
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku memejamkan mata sejenak. Kata Pak Dante hari ini mertuanya datang ke Pontianak menjengguk Tata. Jujur saja aku gugup bukan main, aku harus siap-siap mendengar kenyataan yang mungkin saja akan meremukkan dadaku.
"Tarik nafas dalam-dalam Ra," ucap Mira.
Aku sudah menanyakan tentang hal ini pada Ayah dan Ibu tetapi mereka seperti bungkam dan enggan untuk mengatakan hal sebenarnya. Aku benar-benar penasaran, mendengar penjelasan orang tua ku nanti nya.
"Aku gugup, Mir," ucap ku.
Bukan gugup karena aku malu atau tak sabar bertemu dengan orang tua ku. Namun, aku gugup karena belum siap menerima kenyataan yang sebenarnya.
"Ara," sapa Pak Dante keluar dari mobil.
"Pak," balas ku.
"Kamu sudah siap?" ucap nya tersenyum lembut padaku.
"Saya gugup, Pak," ucap ku jujur.
"Itu hal biasa. Daddy dan Mommy sudah tiba di bandara dan di jemput oleh supir pribadi Papa," jelas nya.
"Ya sudah, Ra. Kamu berangkat sana. Naro biar aku yang jemput," kata Mira seraya mendorong ku agar mendekat kearah Pak Dante.
"Iya Mir, terima kasih," ucap ku berjalan mendekati Pak Dante.
Aku dan Pak Dante masuk kedalam mobil, jantung ku berdegup kencang. Aku akan segera menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang akb lontarkan selama ini. Jujur saja aku lelah bertanya, seperti orang gila yang kehilangan arah. Apakah sekarang semua pertanyaan ku kini akan terjawab?
"Pak saya_"
"Tidak perlu takut, semua akan baik-baik saja," potong Pak Dante yang seolah tahu apa yang kutakutkan.
Semalam aku sudah berbicara dengan kedua anakku bahwa kakek dan nenek yang sekarang merawat mereka bukan orang tua kandung ku. Walau sempat syok tetapi akhirnya mereka paham ketika ku berikan pengertian.
"Saya masih tidak menyangka Pak, bahwa dunia ini sangat sempit," ucap ku lirih menahan lelehan bening di pelupuk mataku.
"Saya lebih tak menyangka jika kamu saudara kembar istri saya," sahut Pak Dante. "Tetapi jujur saja kamu beda sama almarhum istri saya. Kalian memiliki wajah yang sama tetapi sifat yang berbeda," ujar Pak Dante lagi.
__ADS_1
Jangankan orang lain aku saja tak menyangka, bagaimana aku bisa memiliki saudara kembar yang sama sekali tidak aku tahu keberadaannya. Parahnya aku tahu hal tersebut saat aku dan Tata beristirahat di kamar rahasia Pak Dante diruang kerjanya. Kalau hal itu tidak terjadi, pasti aku tidak tahu sampai kapan pun bahwa aku kembar dan siapa orang tua kandung ku.
"Iya Pak. Terima kasih Pak sudah membantu saya," ucap ku.
"Saya ikhlas membantu kamu karena saya juga butuh jawaban," jawab nya.
Mobil Pak Dante berhenti didepan rumah mewahnya. Kulihat ada sebuah mobil yang juga sudah terparkir disana. Apa kedua orang tua ku ada didalam sana?
"Ra," panggil Pak Dante.
"Iya Pak?" Aku melirik Pak Dante.
"Sebelum kita masuk, saya ingin berbicara sesuatu yang penting sama kamu," ucap Pak Dante melihatku serius.
"Apa Pak?" tanya ku penasaran, apa kira-kira yang ingin Pak Dante bicarakan dengan ku.
"Saya suka sama kamu."
Untuk sesaat aku terdiam seperti hilang kesadaran. Lalu aku menatap wajah Pak Dante yang tampak serius saat mengatakan bahwa dia menyukai ku.
