Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Selama saya ada, kamu aman.


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku mengusap kepala Nara, kami duduk di kelas bisnis. Tempatnya lumayan dan tidak terlalu ramai. Sedangkan Naro duduk bersama Pak Dante, ada dua orang anak buah yang mengikuti kami.


"Apa pun akan Mama lakukan untuk kamu, Nak. Maaf Mama belum bisa menjadi yang terbaik buat kamu. Saat semua orang datang hanya untuk mengecewakan, tetapi kamu dan Naro menjadi alasan untuk Mama bertahan. Mama sayang kalian, Nak," lirih ku.


Banyak sekali hal mengecewakan yang terjadi padaku. Namun, hingga kini aku bersyukur karena memiliki anak-anak yang dewasa dalam banyak hal. Mereka tak menuntut harus menjadi ini dan itu. Mereka memahami bagaimana keadaan Mama-nya.


Ku dengar dengkuran halus keluar dari mulut Nara. Aku tersenyum gemes mendengar suara tersebut. Walau awalnya Nara sempat histeris dan tenggelam dalam kesedihan karena kehilangan Mas Galvin. Namun, seiring waktu berjalan dia mulai menerima kenyataan hidupnya. Dia mulai belajar ikhlas meski aku tahu itu tak mudah, seorang anak perempuan yang ditinggal oleh Papa-nya diusia belia.


Setiap kali Nara merindukan Papa-nya, dia akan meletakkan tangannya didada dengan mata terpejam. Perlahan dia mulai meresapi kehadiran pria yang dia rindukan tersebut. Kadang, aku merasa terharu dengan sikap dewasanya dalam menghadapi masalah. Apakah dia benar-benar dewasa atau terpaksa dewasa karena kondisi dan keadaan.


"Ra," panggil Pak Dante.


Aku menoleh kearah nya dan tersenyum, "Iya Pak, kenapa?" tanya ku.


Lelaki ini bukan siapa-siapa aku. Dia bahkan tak memiliki hubungan darah, selain wajah ku yang mirip dengan almarhum istrinya. Tetapi dia sangat peduli padaku. Bahkan dia rela mengantar kami ke Malaysia ditengah kesibukan nya dalam bekerja.

__ADS_1


"Kamu yang kuat ya, Nara pasti sembuh," ucapnya menyakinkan ku.


Kami duduk berdampingan, dia memangku Naro dan Nara bersandar di dadaku. Sebenarnya Tata juga keukeh ingin ikut bersama kami, tetapi setelah aku memberi pengertian padanya. Akhirnya gadis berusia 5 tahun itu pun menurut, tetapi dengan satu syarat setelah pulang harus menginap dirumah nya.


"Terima kasih Pak, kalau tidak ada Bapak. Saya tidak tahu bagaimana membawa Nara ke luar negeri," sahut ku.


Ya Pak Dante sudah terlalu banyak membantu ku, aku tidak tahu apakah dia tulus atau ada maksud lain. Yang aku yakini bahwa kini kesembuhan Nara adalah prioritas utama ku.


"Tidak perlu berterima kasih, ini belum seberapa. Apapun akan saya lakukan untuk kamu dan anak-anak." Tangan nya mengenggam tangan ku dengan erat. "Jangan takut, selama saya ada kamu aman," ucap nya dengan senyuman. Tutur bahasa lembut dan syahdu nya seolah menusuk indra penglihatan ku, apakah lelaki ini benar-benar mencintaiku?


"Iya Pak," balas ku.


Aku mulai tak risih dengan sentuhan nya di kulit ku, apakah hati ini mulai luluh dengan perlakukan lembutnya? Aku tak yakin, jika bisa jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya setelah di patahkan dengan hebat oleh kenyataan yang menjadikan nya tiada.


