
Aku turun dari mobil saat sampai di depan perusahaan Putra Group. Beginilah caraku mengalihkan pikiran dengan menyibukkan diri.
"Selamat siang, Bu Nara," sapa seorang pria berjas rapi serta memakai kacamata tebal.
"Siang, Pak," balasku.
"Ayo Bu, sudah di tunggu sama Pak Rimba," ucapnya.
"Iya, Pak," sahutku.
Aku berjalan bersama lelaki berkacamata tebal itu masuk ke dalam gedung perusahaan. Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam gedung mewah tersebut. Sebenarnya sudah beberapa kali perusahaan ini mengajakku bekerja sama dan mereka yang akan menginvestasikan dana tinggi tetapi waktu itu karena masih baru dan belum berpengalaman, aku tak berani mengambil resiko untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan ini.
"Selamat siang, Pak. Ibu Nara sudah datang," ucap lelaki yang bersamaku tadi.
Pria tersebut membalikkan badannya dan menoleh kearah kami. Sejenak aku terdiam membeku di tempatku, pria itu.
"Kak Rimba."
"Hai, Nara," sapanya.
"Kak, jadi Pak Rimba itu Kakak?" tanyaku setengah tak percaya.
Kak Rimba tersenyum dan berjalan kearahku.
"Bukan, ini rohnya yang sudah bangun," canda Kak Rimba.
"Kakak." Aku merenggut kesal. Kak Rimba ini memang tipe orang yang hangat.
"Apa kabar kamu, Nara?" tanyanya memberikan pelukan hangat padaku.
"Aku baik, Kak." Kubalas juga pelukan hangatnya.
"Kakak, apa kabar juga?" tanyaku melepaskan pelukannya. "Kapan Kakak kembali ke Indonesia?" sambungku lagi.
"Tanya itu satu-satu, Nara. Kakak sampai bingung mau jawab yang mana!" ketus Kak Rimba.
__ADS_1
Aku tertawa pelan. Tak menyangka sekian lama berpisah dan terpisah akhirnya aku di pertemukan kembali dengan lelaki terfavorit di sekolahku dulu.
"Tidak di tawarin tamunya, Kak?" sindirku menaikan kedua alis.
"Dih, ayo," ajaknya.
Kami berdua duduk di sofa. Kak Rimba adalah kakak kelas saat aku SMA dulu. Dia most wanted-nya sekolah dan basket. Lelaki paling tampan kesayangan sejuta umat. Tak hanya itu dia pencinta hitung-hitungan seperti matematika, fisika dan kimia. Setiap teorinya mengarah kesana. Cita-citanya dulu ingin jadi ilmuan tetapi kenapa sekarang malah jadi pengusaha?
"Apa Kakak sudah lama tahu tentang aku?" tanyaku.
"Iya. Kamu itu selalu menolak kalau Kakak ajak ketemu." Dia mencubit hidungku dengan gemas.
"Kakak," rintihku menepis tangannya.
Dulu waktu SMA kami sangat dekat. Kak Rimba adalah tetangga sebelah rumahku. Tetapi karena sekarang aku sudah pindah Akhirnya aku tidak tahu jika dia sudah kembali ke Kalimantan. Sebenarnya sudah lama sekali Kak Rimba menawarkan kerjasama denganku, bahkan ketika pertama kali aku membuka cafe. Tetapi waktu itu, aku memang belum memiliki banyak pengalaman jadi terpaksa menolak.
Setelah lulus SMA, keluarga Kak Rimba pindah keluar negeri. Ayahnya berkebangsaan Inggris sementara ibunya, orang Indonesia dan Kalimantan asli. Kak Rimba punya satu saudara laki-laki yang seusia denganku tetapi adiknya sejak dulu memang tidak tinggal di Kalimantan hanya sesekali berkunjung saat libur kuliah.
"Kakak dengar kamu sudah menikah sama Bintang," ucap Kak Rimba.
Aku terkejut dari mana Kak Rimba tahu jika aku menikah dengan Mas Bintang karena aku memang tidak mengundangnya waktu itu.
"Tahu dong," sahut Kak Rimba dengan senyuman menggodanya. "Ayo di minum dulu. Nanti kita bahas masalah kerjasama. Hari ini Kakak ingin menghabiskan waktu sama kamu," ucap Kak Rimba.
