
Dia terlihat bahagia karena merasa berhasil melukaiku. Dia harus tahu, aku bahkan tak lagi menginginkannya. Dia, hanyalah bagian dari masa lalu yang pernah singgah. Semua perihal tentang dirinya mungkin tak bisa terhapus begitu saja, tetapi kupastikan semua yang kujalani hati ini tidak ada lagi untuknya. Hari-hari baru telah sayang, dan dia bukan lagi sesuatu yang menarik untuk ditunggu. Meski sesekali melintas di pikiran, dia bukan lagi seseorang yang menyenangkan untuk dirindu.
"Selamat tidur, Sayang."
Mas Gevan mengecup ujung kepalaku dan berbaring di sampingku. Aku hanya pura-pura memejamkan mata karena malas dan tak mau melihat wajahnya. Bukan karena aku benci. Tetapi setiap kali melihat dia aku selalu teringat pada apa yang dia lakukan padaku.
Dia terbangun lalu keluar dari kamar. Aku yang tadinya pura-pura tidur sontak membuka mata. Aku juga turun dari ranjang dan berjalan mengikutinya secara mengendap-endap takut ketahuan.
Awalnya dia berjalan kearah dapur dan mengambil segelas air putih. Lalu berjalan menuju sebuah kamar yang tentunya bukan kamar kami. Aku bersembunyi di balik pintu.
Benar dugaanku jika Mas Gevan akan masuk ke dalam kamar Mbak Queen. Aku berjalan dan mengintip di balik pintu.
"Sayang, bangun. Ini air putihnya," ucap Mas Gevan membangunkan Mbak Queen.
Takut ketahuan aku menuju ruangan CCTV yang terletak di lantai atas. Mas Gevan dan Mbak Queen tidak tahu jika diam-diam aku memasang CCTV di dalam kamar Mbak Queen. Suamiku tidak tahu sedang berhadapan dengan perempuan seperti apa? Dia pikir aku lemah dan mudah di tindas. Oh aku tidak akan biarkan hal tersebut terjadi karena aku wanita kuat sekuat karang.
Aku memperbesar volume di komputer ini agar suara mereka terdengar jelas.
"Terima kasih, Sayang." Mbak Queen mengambil gelas dari tangan Mas Gevan.
"Kamu kenapa sih? Kok kesal terus?" Aku jenggah ketika Mas Gevan menyingkirkan anak rambut Mbak Queen.
"Aku itu kesal, Van. Tadi Tata singgung-singgung aku dan bilang kalau aku akan mati melahirkan." Dih mengadu. Tetapi tak apa, aku malah senang biar Mas Gevan semakin ketakutan.
__ADS_1
"Lho, memangnya Tata tahu kamu hamil?" tanya Mas Gevan.
"Iya tidak tahu sih, Van. Tapi sepertinya dia curiga," jelas Mbak Queen. "Lagian kenapa sih, Van? Kamu tidak menceraikan dia saja," ucap Mbak Queen manja sambil memeluk lengan Mas Gevan.
"Dia bisa saja merusak hubungan kita."
Bukannya marah atau cemburu aku malah ingin rasanya tertawa. Merusak hubungan? Bukankah dia yang menghancurkan rumah tanggaku dan Mas Gevan. Tetapi kenapa malah aku yang di tuduh akan menghancurkan hubungan mereka. Dasar pelakor dan lelaki gatal.
"Tidak bisa, Sayang. Aku mencintai Tata dan aku juga tak bisa jauh dari Lala," jelas Mas Gevan.
"Ya gampang, Van. Kamu tinggal ambil saja hak asuh Lala. Aku bisa kok jadi mama-nya Lala."
Aku yang tadinya terlihat tenang seketika mengepalkan tangan sangat kuat ketika Mbak Queen memberi saran pada Mas Gevan agar mengambil hak asuh Lala. Huh, sampai tanah berada di atas kepalaku. Aku tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi. Langkahi dulu mayatku jika ingin memisahkan aku dan anakku.
"Janji ya, Sayang." Mbak Queen memeluk suamiku dengan agresif.
