Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Menganggumi


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Dante POV.


"Kenapa Dan?" tanya Regi sahabat ku. Saat ini aku sedang ada bisnis di Singkawang.


"Ada wanita yang begitu mirip sama Killa," jawabku menghela nafas panjang.


"Serius?" ulang Regi memastikan.


Aku mengangguk. Sebenarnya aku juga penasaran, apa benar jika Killa pintar? Atau kebetulan saja wajahnya dan Ara mirip?


"Iya Gi, benar-benar mirip. Bahkan aku sempat berpikir kalau dia Killa yang hidup lagi," jawab ku tersenyum kecut.


"Kamu sudah tanya pada mertua mu masalah ini?" ujar Regi.


Aku menggeleng. Sejak istri ku menikah kedua mertua ku pindah ke Jakarta. Mereka dokter spesialis yang menikmati masa pensiun nya disana. Mungkin juga untuk melupakan putri semata wayang mereka.


"Aku belum bertemu mereka. Minggu depan mereka mau datang ke sini menjengguk Tata," jawabku.


"Dan, apakah mungkin kalau sebenarnya Killa kembar yang terpisah? Bisa saja 'kan?" ucap Regi menerka-nerka.


"Entahlah bisa jadi. Ara pernah menanyakan tentang mertua ku. Apakah sebenarnya Ara tahu sesuatu!" ucap ku.


"Bisa jadi. Kamu harus cari informasi ini, Dan. Aku yakin sekali kalau wanita itu saudara kembar istrimu," tukas Regi.


"Iya. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka terpisah? Kalau iya mereka kembar, kenapa Daddy dan Mommy tidak cari tahu keberadaan putrinya? Aku bingung Gi." Aku memijit-mijit pelipis ku yang berdenyut sakit memikirkan hal tersebut.


Membahas Killa aku jadi teringat pada Ara, wanita yang terus di hantam oleh masalah dalam hidupnya. Jujur aku kagum dengan kepribadian Ara yang jelas jauh berbeda dari Killa. Almarhum istriku sangat manja, apalagi anak tunggal yang terbiasa hidup dalam kemewahan. Sementara Ara dia bahkan selalu menolak untuk di bantu, dia seperti terbiasa melakukan segala sesuatu nya seorang diri.


"Aku penasaran pada wanita itu," ucap Regi.


"Dia berbeda dari Killa. Ku akui itu," sahutku.

__ADS_1


"Kamu suka sama dia?" tuding Regi menatapku curiga.


"Tidak," kilahku.


"Sudahlah, Dan. Akui saja perasaan mu. Jika kamu memang suka sama dia, tidak ada salah nya kamu bantu dia mengungkapkan kebenaran siapa dia sebenarnya. Aku curiga banget kalau dia benar-benar memiliki masa lalu yang berhubungan sama istrimu," jelas Regi.


Jika di tanya, apakah aku menyukai Ara? Aku tidak tahu jawaban nya. Setelah sekian lama dalam kesendirian, aku belum memikirkan masalah hubungan asmara. Aku ingin fokus pada pekerjaan dan Tata. Tetapi entahlah, aku belum memastikan perasaan ku. Namun, jujur saja aku merasa nyaman saat berada didekatnya. Apalagi beberapa waktu belakangan ini kami sangat dekat sejak Nara masuk rumah sakit.


Aku tidak tahu kenapa bisa sepeduli ini pada Ara. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya, saat Naro mengabari ku bahwa kakak nya sakit. Aku langsung menuju rumah Ara padahal sudah tengah. Aku tidak sadar bahwa kepedulian ku tersebut malah berujung pada perasaan.


Ara wanita berbeda. Terlalu banyak hal yang terjadi di hidupnya membuat dia sedikit dingin dengan orang lain, terutama aku. Dia mandiri dan kuat, walau terlihat dingin dan cuek tetapi dia memiliki hati yang lembut.


"Aku tidak yakin, kalau aku menyukai nya Gi. Aku hanya merasa nyaman saja," ucap ku.


