Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Ekstra part 01.


__ADS_3

Author POV.


Di sebuah penjara gelap, tampak seorang pria beringsut menempelkan tubuhnya di dinding dengan wajah kusut berantakan dan acak-acakan.


Rimba, lelaki terobsesi pada cinta masa kecilnya. Entah itu di sebut cinta atau hanya obsesi belaka. Dia mengurung Nara seperti seorang anakonda yang memantau pergerakan dari mangsanya. Sifatnya tersebut membuatnya gelap mata dan memperlakukan Nara dengan posesif dan kasar serta sering sekali menyakiti wanita yang katanya dia cintai itu.


Kini, dia mendekam di penjara atas kasus kekerasan. Entah berapa lama dia akan tinggal di tempat menjijikan tersebut yang pasti tempat ini akan menjadi tempat tinggalnya beberapa tahun ke depan.


"Nara," gumamnya.


Mata sayu dengan tatapan kosong menandakan bahwa dia sedang depresi berat dan mendekati gila. Dia layu seperti bunga mawar tak di siram. Hari-hari berlalu yang ada di pikirannya hanya Nara dan Nara. Dia terus memanggil dan mengumamkan nama wanita yang telah dia sakiti tersebut.


"Kamu tidak boleh meninggalkan aku, Nara. Kamu milikku dan aku mencintaimu," ucapnya.


Entah apa yang sebelumnya dia alami di masa lalu sehingga menjadikan dia pria perfeksionis dengan tingkat cemburuan yang tinggi. Ataukah Nara mengingatkannya pada seseorang di masa lalu? .


"Kenapa kamu pergi, Nara? Kakak mencintaimu. Kakak sayang kamu."


Kalimat-kalimat yang dia ucapkan adalah kata kepemilikan. Seolah Nara tidak boleh meninggalkan dia.


Dia semakin meringguk di dinding dan menutup bagian telinganya. Berusaha menutupi wajahnya dari para polisi yang berjaga di depan jeruji besi miliknya. Mata sayu dengan kelopak mata yang tampak membengkak terlihat jelas di bagian wajahnya. Dia menahan kepedihan di hati dan jiwanya ketika terpisah dan kehilangan wanita yang begitu dia cintai.


"Nara."


"Nara."


Tangisnya pecah ketika menyebut nama yang begitu dia rindukan tersebut. Lelaki itu menangis segugukan sambil memeluk kedua lututnya. Tak peduli jika tangisnya menggangu yang lain. Dia hanya ingin meluapkan semua rasa sedih dan perasaan terlukanya.


"Kak Rimba."


Seketika tangis lelaki itu terdengar saat suara familiar tersebut menelusup masuk ke dalam rongga telinganya. Dia seka air matanya dengan kasar lalu menoleh kearah sumber suara.


"Nara." Lelaki itu sontak berdiri.

__ADS_1


Tampak Nara dan Bintang berdiri di depan jeruji besi Rimba. Perut Nara terlihat membuncit dengan usia kandungan memasuki bulan ke-tujuh.


"Nara."


Rimba menatap lekat wanita yang ada di depannya. Netra mata sendu dengan tatapan sayu menghunus ke indra penglihatan Nara.


"Nara, apa itu kamu?" tanyanya seolah tak percaya dengan suara serak hampir tak terdengar.


Lelaki itu berjalan pelan menghampiri Nara dan Bintang. Jika saja dia bisa keluar dari besi yang mengurungnya tersebut, sudah pasti dia akan berlari dan memeluk Nara seerat mungkin.


"Apa kabar kamu, Kak?" tanya Nara melemparkan senyuman hangat pada pria itu.


Lidah Rimba terasa kelu seolah tak mampu mengeluarkan suara. Detik-detik nadinya adalah Nara. Tak ada hal yang lebih besar selain keinginannya bertemu dengan Nara.


Bintang mengeratkan tangannya di bahu sang istri. Seakan dia takut jika Rimba menarik wanita itu dari pelukannya. Rasa kehilangan yang pernah Bintang rasakan, membuat dia sedikit trauma akan penjagaannya pada Nara. Dia terlihat prosesif karena dia tak mau jika istrinya terluka walau karena hal-hal yang kecil.


