Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Rapuh.


__ADS_3

Bintang POV.


Aku tak lagi berharap Nara jatuh atas manis kata yang kukemas. Sebagian dari tubuhku, pengalihan dari dunia yang tak lepas darinya. Sebagian lagi kugunakan untuk bekerja sebagai tanda aku masihlah manusia. Aku tak ingin sekedar singgah apalagi nanti jayus pindah. Akulah yang tetap menetap membuatnya merasa lengkap sebagai semesta. Akulah tubuh yang akan memenuhi lubang-lubang yang membuatnya dihantui sepi. Kupeluk dirinya dengan sepenuh hati, agar segala yang menjadi alasan dia ratapi bisa pergi dan berganti hari-hari yang menyenangkan. Tetapi itu hanya terjadi di dalam anganku karena pada kenyataannya semua hal telah berubah dan tak sama lagi.


Hari-hari yang menyenangkan meski gelisah tak sepenuhnya mampu kuhilangkan. Aku adalah ketidaksempurnaan yang menempuh jalan untuk menjadi utuh bersamanya, melengkapi segala hal yang membuatnya merasa dirinya adalah diriku yang membelah diri menjadi dirinya. Aku dan dia adalah sepasang ketidaksempurnaan yang tidak akan sempurna bila tak bersama.


"Nara," panggilku ketika tak sengaja melihatnya duduk di bangku tunggu tempat perawatan bayi.


"Mas Bintang," sahutnya menoleh kearahku.


Aku kebetulan menjaga Ayah karena Bunda pulang untuk merawat Bee. Setelah kedatangan Nara kemarin, Bee mulai bisa menerima kondisinya. Begitu juga dengan Bunda yang perlahan tidak melamun lagi. Bahkan rasa marah dan kecewa yang ada di hatinya seketika menghilang.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku berjalan kearahnya. "Siapa yang sakit, Ra? " tanyaku.


Sepenuh hati jiwa dan perasaanku, aku belum siap kehilangan wanita ini. Bahkan saat kemarin aku mengatakan ingin pergi, aku berharap dia menahanku. Namun, nyatanya Nara baik-baik saja setelah aku tak ada. Sepertinya memang aku yang harus sadar diri, bukan malah berimajinasi terlalu tinggi.


"Mas." Matanya berkaca-kaca.


"Ada apa, Ra? Kenapa kamu menangis?" tanyaku panik. Wanita ini sangat kuat, dia jarang sekali menangis kecuali karena aku.


Meski tubuh tak selalu ada di sampingnya. Aku membawa kepercayaannya kemana saja aku pergi jangan resah hanya karena aku terlihat menjauh atau mencoba pergi. Sesungguhnya aku tak pernah benar-benar hilang dari hidup Nara. Aku ingin memastikan dulu apakah dia bahagia dengan Rimba lelaki yang akan menjadi penggantiku kelak.


"Aku sedang menemani Kak Rimba menjengguk anak temannya, Mas," jelas Nara. Tetapi kenapa penjelasan itu seperti menyakiti hatinya?

__ADS_1


"Terus kenapa kamu tidak masuk? Kenapa menunggu di sini?" cecarku. "Di sini dingin." Entah keinginan dari mana, aku malah melepaskan jasku, lalu mengenakannya di tubuh Nara.


"Terima kasih, Mas," ucapnya memeluk jasku. Terlihat sekali dia kedinginan. Angin malam di rumah sakit tentu tidak baik untuk kesehatan Nara.


"Kamu belum jawab pertanyaanku," ucapku.


"Anak temannya, Kak Rimba sedang kritis, Mas. Aku tidak boleh masuk ke sana," jelas Nara.


Keningku mengerut lalu melirik kearah ruangan perawatan bayi tersebut. Terlihat jelas dari jauh jika Rimba Sedang memeluk wanita yang ada di dalam sana. Mungkin itu ibu bayi yang di maksud Nara. Tetapi tunggu, kenapa harus berpelukan? Memangnya kemana ayah bayi itu? Dan apa maksud Rimba menyuruh Nara menunggu di luar? Bagaimana kalau dia sakit? Apa salahnya jika Rimba meminta Nara pulang duluan, atau mengantar mantan istriku ke rumahnya?