Sebenarnya aku menolak untuk jatuh hati pada Ara. Aku belum siap untuk mengurus hubungan asmara. Walau aku tahu jika Ara itu wanita berbeda dari yang lain. Tetap saja aku was-was, aku takut tidak bisa memberikan kebahagiaan yang layak untuk Tata. Walau aku tahu Ara wanita yang baik dan apa adanya. Dia tidak suka menjadi orang lain meski sering di sakiti otak lain.


"Kenapa tidak yakin?" tanya Regi.


"Aku belum siap," jawab ku sambil berdiri. "Kamu mau ikut kerumah? Ayo, aku malas sendirian di jalan," ajak ku.


"Ayo."


"Kamu yang menyetir." Aku melempar kunci mobil padanya.


"Rebes."


Aku masuk ke dalam mobil. Tadi aku bertemu dengan klien untuk membahas pengusuran lahan baru. Sebenarnya aku perlu asisten atau sekretaris tetapi karena tidak ada yang sesuai dengan kriteria ku, jadi aku memilih menyelesaikan semuanya sendiri.


"Galau?" goda Regi melirikku.


"Aku masih penasaran tentang Ara dan Killa. Sebenarnya aku tidak sabar menanyakan hal ini pada Daddy dan Mommy," ucap ku.


Regi mengangguk. Dia setuju jika aku membantu Ara menguak semua misteri yang belum terungkap ini. Semoga saja ada titik terang di balik semuanya.


Tetapi jika benar Ara dan Killa adalah kembar terpisah, kenapa kedua mertua ku tidak pernah membahas hal tersebut? Apa sebenarnya mereka tidak tahu bahwa anak nya kembar?


Aku duduk dengan tatapan kosong ke depan. Pikiran ku mulai melalang buana. Masih terekam kejadian lima tahun yang lalu saat aku menangis histeris ketika Killa di nyatakan meninggal. Aku tidak tahu apa yang benar-benar terjadi. Sebelum nya istriku baik-baik saja. Tetapi setelah operasi dia koma dan akhirnya meninggal.

__ADS_1


Dokter tak menjelaskan penyebab istriku meninggal, mereka hanya mengatakan bahwa sudah berusaha dengan keras namun takdir malah berkehendak lain. Aku berusaha menolak takdir agar Killa tidak pergi. Tetapi pada kenyataannya, kematian memisahkan kami dengan tega. Rasa sakit yang ada dihati seakan membuat aku mati rasa.


Aku sangat mencintai istriku. Aku tidak mau kehilangan dia. Tetapi apakah aku bisa menolak apa yang sudah Tuhan takdirkan untuk untukku?


"Gi, stop!" seru ku.


"Ck, ada apa? Ini hujan Dan," omel Regi.


"Tunggu, itu seperti Ara," tunjukku pada seseorang yang berjalan di trotoar jalan.


"Ara?" Regi juga ikut melihat kearah yang sama.


"Sebentar, aku keluar dulu."


Aku mengambil payung lalu turun dari mobil. Apa yang Ara lakukan ditengah hujan seperti ini? Bukankah tadi siang dia izin pulang mengantar Naro dan ada urusan penting.


"Ara," panggil ku.


Aku berjalan setengah berlari menghampiri nya. Dia sudah badar kuyub dengan wajah pucat. Sebenarnya apa yang terjadi pada wanita ini?


"Ara kamu kenapa?" tanya ku panik, entah kenapa aku bisa panik?


"Pak Dante," ucap nya menyeka air matanya.


"Ara kenapa kamu bisa kehujanan seperti ini?" cecar ku


"Pak." Dia memaksa kan senyum.


Kurangkul bahu nya agar masuk kedalam payung yang ku pegang. Wajah pucat dan mata sembab, rambutnya basah dan berantakan.


Brak


Ara langsung jatuh kedalam pelukkan ku.


"Ara," teriak ku.


Ku lepaskan payung ditangan ku, lalu mengangkat tubuh Ara.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2