Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 31.


__ADS_3

Barangkali tidak ada cinta yang benar-benar baru di dunia ini selain cinta pertama. Setiap orang punya kisah masa lalu. Semakin lama menjalani hubungan dengan orang lain, semakin banyak pula kisah yang akan tersimpan di dalam ingatan. Aku memahami hal itu dengan utuh.


Pahamilah setiap orang tidak akan lepas dari sesuatu. Jikalau tak pernah benar-benar ingin melepaskan diri sepenuhnya baju hanya ingin menjalani semua ini dengan hal baru. Biarlah semua yang telah lalu benar-benar tertinggal dan tanggal. Jangan bawa apapun, karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku mencintai Ariana dan berusaha membuktikan bahwa aku menyesali semua perbuatan yang aku lakukan di masa lalu.


"Arin."


Nama itu terselip khusus di dalam hatiku. Entah, kapan tepatnya aku bisa jatuh cinta pada istriku sendiri? Setelah dia hilang aku bagai kehilangan arah dan tujuan hidup. Aku tak pernah benar-benar bisa hidup tanpa dirinya. Separuh jiwaku serasa pergi bersama kenang yang dia selipkan di antara kenangan.


Pesawat kami landing di bandara Internasional Malaysia. Aku turun dengan tak sabar begitu juga yang lainnya. Tujuan kami sama, yaitu bertemu dengan Ariana segera. Untuk kali ini aku ingin memeluk dia sepuas hati dan perasaanku untuk meluapkam rasa rindu yang menggembang di dalam dada.


Kami masuk ke dalam mobil dan bersiap menuju rumah sakit tempat Ariana di rawat. Harapan dan doa semoga istriku baik-baik saja. Sebentar lagi Arin akan melahirkan. Kata Galaksi tidak bisa menunggu sembilan bulan karena kondisinya sudah semakin menurun.


Sepanjang perjalanan Mama Tari masih saja menangis terisak di pelukan Om Divta. Sedangkan Al dan El terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun sejak awal datang ke bandara kemarin. Tatapan mata mereka berdua seperti tak memiliki gairah untuk hidup. Keduanya sama-sama merasakan perasaan bersalah yang menelusup masuk ke dalam dada.


"Aku takut terjadi sesuatu sama Arin, Mas," ucap Mama Tari.


Om Divta tak dapat berkata apa-apa. Penyesalan terlihat jelas di bola mata lelaki paruh baya tersebut. Aku tahu Om Divta ini orang yang keras apalagi di didik dengan cara militer, sikapnya telah membuat dia kehilangan putri semata wayangnya. Namun, mau bagaimana lagi semua sudah terlanjur terjadi dan dia telah hidup dalam penyesalannya.


"Maafkan Mas. Ini semua salah Mas," ucap Om Divta merasa bersalah.


Mama Tari menggeleng dan menolak ucapan suaminya. Mama Tari ini perempuan lemah lembut dan rendah hati. Rentan usia yang jauh membuat mereka tampak serasi apalagi Om Divta begitu memahami sifat dari istrinya.


"Berhenti menyalahkan dirimu, Mas. Tidak ada yang salah tetapi ini lah jalan takdir dan pelajaran untuk kita semua."


Sampai di rumah sakit kami semua turun. Aku bahkan berjalan dengan tergesa-gesa dan setengah berlari seolah tak sabar bertemu dengan perempuan yang begitu aku cintai tersebut. Semoga masih ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya.


Hingga kami sampai di salah satu ruangan VVIP. Tidak boleh banyak orang yang masuk karena bisa menganggu konsentrasi pasien.

__ADS_1


Aku memegang handle dan membuka pintu pelan.


"Arin."


Aku mematung di tempatku saat melihat Ariana terbaring dengan menyamping. Perut besar dan membuncit tersebut seperti membuatnya sesak bernapas.


"Arin."


Matanya terbuka ketika mendengar panggilanku. Aku berjalan masuk dengan langkah pelan. Tatapan mataku tertuju ada kepala plontos dengan perut membuncit serta tubuh yang kurus. Ya, Tuhan apa sebenarnya yang sudah di lewati oleh istriku? Kenapa kondisinya seperti ini?