Tatapan kami seketika bertemu. Ku cari kebohongan di bola matanya, barang kali ini hanya sekedar gombalan supaya aku jatuh ke dalam pelukan nya. Setelah dia mendapatkan aku, lalu menghancurkan hati dan hidupku seorang orang-orang yang ada sebelum nya. Namun, kenapa yang ku temui justru ketulusan. Tatapan mata teduh dan penuh damba itu seolah mampu menarik ku kedalam takdir cinta nya.


"Saya takut, Pak," ucap ku jujur.


"Saya tahu," jawabnya cepat.


"Saya takut tidak bisa mencintai Bapak, seperti Bapak mencintai saya. Saya belum bisa melupakan kejadian yang sudah-sudah. Sebab tak hanya hati saya yang hancur tetapi juga hidup saya Pak. Sebaiknya Bapak pertimbangkan dulu untuk jatuh sama saya. Saya takut Bapak tidak bahagia," jelas ku panjang lebar menatap wajah tampan nya. Kuakui pria berkepala empat ini memang masih tampan, postur tubuh yang tinggi serta rahang yang keras, menunjukkan bahwa dia adalah pria yang sering berolahraga.

__ADS_1


Dia malah tersenyum, tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi bagian mataku. Pasti rambutku sangat berantakan, apalagi beberapa hari ini aku sudah tak mengurus diri akibat banyaknya masalah yang ku hadapi.


"Sebelum saya jatuh cinta sama kamu, saya sudah pertimbangkan segala kemungkinan. Termasuk saat kamu tak bisa mencintai saya. Tak apa, tak masalah jika kamu tak bisa membuka hati untuk saya. Saya tidak penting di cintai. Tetapi yang paling penting adalah saya mencintai kamu dengan ketulusan tanpa ada maksud dan tujuan," ungkap nya.


Mataku berkaca-kaca, aku teringat pada ucapan Mas Galvin yang juga mengatakan hal serupa ketika kami masih pacaran. Waktu itu aku masih remaja dia percaya saja pada ungkapan cinta nya sehingga terlena dengan ucapan gombal dari nya. Namun, seketika kenyataan membuat hidupku berantakan. Tetapi berbeda dengan yang di ucapkan Pak Dante, kali ini usia ku tak muda lagi jadi aku gadis menilai antara gombalan dan ketulusan. Pak Dante memiliki ketulusan.


"Berikan saya satu kesempatan untuk membuktikan sama kamu, bahwa saya tulus Ara," sambungnya sekali lagi seraya mengusap pipi ku yang basah.


Entah kapan air mata ini keluar dan menetes dari pipiku, aku saja tidak tahu. Mungkin saking terharunya karena setelah patah hati ternyata ada lelaki yang mau mencintaiku apa adanya.


"Pak, jika akhirnya saya tidak bisa mencintai Bapak. Apakah Bapak akan menyerah dan pergi begitu saja?" tanya ku sekali lagi. "Saya tidak akan menahan Bapak jika Bapak ingin menyerah," sambung ku.


Ya aku takkan memaksa nya memperjuangkan aku, jika akhirnya aku tak bisa mencintai Pak Dante. Aku akan ikhlaskan dia pergi dan mencari cinta yang lain.


Dia malah terkekeh, dia mengacak rambut ku dengan gemas.


"Sudah saya katakan Ara, saya takkan pergi walau kamu menolak. Kalau pun akhirnya kamu tidak mencintai saya, saya akan tetap berada di samping kamu dan menjaga kamu," ucap nya dengan yakin.


Apakah ada laki-laki yang benar-benar mau memperjuangkan perempuan nya tanpa cinta? Aku tak berjanji bisa mencintai nya, sebab sekarang aku seperti orang yang mati rasa.


"Cukup kamu selalu berada disamping saya, saya sudah merasa bahagia. Masalah cinta, saya yakin cinta itu bisa tumbuh kapan saja. Suatu saat kamu akan mencintai saya."

__ADS_1


Aku terkejut ketika benda kenyal itu menempel di dahi ku. Jantung berdegup kencang dan wajah merah merona.


Bersambung.....


__ADS_2