
Lea POV.
Hai namaku Leania Barack, panggil saja Lea. Nama yang cantik, bukan? Jelas, 'kan orangnya memang cantik imut dan menggemaskan. Usiaku 19 tahun, aku baru saja menyelesaikan pendidikanku di usia menengah atas. Dan ah sudahlah, rasanya lelah sekali jika harus menceritakan semuanya.
Aku dinikahi oleh lelaki dewasa yang usianya jauh lebih tua dariku. Siapa sangka calon pramugari yang cantiknya tujuh turunan, delapan tanjakan dan sembilan tikungan ini harus merelakan semua mimpinya hanya karena pria tua itu.
"Kenapa kamu diam terus?" tanya Kak Zico, dokter tampan yang membuat jantung berdebar-debar setiap kali menatap wajahnya. Tatapannya mampu membuat aku salah tingkah.
"Lagi mikir, Kak. Caranya biar bisa jadi pesulap," sahutku asal.
"Kamu ini..." Kak Zico mengacak rambutku dengan gemasnya.
Kak Zico satu-satunya orang yang kuberikan tentang pernikahanku dan Om Shaka di luar keluarga.
"Gimana hubungan rumah tangga kamu?" tanya Kak Zico.
"Enggak gimana-gimana, Kak. Iya gitu deh," jawabku sedikit malas.
Selama satu Minggu ini Om Shaka tidak meneleponku. Katanya dia akan selalu menghubungi dan mengabariku satu kali dua puluh empat jam. Namun, sudah nyatanya tidak ada. Memang dasar aku yang terlalu berharap banyak, padahal aku tahu jika pernikahanku dengannya hanya di atas kerja.
"Jadi test pramugari?" tanya Kak Zico.
"Tunda dulu, Kak. Mungkin tahun depan," jawabku.
Tak kusangka menikah di usia 19 tahun. Padahal banyak yang ingin aku capai sebelum menjadi seorang istri. Nyatanya semua mimpi itu hambar saat Papa dan Mama memintaku menikah dengan pria tua perjaka itu.
"Kenapa?" tanya Kak Zico.
"Om Shaka bilang tahun depan aja," jawabku.
"Harusnya Shaka itu mendukung cita-cita kamu bukan menghalangi. Lagian Jakarta dan Pontianak enggak jauh," ujar Kak Zico.
"Enggak apa-apa deh, Kak. Aku mau fokus ngelukis aja. Semoga bisa jadi pelukis terkenal," ucapku santai.
__ADS_1
Kak Zico menatap aku sambil tersenyum lebar. Kak Zico adalah tetangga sebelah rumah. Aku mengenalnya sejak kecil. Dia juga sahabat baik Kak Leon.
"Oh ya, Kak. Kak Felly pacarnya Om Shaka katanya udah nikah?" tanyaku. Aku mengenal Kak Felly saat Om Shaka membawaku ke rumah sakit di pertemuan pertama kami. Sejak itulah aku tahu jika mereka memiliki hubungan khusus.
"Kurang tahu ya, beberapa Minggu ini Felly memang enggak masuk kerja," jawab Kak Zico.
"Ah udahlah enggak usah dibahas. Lagian juga pernikahan aku sama Om Shaka cuma kontrak. Tahun depan aku akan pisah sama dia," ucapku sambil tersenyum.
Apakah Kak Zico tahu bahwa aku memalsukan senyum di depan matanya. Jujur saja aku sedih saat Om Shaka pergi begitu saja di hari kelulusanku. Padahal aku ingin memamerkan nilaiku yang paling tinggi, tetapi dia malah pergi menemui Kak Felly. Pasti dia menemui Kak Felly, siapa lagi yang wanita yang menjalin hubungan dengannya.
"Kamu enggak sedih sama sekali entar mau pisah sama Shaka?" tanya Kak Zico.
"Enggaklah, lagian kami enggak saling cinta," sangkalku.
Kak Zico manggut-manggut. Sekian lama mengenal dokter tampan ini, aku tak pernah melihat Kak Zico pacaran atau memiliki kekasih.
"Kak," panggilku.
"Iya, kenapa?" tanya Kak Zico tersenyum lebar.
"Kenapa kamu nanyain pacar Kakak?" Kening Kak Zico mengerut heran.
"Emang salah kalau pengen tahu?" Aku memincingkan mata kesal.
"Enggak salah cuma agak lain aja gitu." Kak Zico terkekeh pelan.
