
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku turun dari motor dan membayar ongkos. Matahari sudah terbit dan memancarkan sinarnya. Aku masuk kedalam pagar rumah.
"Naro," panggil ku.
"Mama," sahut Naro yang sedang sibuk memasang seragam sekolahnya.
"Mama," panggil Nara juga yang tampak sudah sarapan bersama Ibu.
"Hai, Sayang," sapa ku. Aku benar-benar lelah hari ini, hujan semalam menguyur seluruh tubuh ku.
"Maaf semalam Mama_"
"Om Baik sudah bilang Ma, kalau Mama menemani Tata," potong Naro.
Aku terkejut, kapan Pak Dante memberitahu Naro kalau aku menginap dirumah nya. Pantas saja Nara dan Naro tidak panik saat aku tidak pulang.
"Sebaiknya kamu bersihkan diri saja, Nak. Nara dan Naro biar Ibu yang urus," ucap Ibu.
Aku mengangguk dan masuk kedalam kamarku. Aku duduk dibibir ranjang sambil menghela nafas panjang. Kejadian tadi tidak bisa aku lupakan. Pelukkan nyaman dari Pak Dante seperti melekat dikepalaku. Ku usap wajah ku dengan kasar.
Kembali lagi aku teringat dengan percakapan antara aku dan Kak Dea kemarin. Aku harus menanyakan ini pada Ayah dan Ibu, dan aku berharap mereka jujur di mana orang tua kandung ku dan apa alasan aku dibuang.
Aku membersihkan diri di kamar mandi kecil. Dinginnya air seolah masuk menyeruak kedalam relung hatiku terdalam. Lelehan bening yang tak bisa ku tahan ini kembali lolos begitu saja. Aku sudah membayangkan bagaimana masa lalu ku sebelumnya, apakah aku benar-benar dibuang oleh kedua orang tua ku. Atau kehadiran ku hanya benalu bagi mereka.
Aku sudah siap dengan pakaian kantor, seperti biasa aku akan mengantar Naro ke sekolah. Sementara Nara masih belum bisa masuk sekolah karena kondisinya.
"Kamu tidak sarapan, Nak?" tanya Ibu.
__ADS_1
"Tidak Bu, Ara sarapan di kantor saja," sahutku.
Entah kenapa mengingat obrolan ku dan Kak Dea kemarin, membuatku sedikit kecewa dengan sikap Ibu. Dia mengatakan kalau aku ditemukan saat bayi didepan rumah. Sedangkan Kak Dea mengatakan jika aku memang sengaja di berikan pada mereka dan diangkat sebagai anak.
"Sayang, Mama kerja dulu ya. Nara baik-baik di rumah," ucap ku sambil mengecup kening Nara dengan sayang.
"Iya Mama hati-hati kerja nya. Jangan lupa makan siang ya, Ma," pesan Nara mengecup pipi ku.
Aku kembali berkaca-kaca. Setelah meratap cukup lama akhirnya Nara mulai menerima kenyataan bahwa Papa-nya memang sudah tidak akan hidup lagi. Walau aku tahu jauh didalam hati kecilnya, dia menyimpan satu beban yang mungkin saja memang tidak dia katakan padaku.
Tak bisa ku bayangkan, anak sekecil ini harus menanggung beban dan rasa sakit di tubuh dan hati nya. Apalagi Nara cacat, walau dia sudah tak menggunakan kursi roda setelah melakukan beberapa terapi. Aku sedang menabung untuk membawa Nara ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap. Beberapa waktu belakangan ini pengeluaran ku sangat banyak dan tidak seimbang dengan pendapatan. Apalagi aku harus membayar cicilan yang perusahaan yang ku pinjam untuk pengobatan Nara.
"Iya Sayang, nanti pas Mama pulang Nara mau di bawain apa?"
"Martabak manis Ma yang rasa keju!" seru Nara dengan sumringah. Dia sangat menyukai jajanan yang satu itu, hanya saja jajanan ini di jual setiap sore menjelang malam. Jadi kalau pagi sampai siang akan sulit menemukan nya.
"Iya, Nak. Ya sudah Mama berangkat yaa," pamitku.