Aku mengangguk dengan senyum sambil menyesap minuman yang di sediakan oleh asisten Kak Rimba.
Kak Rimba dan Mas Bintang terkenal saat kami SMA. Sama-sama anak basket dan menguasai beberapa mata pelajaran di sekolah. Tak hanya itu ketampanan mereka juga menarik perhatian. Bahkan ada fans khusus untuk mereka berdua.
"Bagaimana pernikahan kamu?" tanya Kak Rimba lagi menatapku dengan dalam.
"Kak." Lidahku terasa tercekat. Salahkah jika aku menceritakan masalah rumah tanggaku pada pria lain.
"Ayo, katakanlah. Jangan di tahan, kita berteman sudah lama," ucap Kak Rimba dengan tangan yang terulur mengusap bahuku.
Kuhela nafas panjang lalu kuhembuskan dengan pelan. Jujur ragu tetapi aku ingin ada seseorang yang tahu bahwa aku tak baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku dan Mas Bintang....." Aku terdiam sejenak, membayangkan wajah bahagia Mas Bintang ketika bersama Mbak Mona membuat jantungku berdenyut sakit.
"Aku tidak bahagia, Kak," jawabku jujur.
Tak ada keterkejutan di wajah Kak Rimba, sifatnya memang tenang sama seperti Mas Bintang, tidak banyak bicara. Terlihat dingin tak tersentuh. Namun, bagiku Kak Rimba ini sosok yang hangat dan mampu meneduhkan hati.
"Dia membawa kekasihnya tinggal bersama kami, Kak," jelasku lagi. Kak Rimba adalah orang pertama yang tahu tentang hal ini, aku memang tak pernah bercerita pada siapapun sebelumnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya menatapku penuh selidik.
Saat semua orang tahu aku bahagia karena penggantin baru. Tetapi hanya Kak Rimba yang bertanya apakah aku baik-baik saja? Jelas aku tak baik, sejak pernikahan kami. Sedikitpun aku tak bahagia walau menikah dengan lelaki yang sangat kucintai.
Aku menggeleng, "Aku terluka, Kak," jawabku jujur. Sial, air mataku malah menetes.
"Kenapa masih bertahan?" tanya Kak Rimba.
Kenapa aku bisa melihat jika Kak Rimba emosi ketika aku menceritakan tentang suamiku? Ada sesuatu yang tak bisa ku tangkap dari bola matanya.
"Aku mencintainya, Kak," jawabku jujur.
Entah kapan tepatnya aku bisa jatuh cinta pada suamiku sendiri? Sejak pertama bertemu setelah sekian lama terpisah aku sudah jatuh pada pandangan pertama.
"Hanya itu?"
"Aku tidak mau membuat Mama dan Bunda Senja kecewa. Mereka berharap aku dan Mas Bintang bahagia selamanya," jelasku dengan mata berkaca-kaca.
"Dengan mengorbankan kebahagian kamu?" Kak Rimba menatapku.
"Kebahagiaan mereka lebih penting, Kak," jawabku. Benar, sebagai seorang anak aku ingin Mama bahagia. Apalagi dulu Mama juga dilukai oleh Papa.
"Jangan bertahan hanya karena orang tua, Nara. Kamu berhak bahagia. Jangan siksa batin kamu untuk orang yang sama sekali tidak menganggap kamu ada. Bintang sudah salah besar karena begitu berani membawa orang ketiga dalam rumah tangga kalian. Suatu saat dia akan merasakan penyesalan," ujar Kak Rimba yang terlihat sangat emosi ketika mendapat ceritaku ini.
Aku setuju dengan apa yang diucapkan oleh Kak Rimba. Namun, bagaimana dengan Mama dan Bunda Senja, aku tidak tega melukai hati mereka karena kenyataan yang menimpa rumah tangga kami. Apalagi Mas Bintang sudah beberapa kali mengingatkanku agar tidak mengatakan apapun tentang kami.
"Aku mencintai Mas Bintang, Kak. Aku akan buat dia juga mencintaiku," ucapku dengan jujur dan masih keukeh mempertahankan rumah tangga kami.
__ADS_1
Pernikahan bukan sesuatu yang dengan gampang bisa di akhiri begitu saja. Apalagi sudah mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan dan para saksi.
Bersambung.......