
Tanganku mengepal dengan kuat. Rahang mengeras seakan ingin menelan Sherly dan Kevin hidup-hidup. Tetapi aku ingat kata Dean agar tidak gegabah. Jika Sherly bisa mempermainkan aku, kenapa aku tidak? Akan ku buat dia menyesal karena sudah mengkhianati kepercayaan yang ku berikan.
Tak mau berlama-lama melihat kedua pengkhianat itu. Aku melenggang pergi dari sana sebelum mereka menyadari kehadiranku di cafe ini.
Aku masuk ke dalam mobil. Kutarik napas sedalam mungkin untuk menetralisir emosi yang terasa membuncah di dalam dada.
"Argh!"
Kupukul stir mobil ini dengan kuat. Andai saja dia manusia, aku ingin sekali rasanya mengajak benda ini berantam untuk meluapkan semua emosi dan amarahku.
Aku menjalankan mobilku meninggalkan cafe. Rasanya masih tak percaya, kenapa Sherly tega melakukan ini padaku. Pantas saja dia keukeh memaksa aku menerima tawaran Kevin untuk menjalin kerjasama. Ternyata mereka berdua memiliki rencana untuk menghancurkan aku. Untung saja Dean cepat memberitahuku sebelum aku benar-benar terjebak dalam permainan mereka. Namun, sekarang bukan aku yang terjebak tetapi aku yang akan menjebak mereka. Kupastikan Sherly akan menyesal karena sudah mengkhianatiku.
Aku memarkirkan mobilku di garasi. Sebenarnya beberapa hari ini aku memang tidak pulang ke rumah karena sibuk dengan pekerjaan kantor. Jadi, aku memilih menginap di kantor saja sampai semua proyek yang ku tangani selesai.
"Arin!"
"Arin!"
"Arin!"
Aku berteriak mencari di mana wanita itu. Sudah dua Minggu aku tidak bertemu dengannya. Aku memang sengaja tak menghubunginya dengan niat menghilang supaya dia mencariku seperti perempuan pada umumnya. Namun, dia tidak datang juga di kantor, ke mana dia sebenarnya? Aku tidak tahu pekerjaan istriku karena dia baru saja lulus kuliah. Jadi, kemungkinan dia tidak bekerja dan hanya pengangguran.
"Arin, kamu di mana?"
Aku berjalan masuk ke dalam kamarnya. Tunggu, aku langsung terdiam ketika melihat suasana kamar yang sepi. Kamar pembantu dengan kasur tipis dan lampu remang-remang, tempat tidur istriku. Kenapa hatiku terenyuh sakit ketika melihat tempat dia tidur? Apa aku keterlaluan?
"Arin," panggilku membuka pintu kamar mandi barangkali dia ada di sana.
__ADS_1
Aku mengusap wajah kasar saat tak mendapati istriku ada di sana. Ke mana dia sebenarnya? Kenapa tidak ada di sini?
"Arin, kamu tidak bisa sembunyi dari aku. Ke mana kamu, Arin?" tanyaku berteriak memanggil namanya.
Namun, tetap tak ada sahutan. Rumah Sebesar ini memang hanya di huni oleh kami berdua. Aku sengaja tak mencari pembantu supaya semua pekerjaan rumah di kerjakan oleh istriku. Apa gunanya dia jika tidak bisa apa-apa? Bukankah dia menikah denganku karena sebuah keterpaksaan. Jadi, kenapa tidak kau manfaatkan saja tenaganya yang gratis itu untuk keuntunganku sendiri?
Aku menelusuri suasana kamar yang sepi. Kamar ini kecil dan juga sempit. Kutatap pakaiannya yang hanya dia simpan di dalam ranjang. Tidak ada lemari kecil untuk menyimpan baju. Aku memang sengaja, supaya dia merasakan neraka yang sesungguhnya.
Kenapa rasanya hatiku terenyuh sakit saat melihat baju-bajunya tersebut? Aku tahu, Ariana adalah wanita manja yang biasa hidup dalam kemewahan. Namun, aku tak bisa memungkiri bahwa setiap kali melihat bola matanya yang sendu ada rasa sakit yang menjalar. Aku masih tidak terima ketika harus bertanggungjawab atas perbuatan yang sama sekali tidak aku lakukan.