"Maksud Bapak?" ulang ku tak mengerti.
"Saya suka sama kamu. Saya tidak tahu kapan perasaan suka ini ada? Beberapa kali saya sempat menepis perasaan yang menurut saya tidak mungkin. Namun, setelah melewati banyak hal sama kamu, saya tidak ragu lagi dengan perasaan saya sama kamu," ucap nya panjang lebar.
Lidah ku terasa kelu mendengar ucapan Pak Dante, dalam angan dan mimpi ku sama sekali tak pernah terbayangkan bahwa aku akan disukai oleh lelaki ini. Kami berbeda dalam banyak hal.
"Kamu jangan salah sangka, saya menyukai kamu bukan karena kamu mirip sama mantan istri saya. Kalian hanya mirip tetapi berbeda. Saya menyukai kamu karena hati dan sifat kamu yang menurut saya langka," jelas nya panjang lebar.
"Kita masuk yuk, Pak," ajak ku mengalihkan pembicaraan.
Jujur aku tidak ingin membicarakan tentang perasaan. Tidak, tidak. Pak Dante adalah pria kaya yang berpengaruh, aku takut kejadian yang pernah aku alami terjadi lagi.
"Ra." Pak Dante menahan tangan ku.
"Ada apa lagi Pak?" Aku ingin rasanya memohon agar Pak Dante tidak membahas tentang perasaan nya lagi.
Masalah ku dan Divta sudah selesai dan aku tidak ingin bermasalah lagi dengan Pak Dante. Apalagi semua orang tahu bahwa Pak Dante dan Bu Tensa sedang dekat.
"Saya tahu kamu masih trauma, tapi saya pastikan bahwa saya tidak sama seperti orang yang ada di masa lalu kamu. Saya dan Tata butuh kamu berada didekat kami," tukas Pak Dante lagi berusaha menyakinkan ku.
"Pak, saya sedang tidak ingin membahas perasaan. Saya datang ke sini untuk menyelesaikan masalah saya," sergah ku.
__ADS_1
"Maaf," ucap nya merasa bersalah.
Aku keluar dari mobil. Aku benar-benar tak sabar bertemu dengan orang yang katanya orang tua ku itu.
"Ara, tunggu," panggil nya.
"Apa lagi Pak?" tanya ku kesal.
"Saya minta maaf," ucap nya.
"Tidak usah di pikirkan Pak," jawab ku.
"Kamu harus sabar dan tidak boleh gegabah," pesan nya.
"Saya tahu, Pak," sahutku. Tetapi tidak dengan hatiku, aku benar-benar sama sekali tidak bisa sabar.
"Ayo," ajak nya.
Kami berjalan masuk. Tanganku terasa dingin dan keringat mengucur di dahi ku. Entah kenapa aku gugup? Aku seperti sedang menghadapi kematian yang berada didepan mata.
"Genggaman tangan saya."
Aku terkejut ketika Pak Dante mengenggam tangan ku. Aku menatap lelaki itu, aku tidak tahu sekarang perasaan ku seperti apa? Apa aku benar-benar telah mati rasa, kenapa yang awalnya berdebar dan sekarang malah biasa saja?
"Ayo masuk."
Aku menghela nafas panjang dan mengikuti langkah Pak Dante yang membawa ku masuk kedalam.
Disana tampak Tata tengah duduk disalah satu pangkuan lelaki paruh baya yang sedang berbincang dengan kedua orang tua Pak Dante.
"Mommy," panggil Tata.
Semua mata menatap kearah aku dan Pak Dante. Apalagi Pak Dante mengenggam tangan ku seolah takut lepas darinya.
"Tata," gumam ku.
Mereka tampak menatapku dengan seksama, bahkan lelaki paruh baya itu sampai berdiri dari duduknya mungkin saja tanpa sadar.
"Mommy, Tata kangen," renggek Tata mengulurkan tangannya agar aku segera menggendong tubuh gadis kecil ini.
Bersambung...
__ADS_1