Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Tinggalkan kami


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku masih terdiam mendengar pengakuan Divta. Jadi, selama ini Divta menaruh perasaan dalam padaku. Aku tidak pernah menyadari hal ini, entah terlalu polos dan bodoh atau aku memang tidak aku tahu. Padahal aku tahu tidak ada kebaikan yang sungguh-sungguh gratis tanpa maksud dan tujuan.


"Ra, aku mohon jangan suruh aku pergi," mohon Divta.


Divta berjongkok didepan aku yang duduk di sofa. Kenapa kami mirip seperti film-film layar lebar, di mana sang lelaki melakukan kesalahan dan meminta maaf pada wanita-nya? Mungkin begitu lah posisi kami sekarang.


"Aku mencintai kamu, Ra. Sangat. Aku tidak mau kehilangan kamu dan anak-anak. Nara dan Naro sudah seperti anak ku sendiri," pinta Divta masih memohon agar aku tidak meminta dia pergi.


Aku menatap Divta, selama aku mengenalnya baru kali ini melihat Divta menangis. Aku sebenarnya tak habis pikir, bagaimana bisa seorang Divta menyukai wanita janda seperti ku? Didekat nya banyak wanita-wanita berkelas yang bergelar dokter dan guru. Tetapi kenapa Divta justru menaruh rasa pada perempuan yang hanya lulusan sekolah menengah atas.


"Aku sudah memiliki rasa sama kamu sejak kita masih duduk dibangku sekolah, Ra. Sejak kamu sama Galvin," ungkap Divta lagi.


Aku terdiam sambil menatap Divta yang menangis dan memohon agar jangan meminta nya pergi.


"Aku minta maaf, Ta. Aku mohon tolong pergi dari kehidupan kami. Aku tidak mau Chelsea menyakiti anak-anak ku nanti. Mengertilah." Kali ini aku yang memohon.


"Tapi Ra_"


"Kembalilah pada Chelsea, Ta. Dia wanita yang mencintai kamu," ucap ku.


"Dia tidak mencintai ku, Ra. Aku mencintaimu," sergah Divta.


Aku berdiri dari duduk ku dan melepaskan tangan Divta yang mengenggam tangan ku. Sudah cukup semua rasa sakit yang aku rasakan selama ini, aku tak ingin lagi rasa inb membunuh ku perlahan.


"Pulanglah, Ta. Ini sudah malam. Aku mau istirahat!" usirku sambil menyeka air mataku.


Divta menatap ku sendu. Aku minta maaf karena aku tidak bisa membalas perasaan nya. Aku takut memulai hubungan sebab rasa sakit yang Mas Galvin tinggalkan kini masih menusuk dibagian-bagian partikel hatiku.


"Aku pulang, Ra," pamitnya.


Divta berjalan keluar dari rumah dengan tatapan sendu dan menunduk. Sesekali dia melirik ku yang berdiri didepan pintu.


Sebelum benar-benar meninggalkan rumah ku, tak lupa dia membunyikan klakson mobilnya seraya tersenyum tipis bersama mobil yang melaju perlahan.


Aku bersandar di pintu, merasakan segala rasa sakit yang menyeruak masuk. Ya, aku tidak tahu jika selama ini Divta menyukai ku. Aku pikir semua yang dia lakukan adalah bentuk kepedulian nya pada aku dan anak-anak, ternyata itu hanya sebagai kedok menutupi semua rasa yang ada didalam dadanya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ta. Kamu berhak bahagia tetapi tidak harus sama aku. Kita tidak mungkin bersama, karena kita berbeda. Kamu bisa menemukan kebahagiaan yang lain."


Aku masuk kedalam rumah dan aku terkejut, ketika melihat Naro berdiri di belakang ku.


"Son, belum tidur?" Aku segera menyeka air mataku. Naro tak boleh tahu jika aku sedang menangis, dia bisa terluka kalau Mama-nya cenggeng.


"Mama kenapa?" tanya Naro menyelidik, anakku yang satu ini memiliki rasa empati yang kuat.


"Mama tidak apa-apa, Nak," jawab ku memaksa kan senyum. "Ayo Sayang kita tidur," ajakku sambil menutup pintu.