Aku duduk di bibir ranjang. Tanganku mengusap kasur tipis yang hanya ada satu bantal. Entahlah, kenapa mataku berkaca-kaca ketika menyentuh kasur ini? Apa aku sangat kejam? Istriku sedang hamil tetapi aku tega menyuruhnya tidur di kasur tipis ini. Sementara di rumah ini banyak kamar kosong yang lengkap dengan segala fasilitas.
"Arin, kamu tidak bisa pergi dari aku? Kamu tidak bisa menyerah karena kamu harus membayar semuanya," ucapku. Saat mengatakan itu, kenapa rasanya aku emosi? Bukan amarah karena dendam tetapi rasa kecewa saat tak melihat dia ada di sini. Kenapa rasanya kosong?
Hingga tatapan mataku terhenti saat melihat nakas yang tidak sengaja sedikit terbuka.
"Apa itu?"
"Surat apa ini?"
Kuberanikan diri membuka amplop tersebut. Apa isinya? Aku juga penasaran.
Tanganku langsung bergetar hebat saat melihat dan membaca isi amplop tersebut.
"Jadi, selama ini Arin menderita kanker rahim?"
Seperti rekaman sebuah film, semua bayangan kejadian ketika aku menyiksa istriku terekam jelas di dalam kepala. Aku, aku tidak tahu jika Ariana sakit.
__ADS_1
"Arin!"
Tanpa sadar air mataku leleh. Rasa bersalah menyerang bagian rongga dadaku, sakit, sesak, hingga sulit bernapas.
"Arin." Aku tersungkur di lantai dengan air mata berlinang sambil memegang kertas tersebut.
Lalu tak sengaja aku melihat sebuah buku kecil yang terletak di atas pakaian Ariana di dalam ranjang. Ku ambil buku kecil itu, lagi-lagi hatiku sakit ketika melihat tulisan-tulisan yang mencurahkan semua isi hatinya.
"Dear Kak Naro.
Kakak tenang saja, setelah ini aku tidak akan menganggu hidupmu lagi, Kak. Maafkan aku karena sudah membuatmu menderita dengan pernikahan ini. Maaf, aku juga tidak ingin pernikahan ini terjadi. Tetapi aku tidak mau membuat Kak Nara dan Mama Ara kecewa. Kakak, semoga kamu bahagia bersama Kak Sherly. Walau seperti apapun perlakuan kamu sama aku. Aku mencintai kamu, Kak."
Aku menangis histeris ketika membaca salah satu tulisannya. Tuhan, apa aku sungguh-sungguh bodoh dan egois. Aku menyakiti wanita yang sudah di sakiti oleh lelaki yang dia cintai. Aku telah menciptakan neraka paling dalam di kehidupan Ariana. Padahal aku tahu, bahwa dia di tolak oleh keluarganya.
"Arin, maafkan aku. Maafkan aku, Arin."
Aku tidak tahu jika dia mencintaiku. Semua perasaan itu tertutup oleh rasa benciku padanya. Padahal, dia juga korban. Namun, aku malah menciptakan neraka untuknya.
"Arin."
Aku telah menyiksanya. Aku memukul wajahnya, aku memasukan sup panas di dalam mulutnya hingga bibirnya melepuh. Aku, aku telah melakukan kekerasan ada istriku sendiri. Sekarang, dia sakit dan aku tidak tahu dia di mana? Bagaimana keadaannya? Bagaimana bayinya?
"Aku menyesal dan aku terlalu egois karena sudah menyakiti kamu tanpa memikirkan perasaan kamu, Rin. Aku salah. Aku berdosa. Tolong maafkan aku, kembalilah Arin."
Aku menatap kearah nakas, foto pernikahan kami yang mungkin saja sengaja dia abadikan dalam bentuk cetak. Ku ambil foto tersebut. Di sana kami berdua sama-sama tidak tersenyum karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Arin, kenapa kamu tidak cerita kalau kamu sakit? Kenapa kamu sembunyikan ini semua dariku? Kenapa, Arin?"
__ADS_1
Dia menyembunyikan semuanya karena ketidakpedulianku selama ini. Jangankan peduli, berbicara saja aku selalu membentak dan menyakiti perasaannya. Dia wanita baik, dia wanita yang tulus apa adanya. Hanya karena dia hamil anak Mas Angga lalu, aku gelap mata dan menyiksanya tanpa perasaan.
Bersambung...