"Arin."


Aku berhambur memeluknya yang terbaring. Menangis dengan hebat meluapkan semua perasaan rindu yang mengembang di dalam dada. Perasaan sakit yang terasa mencekik.


"K-kak." Suaranya terdengar tidak jelas.


"Maafkan aku, Arin. Maafkan aku."


"Arin." Air mata luruh berderai bahkan sampai menjauhi matanya.


Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa istriku bisa sampai seperti ini? Kenapa dia bisa sampai merasakan pengakuan mematikan yang membuat tubuhnya seperti bekerja.


"Kak."


"Iya, Arin. Maafkan aku, Arin. Aku berdosa sama kamu. Apa yang sudah terjadi? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sakit sejak awal? Kenapa, Arin? Aku, aku takut kehilangan kamu. Jangan pergi lagi, aku berjanji akan menjagamu dan calon anak kita."


Calon anak kita? Kini aku mulai berlapang dada menerima ketiga bayi dalam kandungannya. Bukankah itu sebuah anugerah? Walau bukan darah dagingku sendiri.

__ADS_1


"Ka-ka-k." Suaranya terdengar tak jelas. Terlihat jika dia sedang menahan sakit di tubuhnya.


"Iya, Sayang. Aku di sini. Aku akan menemani kamu. Aku mencintaimu, Arin."


Akhirnya aku mampu mengucapkan kata yang selama ini tertahan karena perasaan benci. Sekarang, aku benar-benar sadar bahwa wanita ini sangat berarti bagiku. Senyum dan tutur bahasanya melekat di dalam jiwa.


"Arin, aku tidak tahu harus bilang apa? Aku benar-benar berdosa sama kamu. Aku sudah menyiksa kamu dan membuat kamu menderita. Maafkan aku, Arin."


Aku mengenggam tangannya yang terpasang seorang infuse. Dia tampak menderita dengan perut sebesar itu dan berbaring pun hanya menyamping saja. Tatapan mata sendu dan sayu tetapi dia masih bisa tersenyum walau aku tahu itu adalah kepalsuan. Dia tidak benar-benar tersenyum hanya demi menutupi luka dia terlihat kuat.


"Aku kangen sama kamu. Aku kangen masakan kamu. Aku kangen semua hal tentang kamu."


Ini bukan sekedar gombalan tetapi memang itu yang aku rasakan. Setelah dia tidak ada hidupku benar-benar hancur dan berantakan.


"Kak." Dia menatapku dengan senyuman. "Arin juga kangen sama Kakak. Kenapa Kakak bisa ada di sini?" tanyanya lirih.


"Arin." Aku mengenggam tangannya. Lalu ku tinggalkan kecupan singkat di sana.


"Kamu harus bertahan demi aku dan anak-anak. Kita berdua bisa melewati ini," ucapku memberi semangat. Aku ingin dia bertahan selamanya denganku. Bukan hilang dan pergi meninggalkan aku yang tidak akan mungkin bisa hidup tanpanya.


"Kakak."


Tangannya terulur mengusap pipiku. Tangan rapuh dan halus tersebut membuat pipiku hangat saat dia sentuh. Nyaman sekali sentuhan wanita ini. Aku baru sadar jika bersama Ariana aku menemukan duniaku yang hilang.


"Ini benar kamu, Kak?" tanyanya setengah tak percaya.


"Iya, Sayang. Ini aku, aku suami kamu. Maaf." Lagi air mataku tak bisa berhenti menetes melihat kondisi istriku. Andai bisa menggantikan posisinya aku rela sakit asal dia sembuh dari semua rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.

__ADS_1


"Kak, Arin sakit, Kak. Perut Arin sakit. Dada Arin sesak. Kepala Arin pusing. Wajah Arin terasa perih. Mata Arin tidak bisa melihat dengan jelas. Arin tidak kuat, Kak."


Bersambung....


__ADS_2