"Minggu depan kamu sudah harus pindah sebelum kandunganmu membesar. Aku sudah belikan rumah buat kamu." Mas Gevan mencolek dagu Mbak Queen dengan manja.
"Aah makin sayang." Mbak Queen memeluk lengan suamiku dengan renggekkan manja.
"Bagaimana kalau malam ini kita saling memuaskan." Mbak Queen membuka kancing piyama suamiku.
"Boleh banget. Kebetulan Tata lagi datang bulan jadi dia tidak bisa melayani aku."
__ADS_1
Aku merekam semua percakapan dan apa yang mereka lakukan di dalam kamar. Suatu saat file ini akan menjadi bukti perselingkuhan Mas Gevan. Lihat saja aku akan membuat mereka berdua malu di depan semua orang. Hoh, enak saja mereka sudah menyakiti perasaanku dan menganggap aku wanita bodoh yang tidak tahu apa yang mereka lakukan?
Aku mengambil flashdisk tersebut dan keluar dari ruangan CCTV sebelum Mas Gevan kembali ke kamar kami tentunya setelah dia memuaskan birahinya dari perempuan pelakor tersebut.
Aku tetap tenang. Anggap saja tidak terjadi sesuatu. Toh, kedua bintang menyerupai manusia itu tengah saling bertukar saliva satu sama lain. Biarkan saja.
Aku masuk kembali ke dalam kamar lalu menyimpan flashdisk tersebut dan kembali berbaring dengan tenang. Namun, seketika pipiku panas. Tak bisa di pungkiri walau aku mengatakan diriku kuat sekuat dan sekeras batu tetapi tetaplah wanita lemah yang rapuh ketika melihat pria yang aku cintai berkhianat.
Demi diriku. Demi banyak hal yang belum kuselesaikan. Demi Lala yang aku cintai. Kupastikan dia hanya kenangan yang telah mati. Seseorang yang tak mempunyai lagi di dalam diri kecuali sebatas kenangan saja l. Sebab, aku tak bisa menghapus kenangan yang datang tiba-tiba. Biarlah begitu adanya. Nanti semesta juga lelah mengirim bayangnya sebeb aku tak lagi butuh semua itu.
Ingatan menang sejak menggaduh langkah. Namun, sejuta yang akhirnya berganti. Semua yang hilang biarlah hilang. Kini langkah baru telah tiba. Saatnya memulai dengan hati yang lebih setia. Biarlah berlalu semua yang menyebabkan luka. Hidup terlalu singkat dihabiskan dengan sesuatu yang terus melukai. Masih panjang jalan yang harus kutempuh. Nanti, dengan seseorang yang juga sepenuh hati. Kisah ini akan kembali utuh.
Perlahan aku mulai terbiasa dengan sikap dan perlakuan Mas Gevan. Mulai ikhlas untuk membiarkan dia memilih kehidupan yang lain bersama orang lain. Aku tidak akan melarang apalagi menahan kepergiannya. Biarlah dia temukan bahagia di tempat lain. Sementara aku akan tetap hidup bersama anakku Lala menjadi orang tua tunggal yang akan memberikan segalanya.
Kak Naro dan Mas Angga saja betah dalam kesendirian. Lalu kenapa aku harus khawatir jika berpisah dari Mas Gevan? Bukankah hidupku akan baik-baik saja waktu tanpa adanya dia.
"Mas, aku ikhlas melepasmu. Aku tidak akan menahan apa yang sudah kamu pilih. Tetapi jangan menyesal ketika nanti dia tidak sama seperti aku. Aku akan bahagia bersama anak kita, Lala. Aku tidak menyesali keputusanmu menduakan aku, Mas. Mungkin aku memang bukan wanita terbaik buat kamu."
Aku mengambil ponselku dan menghubungi temanku yang bekerja di kantor pengadilan untuk mengurus surat perceraianku dan Mas Gevan. Walau cinta di dalam hati masih membara dan menyala-nyala tetapi aku tak bisa bertahan dengan pria yang sama sekali tidak menghargai aku sebagai istrinya.
"Selamat berpisah, Mas. Sampai bertemu di pengadilan agama."
Bersambung....
__ADS_1