Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Bertemu.


__ADS_3

Bintang POV.


Setelah urusan rumah sakit selesai dan beberapa urusan lainnya. Hari ini aku membawa Nara pulang ke Singkawang untuk bertemu dengan keluargaku. Aku yakin Ayah, Bunda dan Bee akan sangat syok melihat kedatangan mantan istriku ini.


"Dih, pikirkan juga kami yang jomblo ini, Kak," sindir Galaksi yang duduk di bangku kemudi bersama Auny yang sibuk mengunyah snack di mulutnya.


"Makanya Kakak itu cari jodoh. Biar bisa seperti Kak Bintang," sambung Auny.


"Cih, kamu pikir Kakakmu yang tampan ini tidak ada yang melirik? Kakak hanya tidak mau, Kakak itu selektif dan mencari wanita yang berkelas dan berkualitas," ujar Galaksi dengan senyum sombongnya.


"Kayak beras saja, Kak. Pakai kualitas segala," sergah Auny.


Aku dan Nara hanya tersenyum saja di belakang. Galaksi dan Auny memang selalu begitu, kalau jauh rindu kalau dekat ya berdebat terus.


"Jangan di dengarkan, Sayang. Mereka memang begitu. Maklum jomblo," ledekku menempel kepala Nara di dada bidangku.


"Dih, giliran sudah balikan saja bilangnya seperti itu. Kemarin-kemarin dia itu seperti mayat hidup, Kak." Aku menendang kursi belakang Galaksi saat dia akan membuka aib bahwa aku pernah begitu gila setelah berpisah dengan Nara.


"Jangan percaya, Sayang. Dia bohong," kilahku memeluk tubuh kecil Nara.


Aku adalah orang yang akan membuat Nara mengerti. Memperjuangkan bukan perkara berjuang untuk yang dicintai saja. Namun, dia pun pantas di perjuangkan. Kami akan memulai semua ini bersama-sama. Itulah mengapa Nara tak perlu meragukan aku. Aku ingin dia dan aku tetap teguh dan mengutuhkan kami. Hingga tiba saat tak ada satu orang pun bisa mencoba melemahkan. Akan kami buktikan pada orang-orang yang selalu meragukan apa yang di perjuangkan. Bahwa semua yang kami jalani bukan hal yang main-mainkan hati. Bukan hal yang dicoba-coba setengah mati.


"Mengantuk tidak?" Nara mengangguk. "Ya sudah bersandar di dada Mas sambil tiduran!" ucapku sambil memperbaiki jacket yang menutupi tubuh Nara.


"Iya, Mas."


Nara memeluk pinggangku sambil memejamkan matanya. Tak mudah, mantan istriku ini ternyata mengalami trauma yang berat akibat kejahatan yang Rimba lakukan. Sebelumnya aku dan Naro sempat membawa Nara ke psikiater karena takut jika dia mengalami serangan. Syukurnya tidak dan Nara bisa menguasai emosinya ketika mengingat perlakuan Rimba yang tidak berperikemanusiaan.


Kutatap wajah teduh yang terlelap tersebut. Aku tak menyangka jika wanita ini kembali lagi padaku. Mungkin inilah alasan kenapa aku tak bisa membuka hati untuk wanita lain karena Tuhan ingin aku dan Nara kembali bersama. Rasanya semuanya seperti bermimpi. Wanita yang selalu hadir dalam mimpiku ini kini kembali berada di pelukanku.


"Mas mencintaimu, Nara. Terima kasih." Kukecup ujung kepalanya dengan mengeratkan pelukanku.


Jarak telah mengikis di antara kami. Aku ingin menyakinkan Nara sepenuh hati. Menemani aku menangisi hal-hal yang membuatku menyesal telah melakukannya. Aku akan menggenggam tangannya dan meyakinkan dia bahwa kami takkan membiarkan apapun memisahkan kami lagi.


Setelah ini aku akan menikahi Nara. Kami akan hidup bahagia berdua selamanya. Inilah titik terbaik takdir, sesuatu yang awalnya tak pernah terbayangkan. Tuhan sediakan dalam segala hal.

