan jeans sampai lutut dengan baju rajut yang sengaja aku masukkan. Tak lupa bedak tipis aku tempelkan karena ini kencan pertamaku bersama Om Suami.
Aku keluar kamar dengan wajah sumringah. Begitulah caraku menutupi luka. Aku terhenti sejenak sambil melirik cincin yang melingkar di jari manisku, sedangkan punya suamiku sengaja dia lepas. Pasti dia takut jika ketahuan sudah menikah oleh kekasihnya sendiri.
Teruslah melangkah semakin jauh. Biarlah aku menenangkan segala perasaan rapuh. Bagiku, akan selalu ada alasan untuk kembali mencintai diri sendiri. Semoga Om Shaka bahagia dengan segala yang dia pilih dalam hidup ini. Walau jujur saja perasaan tentangnya tak pernah benar-benar mati. Aku pernah berharap bahwa kami akan kembali utuh meski sudah berpisah cukup lama.
Hidup memang harus berlanjut. Biarlah urai semua semua kepedihan yang kusut. Mas Bintang tak perlu memikirkan apapun perihal aku. Sebab dia takkan akan kuat menjalani bagian dari hidupku. Ini berat sekali. Namun, aku hanya ingin dia bahagia untuk hidupnya nanti. Jika itu yang aku pikirkan terbaik, biarlah ku pulihkan hatiku dengan sengaja ku buat tidak baik lagi. Hati yang dulu mencintainya dengan sungguh, kini dia sungguh-sungguh melukai perasaanku dengan utuh.
"Hai, Om Suami," sapaku.
"Dih, kenapa pakai rok?" protesnya.
"Emang mau pakai apa lagi? Kan biasanya juga Lea pakai rok, Om?" tanyaku tak habis pikir. Kadang laki-laki ini aneh sifatnya seolah menyayangi dan menginginkan aku ada dalam hidupnya.
"Ganti!" suruhnya.
"Enggak mau," tolakku melipat tangan di dada dengan wajah kesal.
"Ganti atau kita enggak pergi sama sekali!" ancamnya.
"Iya udah, lagian Lea cuma diajak," ujarku tersenyum tanpa dosa.
"Lea!" Dia menghembuskan napasnya dengan kasar. "Ganti cepat! Saya udah lapar," ujarnya sekali lagi yang tampak sudah emosi. Biarlah aku jadi istri durhaka yang suka membuat suami kesal.
__ADS_1
"Gak mau!" tolakku.
Aku terkejut ketika tubuhku seraya melayang di udara ternyata pria ini memanggul aku seperti karung beras.
"Om, lepasin!" Aku memukul-mukul punggungnya.
"Diam! Atau mau saya cium?" ancamnya.
Sontak aku terdiam. Huh, aku tidak akan rela jika ciuman pertamaku diambil oleh pria yang hatinya masih milik wanita lain.
"Cepat ganti baju, saya tunggu di sini!"
Dia menurunkan badanku. Aku masuk seraya menghentakkan kakiku kesal. Aku sudah berdandan secantik mungkin, eh malah disuruh ganti oleh pria itu.
"Suami kejam!" ketusku.
Aku memaki celana jeans panjang. Sepanjang jalan kenangan, biar sekalian dia tidak bisa melihat kakiku.
"Udah?"
"Udah," jawabku ketus.
"Iya udah ayo!" ajaknya.
Kami berdua masuk ke dalam mobil. Dasar suami kulkas, benar-benar tidak ada romantisnya. Aku masuk dengan wajah kesal saat dia tak membuka pintu untuk seperti di dunia novel saat CEO menyayangi istri kecilnya.
"Om," panggilku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kok cincinnya enggak dipakai, Om? Takut ya kalau Kak Felly tahu jika kita udah nikah?" tanyaku. Aku tak bisa membendung perasaan penasaranku.
"Masalah?" Dia tersenyum mengejek.
"Enggak sih, lagian 'kan kita cuma pura-pura doang entar juga bakal pisah," ujarku tersenyum kecut.
__ADS_1
"Maaf!"
"Lea kemarin liat Om sama Kak Felly di restoran dan mall. Om bilang nanganin proyek, kok bisa sama Kak Felly?"