"Iyalah itu," jawabku ketus. "Kak, kayaknya udah agak sorean. Kalau menurut jadwal hari ini Om Shaka pulang, sebagai istri yang baik Lea harus pulang nyambut suami. Takut dia jatuh," celetukku.
"Ya udah ayo Kakak antar."
Kami masuk ke dalam mobil Kak Zico. Tunggu, itu bukannya Om Shaka? Apa aku salah lihat? Berkali-kali aku kukucek mata untuk memastikan bahwa itu adalah suamiku.
"Kak, itu Om Shaka, bukan?" Aku menunjuk ke arah seorang pria yang sedang mendorong kursi roda wanita berhijab masuk ke dalam restoran. Bagaimanapun aku mengenal jika itu adalah suamiku. Iya, itu suamiku bersama kekasihnya.
__ADS_1
"Iya itu Shaka," sahut Kak Zico. "Mau disamperin?" Kak Zico membuka sealbeat yang sudah melingkar di tubuhnya.
"Udahlah enggak usah aja, Om," cegahku. "Ayo anterin Lea pulang," ajakku.
Kak Zico menurut dan menyalakan mesin mobilnya. Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara. Kenapa rasanya aku sedikit kecewa melihat Om Shaka bersama Kak Felly? Bukankah sejak awal aku memang sudah tahu hubungan mereka? Harusnya aku tidak perlu merasa sedih seperti ini.
"Kamu enggak apa-apa?" Kak Zico melirikku.
Aku menggeleng, tetapi pipiku panas. "Enggak, Kak. Cuma kok bisa ya Om Shaka sama Kak Felly, padahal katanya dia lagi ada perjalanan bisnis di luar kota," ujarku.
"Kan kamu bilang hari ini dia pulang. Mungkin pas balik ke sini dia langsung ketemu Felly," kata Kak Zico ikut menimpali yang seperti menepis semua perasaan yang berkeliaran di kepalaku.
"Iya mungkin sih, Kak. Lagian kan Kak Felly emang pacarnya Om Shaka." Aku menghembuskan napas kasar.
Sampai di depan rumahku. Aku langsung keluar dari mobil dan Kak Zico kembali ke rumah sakit. Aku berjalan masuk sambil menarik napas sedalam mungkin. Kenapa hatiku sedikit terganggu melihat suamiku bersama wanita lain yang terlihat begitu bahagia?
"Sadar, Lea. Pernikahan kalian cuma kontrak. Jangan baper deh kamu!" Aku menepuk-nepuk pipiku yang panas. Jangan sampai aku menangis hanya karena hal sepele seperti ini.
Aku berjalan masuk sambil membawa kanvas dan kuas di tanganku. Aku cukup aneh, cita-cita pramugari tetapi hobi melukis. Entahlah, melalui lukisan aku dapat menggambarkan suasana hatiku. Walaupun saat ini hidupku cuku sempurna karena kelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku dengan sepenuh hati. Namun, tetaplah tidak ada kehidupan yang sempurna di dunia ini walau begitu di mata orang lain. Aku contohnya, tak pernah kekurangan kasih sayang baik dari orang tua ataupun saudara. Apa yang aku inginkan pasti akan selalu dipenuhi tanpa aku meminta.
"Selamat siang, Bi," sapaku.
"Siang juga, Non," balas Bi Atiek.
"Ayo, Non. Makan siang, Bibi udah masakin makanan kesukaan Non," ujar Bi Atiek.
Jujur saja sih aku bosan di rumah. Pengangguran dan tak memiliki kehidupan apapun selain melukis dan jalan-jalan. Teman-teman SMA ku semuanya sudah melanjutkan kuliah. Sementara aku bertahan di sini hanya karena permintaan suami. Sebenarnya aku ingin membantah, tetapi kata Mama sebagai istri yang baik harus menurut.
"Bi, ayo temanin Lea makan," ajakku menarik kursi lalu duduk. "Panggil Kang Asep sekalian!" suruhku.
"Siap Nona Boss."
Aku mengambil beberapa makanan. Sepertinya aku harus belajar masak dari Bi Atiek, selama setahun ini aku akan jadi istri Om Shaka. Jadi, harusnya aku meninggalkan kesan yang baik sebelum nanti menjadi orang yang layak dilupakan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Bi Atiek dan Kang Asep datang dan duduk makan bersamaku.
"Bi, ajarin Lea masak dong. Bosan enggak ada kegiatan."