
Perasaan akan tetap tumbuh dengan hal-hal yang di perjuangkan. Dengan segala impian dan usaha untuk melakukan pencapaian. Rasa cinta tak sebatas manja-manja. Ada beberapa hal yang memang harus diterima. Pekerjaan namanya. Kutukan manusia yang satu ini kerap kali menyeret tubuh ke tempat-tempat yang membuat segala rasa terasa jauh.
Ada beberapa hal dari jatuh cinta yang akhirnya membuat seseorang kewalahan. Memperjuangkan segara harapan sendirian, misalnya. Sesuatu yang seharusnya dihidupkan berdua, malah di hadapi sendiri. Hal semacam itulah yang pelan-pelan akan membunuh cinta. Meski beberapa cinta terlalu kuat, tetap bertahan meski sekarat. Beberapa lagi malah memilih mati daripada merana sendiri. Ada orang yang tahan banting hingga tetap bertahan meski berkali-kali perasaannya sedih berkeping-keping. Ada orang yang cinta buta, tak peduli betapa kali didusta tetapi tetap saja memilih percaya. Cinta kadang memang di luar logika, hanya bisa dimengerti oleh orang-orang gila. Orang-orang yang sedang jatuh di dalamnya.
"Felly!"
"Mas."
"Jangan bangun!" cegahku.
Aku duduk di bibir ranjang kamarnya. Wajah wanitaku ini sangat pucat seperti tak berdarah. Tatapan matanya sayu dan sendu. Saat ini dia memilih dirawat di rumah saja dengan peralatan medis lengkap tentunya.
"Mas, aku kangen sama Mas," ucapnya memelukku sambil menangis hebat.
"Mas juga kangen sama kamu," balasku mengusap punggung Felly dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Aku tak bisa meninggalkan wanita ini.
"Jangan pergi lagi, Mas! Sekarang Abi dan Umi udah restuin hubungan kita. Aku enggak mau kehilangan Mas lagi. Aku enggak mau sama orang lain. Aku cuma mau nikah sama Mas."
Aku memejamkan mataku sejenak. Entah kenapa tak ada sedikitpun kebahagiaan yang terselip di antara rongga dada ketika mendengar ucapan Felly. Kenapa aku merasa kosong? Aku tak merasa bahagia.
"Kamu tenang ya. Sebentar lagi kita akan nikah," ucapku.
"Benar, Mas?"
Aku membalas dengan anggukan sambil mengusap pipi Felly yang basah. Aku sudah berjanji pada Abi dan Umi untuk menikahi Felly. Apapun resikonya, mereka tidak keberatan jika aku berpoligami karena aku tidak bisa menceraikan Lea.
"Iya, Sayang. Kamu cepat sembuh ya!" Aku mengecup keningnya.
Felly tidak pernah membuka hijabnya kecuali mandi. Hal itulah yang membuat aku suka. Dia menutup auratnya dan tidak suka menunjukkan bagian tubuhnya pada orang lain.
"Tapi, Mas–"
"Sttt, jangan katakan apapun, Sayang. Aku tidak peduli bagaimanapun kondisi kamu saat ini!" potongku kembali memeluk Felly.
__ADS_1
Semua resiko sudah aku pikirkan. Aku tidak bisa memilih jalan lain selain berpoligami. Untuk semua hal yang akan terjadi ke depannya aku sudah memikirkan semuanya dengan baik.
"Iya sudah kamu istirahat ya. Mas mau mempersiapkan pernikahan kita," ujarku.
"Iya, Mas."
Felly kembali berbaring di atas ranjangnya. Aku menaikan selimut menutupi tubuh wanita ini. Alat-alat medis terpasang di bagian tubuhnya yang lain.
Felly dan hal-hal yang pernah kami lalui adalah alasan bagiku tak bisa melupakan tentangnya. Meski beberapa rencana seakan terancam sebagai kenangan belaka. Namun, hatiku tak pernah bisa kupungkiri. Aku tak pernah benar-benar bisa beranjak dari segala sesuatu hal perihal kekasiku. Segala hal yang pernah kuimpikan. Sesuatu yang sampai saat ini masih kupertahankan. Masih kuperjuangkan. Aku tahu jalan yang kupilih saat ini benar-benar salah dan melanggar norma agama. Namun, aku tidak tahu harus memilih jalan mana.