__ADS_1


Mona adalah wanita yang dulu ingin kunikahi dan akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku. Namun, siapa sangka Tuhan begitu bisa mengecoh hati umatnya. Tiba-tiba Mona hamil bersama Ikmal, awalnya aku marah dan benci karena pengkhianatan itu. Tetapi sekarang aku sadar begitulah cara Tuhan menyelamatkan aku dari wanita yang salah. Lalu aku di pertemukan dengan wanita baik yang tak lain adalah mantan istriku sendiri.


.


.


Tak terasa perjalanan panjang itu telah membawa kami sampai di kota Singkawang.


"Mas, sudah sampai ya?" Nara mengeliat di dadaku.


Aku terkekeh gemas melihat wajah bantalnya. Bukannya jelek malah terlihat imut dan juga menggemaskan. Nara-ku benar-benar cantik. Aku akan menyesal selama hidup jika Nara tak kembali padaku.


"Sudah, Sayang," jawabku.


Kami berempat keluar dari mobil. Galaksi merenggut kesal ketika harus menggendong Auny keluar dari mobil. Adik sepupuku itu selalu saja suka tidur di perjalanan dan sudah sekali di bangunkan.


"Nara."


"Bunda."


"Bunda." Nara mendekat kearah Bunda.


"Nak."


Kedua wanita yang sangat aku cintai itu saling berpelukan satu sama lain. Bunda sampai menangis terharu, dia memang sangat menyayangi Nara dan menganggap kekasihku ini sebagai anak kandungnya.


"Bunda, Nara kangen banget sama Bunda."


"Bunda juga kangen sama kamu, Nak."


Tangis haru biru terdengar di ruang tamu. Tak hanya Bunda yang terharu tetapi juga Ayah, mereka saling bertangisan satu sama lain.


"Apa kabar kamu, Nak?" Bunda melepaskan pelukan Nara.


"Nara sehat, Bunda," sahutnya sambil menyeka air matanya. "Bunda apa kabar juga?" tanya balik Nara.

__ADS_1


"Bunda sehat, Nak."


Aku dan Bunda membawa Nara masuk ke dalam kamar Bee. Tampak adikku masih sibuk mengganti popok anaknya dan di bantu oleh Mpok Atiek asisten rumah tangga yang bekerja di rumah kami.


"Bee."


Bee menoleh kearah kami. Mata adikku membulat sempurna ketika melihat siapa yang datang. Andai saja dia sudah bisa berlari, pasti dia akan berhambur memeluk kekasihku itu.


"Kak Nara."


Nara mendekat kearah Bee. Dia tersenyum hangat dengan mata berkaca-kaca menatap mantan adik iparnya tersebut dan sebentar lagi akan menjadi adik iparnya.


"Ini benaran Kak Nara."


"Iya, Bee. Ini Kakak."


Nara dan Bee saling berpelukan satu sama lain. Bee sampai menangis segugukan memeluk Nara. Apalagi selama ini dia memang merindukan wanita ini.


"Kakak, Bee kangen sama Kakak. Kangen banget, Kak," renggek Bee.


Bee ini sangat manja apalagi masih muda. Tak bisa kubayangkan bagaimana nanti kalau anaknya sudah besar. Pasti yang akan jadi orang tua Ayah dan Bunda, sedangkan dia akan sibuk dengan dunianya sendiri.


"Kakak juga kangen banget sama kamu, Bee. Kangen banget," balas Nara.


Aku tersenyum hangat sambil menatap kedua wanita ini. Kehadiran Nara seperti menghidupkan keluargaku kembali. Jujur saja setelah Bee hamil di luar nikah kami jarang sekali berkumpul, sifat Ayah dan Bunda sangat dingin pada adikku. Hanya aku saja yang begitu peduli karena aku memang sudah menerima bagaimanapun kondisi adikku.


"Bee tidak bermimpi 'kan, Kak? Kakak benar-benar kembali?"


Bee berulang kali meyakinkan dirinya apakah dia bermimpi atau sedang berhalusinasi. Sebab yang dia tahu jika kami memang sudah berpisah sejak lama.


"Tidak, Bee. Ini benar-benar nyata. Kakak ada di sini," jawab Nara tersenyum hangat.


"Terima kasih sudah kembali, Kak. Bee berharap Kakak dan Mas Bintang bahagia selamanya," ucap Bee.


Nara membalas dengan anggukan yang membuatku tak bisa berpaling.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2