Mira sudah datang menjemput. Mira tidak keberatan mengantar jemput ku setiap hari. Tetapi walau begitu aku tetap merasa tak enak hati karena sudah merepotkan sahabat ku. Aku berencana ingin membeli kendaraan roda dua, setidaknya aku bisa pergi kemana-mana tanpa memesan taksi atau ojek online.
.
.
"Ra, bagaimana penyelidikan kamu tentang almarhum istri Pak Dante?" tanya Mira.
"Belum Mir." Aku menghela nafas panjang.
"Aku bukan menyuruh mu menyerah si Ra, lebih baik tidak usah saja dicari tahu. Dari pada nanti kamu sakit hati saat tahu yang sebenarnya. Lebih sakit lagi kalau kamu tahu kebenaran itu dari orang lain," jelas Mira.
Aku menghela nafas panjang, aku juga sebenarnya tidak ingin mencari tahu kebenaran. Tetapi aku tidak bisa membendung rasa penasaran ku. Aku benar-benar penasaran dan ingin tahu hal tersebut.
"Aku penasaran, Mir," jawabku.
__ADS_1
"Ya buat apa penasaran sama orang yang memang sengaja buang kamu," ujar Mira.
Aku terdiam sejenak, apakah memang benar kalau aku ini di buang? Kenapa rasanya sakit sekali?
"Ara," panggil suara yang membuyarkan percakapan ku dan Mira.
Kami sama-sama menoleh, kening ku berkerut ketika melihat ada Divta di kantor ini. Apa yang dia lakukan? Divta masih memakai pakaian dinasnya. Beberapa waktu yang lalu Divta sedang ada perjalanan dinas. Biasanya aku yang menjemput dia ke pelabuhan, tetapi sejak Chelsea mengancam akan mencelakai aku dan anak-anak jika berani mendekati Divta. Aku pun berhenti untuk dekat dengan Divta.
"Apa yang kamu lakukan disini, Ta?" tanya ku.
"Ra, Al sakit dia terus mencarimu. Tadi aku ke rumah mu tapi kata Ibu kamu sudah berangkat kerja. Makanya aku kesini," ucap Divta dengan nafas tersengal-sengal seperti di kejar perampok.
"Al sakit?" ulang ku.
Sejak tak dekat dengan Divta aku memang tidak lagi bertemu dengan Al dan El, anak kembar Divta yang baru berusia 3 tahun tetapi sangat menggemaskan.
"Ta, maaf. Harusnya kamu cari Chelsea bukan aku. Aku tidak mau salah paham lagi, Ta," jelas ku menolak permintaan Divta.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa sama Chelsea, Ra. Tolong kamu percaya sama aku," jelas Divta agar aku percaya.
"Bukan itu masalahnya, Divta. Tapi Chelsea mengancam aku dan aku takut ini akan berakibat sama anak-anak. Tolong mengerti." Aku sampai menangkup kedua tangan ku didada dan meminta agar Divta mengerti.
"Iya aku paham, tapi kali ini tolong aku. Aku ditelepon Mama kalau Al masuk rumah sakit dan menangis mencari kamu. Kamu temui Al sebentar saja," pinta Divta.
Memiliki rasa tak tega membuatku tak bisa menolak permintaan Divta. Tetapi aku berharap semoga Chelsea tak datang mengancam. Sebab aku tidak aku bermasalah lagi.
"Pergi saja, Ra," bisik Mira.
"Mir, bisa antar aku? Kita izin dulu nanti siang kita kembali ke kantor," pinta ku pada Mira. Aku tidak mau satu mobil dengan Divta.
"Tentu saja bisa," sahut Mira tersenyum kearah Divta.
"Kamu duluan saja Ta, nanti aku susul," ucap ku.
__ADS_1
Divta adalah lelaki baik dan penyayang. Aku tahu dia mencintai. Tetapi aku sama sekali belum memikirkan hubungan asmara saat ini. Aku baru saja kehilangan Mas Galvin, dan aku tidak mudah menemukan orang baru untuk mengisi kekosongan di rongga dadaku.
Bersambung.