Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Kenapa kamu menghindari saya?


__ADS_3

"Aaaa_"


Mentari terkejut ketika merasakan seseorang menarik tangannya. Matanya membulat sempurna ketika jatuh kedalam pelukan Divta.


"Pak_"


Divta mengunci tubuh gadis tersebut sehingga menempel di dinding. Lelaki itu menepis jarak di antara mereka. Sejenak tatapan keduanya bertemu. Tatapan sendu dari mata Mentari seperti magnet yang menarik Divta masuk ke dalam sana.


"Kenapa kamu menghindari saya?" tanya Divta menatap gadis itu tajam.


Mulut Mentari kaku berbicara. Apalagi jarak mereka sangat dekat bahkan hidung Divta nyaris menempel di hidungnya sehingga aroma nafas lelaki itu menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Mentari.


"Pak, jangan seperti ini. Nanti Ibu melihat dan bisa salah paham," ucap Mentari berusaha menyingkirkan tubuh Divta agar menjauh darinya.


Tetapi laki-laki itu tak bergeser sama sekali. Dia tidak suka Mentari yang mencoba menjauh darinya. Apa gadis itu tahu seharian dia uring-uringan karena tidak melihat Mentari dari pagi sampai malam? Bahkan di jam makan malam wujud gadis itu tak jua terlihat.


"Jawab pertanyaan saya Tari, kenapa kamu menghindari saya?" tanya Divta sekali lagi. Hidung mereka saling bertemu satu sama lain.


Jantung keduanya seperti berlomba menunjukkan debarannya. Mentari menelan salivanya susah payah.


"Pak, saya mohon. Lepaskan saya," pinta Mentari.


"Tidak akan sebelum kau menjawab pertanyaanku," sanggah Divta.


Mentari menatap Divta berkaca-kaca. Apalagi lelaki ini tahu bahwa dia merasakan jiwanya rapuh ketika mengingat ucapan Melly yang mengatakan jika mereka tidak pantas bersanding. Bukan, bukan itu. Mentari sedang menjaga perasaannya agar tidak terjebak dalam rasa yang salah.


"Pak, apa pantas pengasuh dan majikan dekat seperti ini? Saya mohon Pak lepaskan saya!" cecar Mentari.


"Siapa bilang tidak pantas? Saya jatuh cinta sama kamu, Mentari!" aku Divta.


Pupil mata Mentari membulat sempurna ketika mendengar pengakuan Divta. Dia tidak percaya ketika kata-kata itu keluar dari bibir Divta.

__ADS_1


"Saya jatuh cinta sama kamu, Mentari. Saya cemburu melihat Rein perhatian sama kamu," jelas Divta dengan tegas.


Mentari menggeleng tidak mau. Bulan karena dia tidak memiliki perasaan yang sama pada lelaki ini. Hanya saja dia sadar siapa dirinya dan siapa Divta. Mereka terhalang oleh kasta.


"Pak, saya tidak pernah jatuh cinta sama Bapak. Jadi tolong lepaskan saya Pak," pinta Mentari.


"Kamu bohong Mentari, saya yakin kamu memiliki perasaan seperti yang saya rasakan karena saya merasakannya," sanggah Divta. Dia ingin Mentari mengakui perasaannya.


"Pak_"


Mata Mentari membulat sempurna ketika merasakan bibir Divta menempel di bibir ranumnya. Dia berusaha mendorong tubuh Divta tetapi lelaki itu malah menahan tengkuknya dan memperdalam ciuman mereka.


Divta mengigit bibir bawah Mentari ketika merasakan gadis itu hanya diam saja. Sontak mulut Mentari terbuka, hal tersebut tidak di sia-siakan oleh Divta. Dia mengakses rongga mulut Mentari dan menyesap bibir gadis itu dengan agresif serta mencari rasa manis di bibir ranum tersebut.


Divta melepaskan ciumannya ketika merasakan Mentari kehabisan nafas. Nafas keduanya terengah-engah. Divta menyatukan kening mereka berdua. Di tatapnya wajah merah Mentari.


"Ciuman pertamamu?" tebaknya karena merasa Mentari sangat kaku.


"Kamu milik saya, Mentari. Kamu harus tahu itu. Saya tidak rela dan tidak ikhlas jika kamu dekat dengan Rein," ucap Divta memperingatkan dan menegaskan.


"Pak, tap_"


"Itu urusan saya nanti. Saya mau kamu berada di samping saya dan selalu ada untuk saya serta Al dan El. Kami membutuhkan kamu."


Divta menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya. Entah sejak kapan perasaannya tumbuh pada Mentari. Berada di dekat gadis ini membuatnya merasa nyaman dan menjadi diri sendiri.


Divta yang sudah mati rasa karena pengkhianatan di masa lalu, kini menemukan belahan jiwanya pada seorang gadis kecil bernama Mentari. Gadis berbeda yang tidak banyak bicara apalagi menggodanya dengan segala hal. Divta tahu setelah ini akan banyak masalah yang mereka hadapi. Terutama orang tua Divta yang tidak akan merestui hubungan mereka karena kasta yang berbeda.


.


.

__ADS_1


"Rein, kamu yakin suka sama gadis kampung itu?" tanya Audrey tak habis pikir pada adiknya.


"Memangnya kenapa? Apa salahnya? Toh Tari itu gadis yang cantik!" jawab Rein membela dirinya.


Audrey mencebik kesal. Entah kenapa dia curiga melihat tatapan Divta pada Mentari. Dia tidak akan rela jika adik atau lelaki incarannya jatuh cinta pada gadis kampung yang tentunya tidak selevel dengan mereka.


"Dia itu gadis miskin yang tidak selevel sama kita," ucap Audrey jenggah.


"Tidak masalah dia miskin. Asal setia," sahut Rein sibuk dengan laptopnya.


"Astaga, kamu tahu 'kan Rein? Kalau kita ini terlahir dari keluarga kaya. Apa kata dunia kalau kamu dekat sama cewek miskin kayak Sinar Mentari itu," cetus Audrey.


Rein tak peduli dengan omelan sang kakak. Dia anggap seperti angin lalu, baginya tak masalah jika Mentari itu gadis miskin. Dia mencintai gadis itu tulus apa adanya.


Audrey merenggut kesal. Dia keluar dari kamar adiknya dengan menghentakkan kakinya kesal.


Rein menghela nafas panjang seraya mengapa punggung kakaknya.


"Kenapa semua orang selalu menganggap harta dan jabatan adalah segalanya. Apa Kakak tidak pernah memikirkan Papa yang hancur karena uang?" gumam Rein geleng-geleng kepala.


Rein sebenarnya trauma karena perpisahan kedua orang tuanya. Oleh sebab itulah dia selalu takut memulai hubungan dengan wanita yang tidak jelas.


.


.


"Kamu kenapa, Audy?" tanya Dona duduk disamping anaknya itu.


"Ma, aku tidak habis pikir. Kenapa Rein bisa suka sama gadis kampung seperti Mentari?" ucap Audrey menggerutu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2