"Bagaimana keadaan Ayah, Mas?" tanya Nara mengalihkan pembicaraan.


Sekarang, aku paham. Mungkin itu yang membuat Nara menangis. Bukan aku syok tahu atau ingin tahu urusan mantan istriku. Tetapi kata Shaka, Nara dan Rimba sudah menjadi sepasang kekasih. Walau aku sering bertanya secepat itu ternyata Nara membuka hatinya untuk pria lain, berbeda dengan aku yang masih meratapi kepergiannya.


"Aku baik-baik saja, Mas," jawabnya memalsukan senyumnya. "Mas, boleh aku bertemu Ayah?" pintanya melirik sebentar kearah ruangan bayi tersebut.


"Boleh. Ayo," ajakku.


"Iya, Mas."


Kami berdua berjalan menuju ruangan tempat Ayah dirawat. Perasaan akan tetap tumbuh dengan hal-hal yang baru. Terbukti saat aku berjalan di samping Nara, perasaan yang ku kira telah mati ini malah kembali menggebu memenuhi sukmaku. Dengan segala impian dan usaha untuk melakukan pencapaian untuk melupakan dan ikhlas tetapi nyatanya aku gagal karena hingga kini nama Nara masih menjadi nama paling populer dalam jajaran hatiku.


"Ayah," panggil Nara duduk di kursi samping ranjang Ayah.

__ADS_1


Aku juga duduk di samping mantan istriku itu. Tak ada rasa canggung di hati kami berdua. Kami seperti teman lama yang bertemu. Nara juga tak mengusirku lagi ketika aku sudah berhenti merenggek dan meminta agar dia memberikan aku satu kesempatan untuk kembali.


"Ayah, ini Nara. Buka matamu, Ayah," ucapnya terdengar menyayat hati.


Nara memang dekat dengan keluarga besarku. Bahkan saat kami berdua sudah berpisah dan menjadi orang asing. Kedua orang tua ku dan orang tua Nara tetap menjalin hubungan baik.


"Nara kangen sama, Ayah. Cepat sembuh Ayah." Dia mengecup punggung tangan Ayah dengan sayang dan rasa hormatnya.


Aku menitikkan air mata merasa bersalah dengan semua keadaan ini. Seandainya aku tak egois dengan mementingkan perasaan sendiri, pasti sekarang aku dan Nara sudah bahagia. Ayah dan Bee juga takkan mengalami hal-hal menyedihkan seperti ini.


"Mas." Nara tersenyum kearahku. "Yang kuat ya. Jadilah, sosok yang mampu membuat mereka melewati semua ini. Aku yakin Mas bisa," ucapnya mengusap bahuku seolah menyalurkan kekuatan lewat usapan tersebut. Walau aku tahu dia juga rapuh.


Penyesalan dalam hidupku adalah melepaskan Nara menjadi milik orang lain. Katanya dia bahagia tetapi kenapa tatapan matanya menunjukkan kerapuhan?


Nara adalah orang berbeda dari banyak hati yang ku temui. Selain pada tatapan matanya, lengannya, senyumnya dan seutuh tubuhnya. Aku selalu jatuh cinta pada cara dia memandang dunia. Ruang yang dia simpan di kepalanya, yang dia tenangkan dalam dadanya. Dia merawatnya sepenuh jiwa. Katanya, semua itu dia lakukan karena dia mencintai dunianya. Bagiku, impian-impian besar Nara selalu mengangumkan.


"Terima kasih, Ra. Aku juga berharap kamu bahagia sama Rimba," sahutku.


Apakah Nara tahu bahwa sebenarnya aku tidak suka dengan kalimat yang aku ucapkan sendiri. Aku tidak mau orang lain membuat Nara bahagia. Aku ingin orang itu adalah aku, tetapi aku mulai sadar diri bahwa semua adalah ketidakmungkinan. Bagaimana bisa aku membuatnya bahagia? Sementara aku sendiri yang menanamkan luka di hati wanita ini.


"Kamu wanita baik. Kamu berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik juga. Tapi Ra, sebelum kamu bahagia. Aku tidak akan pergi, aku harus memastikan apakah kamu sudah bahagia dengan pilihan kamu sendiri."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2