"Son, kamu tidur duluan ya. Mama mau membersihkan diri," ucap ku.


"Naro tunggu dikamar Ma," sahut Naro.


"Iya Sayang," sahut ku sambil tersenyum.


Aku membersihkan diri di kamar mandi sederhana. Tidak ada shower atau bathtub seperti yang di novel-novel atau film layar lebar. Kamar mandi ini kecil, tetapi setidaknya cukup untu tempat mandi.


Aku membasahi tubuhku. Rasanya hari ini cukup melelahkan. Aku harus terjebak dalam dua rasa, rasa penasaran dan rasa yang baru saja Divta ungkapkan.


Pertemuan ku dengan Chelsea serta ancaman wanita itu pada kedua anakku. Membuat emosi ku seketika membuncah. Aku mengenal Chelsea, dia tipe wanita yang nekad dan rela melakukan apa saja demi obsesi nya. Jika Chelsea mencelakai ku tidak masalah, aku bisa menjaga diri. Tetapi bagaimana dengan anak-anak yang bahkan belum mengerti apa-apa.


"Mama," teriak Naro.


"Ada Naro?" tanya ku panik, bahkan rambutku masih basah.


"Mama, Kakak demam," lapor Naro.


"Naro masuk ke kamar Kakak duluan. Mama pakai baju dulu," suruh ku pada Naro.


"Iya Ma," sahut Naro.


Aku segera masuk kedalam kamar dan segera memakai pakaian secepat kilat. Panik, takut dan khawatir semua perasaan itu bercampur aduk. Apalagi Nara punya riwayat penyakit jantung. Nara lahir prematur kala itu, dan dia sempat masuk kedalam kaca beberapa bulan sampai kondisi nya membaik. Itulah yang membuat daya tahan tubuh Nara tidak sekuat adiknya Naro.


"Nara."


Aku masuk kedalam kamar anak-anak ku. Nara dan Naro memang tidur di kamar yang sama tetapi berbeda ranjang. Sebab rumah ini hanya memiliki dua kamar kecil.


"Mama," lirih Nara.


"Astaga, Sayang. Badan kamu panas sekali," pekik ku.

__ADS_1


Nara mengigil, suhu tubuh nya hampir 40 derajat. Panas nya tinggi.


"Mama kita bawa Kakak kerumah sakit," ajak Naro yang sudah terisak.


Aku bingung, bagaimana bisa membawa Nara ke rumah sakit malam-malam seperti ini. BTN yang aku beli jauh dari kota, kalau pun memesan taksi online pasti akan lama.


"Naro bisa jalan kaki?"


"Bisa, Ma," jawab Naro.


"Sayang kamu bawa tas Kakak. Mama akan gendong Kakak, biar kita sampai di kota sambil pesan taksi!" perintah ku.


"Iya Ma," jawab Naro lagi menurut.


Aku mengambil jaket tebal dan membungkus tubuh Nara. Aku mengangkat tubuh anakku yang berusia 10 tahun tersebut.


"Ayo Son," ajakku.


Aku dan Naro keluar dari pagar rumah. Air mata ku tak terbendung, ini sudah menunjukkan pukul 12 malam. Apa mungkin masih ada taksi online.


"Mama masih kuat gendong Kakak?" tanya Naro yang kasihan melihat ku.


"Mama kuat, Sayang," jawabku.


"Ma, kenapa tidak ada taksi?" tanya Naro lagi.


"Ma telepon Om Divta saja, Ma," saran Naro sambil mengotak-atik ponsel ku.


"Jangan Nak, telepon Pak Dante saja. Ada nomor nya di hp Mama," sergahku.


"Iya Ma," sahut Naro.


Kami terus berjalan dijalan sepi. Hampir dua kilometer menuju kota. Sampai di kota rumah sakit juga sangat jauh.


"Mama," rintih Nara seperti kesakitan.


"Sabar Sayang," ucap ku mengusap kepala Nara.


"Nara sesak nafas Ma," adu Nara yang mampu membuat air mataku luruh.


"Iya Sayang, Mama tahu. Kita akan sampai kamu yang kuat ya," ucap ku menenangkan anak perempuan ku tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2