Barangkali tidak ada cinta yang benar-benar baru di dunia ini selain cinta pertama. Setiap orang punya kisah masa lalu. Semakin lama menjalani hubungan dengan orang lain, semakin banyak pula kisah yang akan tersimpan di dalam ingatan. Aku memahami hal itu dengan utuh.
Pahamilah setiap orang tidak akan lepas dari sesuatu. Jikalau tak pernah benar-benar ingin melepaskan diri sepenuhnya baju hanya ingin menjalani semua ini dengan hal baru. Biarlah semua yang telah lalu benar-benar tertinggal dan tanggal. Jangan bawa apapun, karena aku juga merasakan hal yang sama. Aku mencintai Felly dan berusaha membuktikan bahwa aku menyesali semua perbuatan yang aku lakukan di masa lalu.
"Mas tidak akan meninggalkanmu, Sayang. Kita akan hidup bersama selamanya." Aku mengecup kening wanita ini dengan sayang berharap waktu yang kami miliki masih banyak.
* * *
Aku turun dari mobil sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher.
"Malam, Bi. Lea udah pulang?" tanyaku.
"Udah, Tuan. Non Lea ada di kamarnya," jawab Bi Atiek.
"Iya udah, Bi. Kalau begitu saya masuk kamar dulu," pamitku.
Aku berjalan dengan wajah lelah menuju kamarku. Seketika langkahku terhenti ketika melewati kamar istri kecilku. Tuhan, kenapa rasanya aku merasa berdosa dan bersalah atas semua ini? Ada apa dengan hatiku? Bukankah aku tidak mencintai Lea? Lalu kenapa rasanya sakit ketika aku mengkhianati dia dan mencoba berpoligami serta mengingkari janji yang kami ucapkan di depan Tuhan dan para saksi.
"Selamat malam, Om Suami."
"Astaga!"
Aku terkejut sambil mengelus dada ketika kepalanya menyembul di balik pintu kamar.
__ADS_1
"Kamu...." Ah rasanya aku ingin meremas wajah gadis ini.
"Hehe maaf, Om." Dia menunjukkan jari v tanda minta maaf.
"Kamu itu kayak cenayang suka nonggol tiba-tiba," ketusku.
"Om, sini bentar!"
Dia menarik tanganku masuk ke dalam kamarnya. Aku melihat interior bagus kamar istriku. Sejak kapan dia memasang dekorasi seperti ini.
"Ada apa?" tanyaku duduk di bibir ranjang.
"Tunggu sebentar, Om!" Dia meraih laptop yang ada di atas nakas.
Aku tersenyum melihat piala-piala berjejer di atas lemari. Tak kusangka jika istri kecilku ini orang yang memiliki banyak prestasi, walau sifatnya benar-benar menyebalkan.
"Om, tadi Lea udah browsing buat test pramugari itu. Jadi test-nya harus ke Jakarta," jelas Lea yang sibuk mengotak-atik laptopnya dengan lihai.
"Lalu?"
"Kemungkinan Lea mau ke Jakarta ikut Kak Leon," jelasnya.
"Enggak boleh!" tegasku. Entah kenapa aku tidak bisa jauh dari istri kecilku ini. Sehari saja tak melihatnya seperti ada sesuatu yang hilang.
"Dih, kenapa enggak boleh?!" Dia tampak mencebik kesal.
"Kalau kamu ke Jakarta, kamu bakal ninggalin saya sendirian di sini. Mana boleh suami istri itu pisah," ucapku berasalan.
"Cie, Om mulai jatuh cinta ya sama Lea?" godanya dengan mengedipkan matanya jahil.
"Jangan ge-er kamu!" Aku mendorong keningnya dengan gemas. "Kamu enggak usah sekolah pramugari. Masuk ilmu kedokteran aja," saranku.
"Dih, emang bisa dipaksa-paksa?" protesnya. "Gini aja kita Lea ke Jakarta enggak lama kok. Paling cuma dua mingguan karena dibantu Kak Tata dan Mas Rey. Jadi, mungkin semuanya cepat selesai. Entar Lea langsung balik," jelasnya mencoba memberi pengertian.
__ADS_1
"Terus kalau lolos, kuliahnya di mana?" Aku tidak mau jika Lea tinggal di Jakarta dan aku menetap di Pontianak.