"Nara, apa itu kamu?" Tangannya berpegangan pada besi-besi yang mengurungnya.


"Nara."


Buliran bening meleleh dengan deras di pipi Rimba. Dia bahkan tak mampu berucap ketika di pertemukan kembali dengan wanita yang pernah dia sakiti secara fisik dan batin tersebut. Mungkin Nara adalah orang pertama dan satu-satunya yang bertanya apa dia baik-baik saja? Sementara kedua orang tua nya hingga kini tidak datang walau hanya menjengguk.


"Aku, aku tidak baik-baik saja, Ra." Lelaki itu berharap bisa memeluk wanita yang telah bersuami di depannya. Tetapi apa daya besi pembatas seperti pemisah yang tak bisa dia tembus.


"Jangan katakan begitu, Kak," ucap Nara memasang wajah senyum. Wanita ini telah bahagia bersama sang suami yang begitu mencintainya. Walau begitu, dia sama sekali tidak melupakan Rimba seseorang yang pernah mengisi hari-hari indahnya.


Wajah Bintang tampak di tekuk kesal. Bagaimanapun dia tidak akan pernah melupakan perbuatan kasar Bintang pada istrinya. Apalagi jika mengingat bekas jari-jari Rimba di pipi Nara, semakin membuat tangannya mengerat dengan kuat di bahu Nara.


"Kak, aku tidak bisa lama-lama ya. Aku pamit, Kak," pamit Nara.


Bintang dan Nara berlalu menjauh dari depan sel Rimba. Dia baru saja dari rumah sakit untuk cek kandungan dan menyempatkan diri untuk menjengguk Rimba. Sejak lelaki itu ditangkap oleh polisi, Nara tidak pernah bertemu atau menjengguk Rimba.


Rimba menggeleng. Tangannya keluar dari sel seolah ingin menarik dan menahan Nara agar kembali ke pelukannya.

__ADS_1


"Tidak. Nara, tolong jangan tinggalkan Kakak. Jangan pergi. Jangan pergi!" teriak lelaki itu histeris dan menguncang besi yang di genggam dengan kuat.


"Tolong tenang, Pak," ucap salah satu polisi yang berjaga di depan sel Rimba.


.


.


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Bintang mengusap kepala Nara yang bersandar di bahunya.


"Kadang aku merasa kasihan dengan Kak Rimba, Mas." Nara menarik nafas dalam.


"Hem, kamu masih menyukainya, Sayang?" Bintang memasang wajah tak suka.


Nara terkekeh. Suaminya ini sensitif sekali jika berbicara tentang Rimba.


"Apa Mas mau kalau aku suka sama Kak Rimba?" goda Nara menatap suaminya jahil. Kadang dia merasa lucu, dulu lelaki ini mengabaikannya dan menganggap dirinya tak ada. Namun, sekarang lelaki ini telah menjadi tempat ternyaman untuk dia pulang.


"Awas saja. Aku akan runtuhkan rutan itu," ancam Bintang.


Enak saja jika istrinya menyukai mantan penjahat itu. Oh jelas Bintang takkan ikhlas, Nara adalah barang mahal dan limited edition dan tidak akan dia temukan dalam sosok wanita versi manapun. Mana dia rela jika wanita itu berani-berani menyelipkan nama pria lain di hatinya.


Nara tertawa lebar ketika mendengar ancaman Bintang yang menurutnya lucu. Dia geleng-geleng kepala tetapi senang memiliki suami yang sangat menyayangi dirinya.


"Cinta dan sayangku hanya untuk suamiku tercinta, Mas Bintang. Suami bucinku, suami prosesifku, mantan suamiku dan sekarang menjadi suamiku sebentar lagi akan menjadi ayah dari anak kembarku."


Bintang gemas sendiri mendengar ucapan istrinya. Lelaki itu menghujani wajah sang istri dengan banyak ciuman bertubi-tubi di wajah Nara.


"Hahaha, Mas. geli Mas, geli."


Nara tertawa geli ketika benda kenyal tersebut menempel di wajahnya.


"Habisnya kamu itu suka sekali menggombal. Belajar dari mana sih?" Terakhir Bintang malah mengecup bibir istrinya secepat kilat sebelum wanita itu mengamuk.

__ADS_1


__ADS_2