
Naro POV.
"Katakan padaku, brengsek! Di mana Arin?" tanyaku seraya membentak Galaksi.
Namun, Galaksi tenang saja dengan wajah mengejeknya. Dia menatap aku sinis seolah hendak mengajak baku hantam saat ini juga.
"Untuk apa? Apa kamu belum puas menyakiti Arin?" Kali ini tatapannya penuh amarah.
"Jangan membuatku semakin marah, Galaksi!" sentakku.
"Son, sabar!" Mama mengusap bahuku dengan lembut.
Usapan hangat dan lembut di bahuku seketika mampu meredakan emosi yang sedang membucah sejak tadi. Kedatangan Galaksi ke Pontianak membawa kontroversi tersendiri bagi semua anggota keluarga. Beberapa bulan terakhir dia pergi dan membawa istriku hingga tak kembali. Kami semua panik dan mencari keberadaan mereka, berharap sebuah keajaiban terjadi.
"Galaksi, di mana Arin?" tanya Mas Angga ikut menimpali.
Mas Angga dalam proses pemulihan. Dia menjalani perawatan intensif setelah kecelakaan tersebut. Harusnya aku senang dan bahagia jika Mas Angga bangun artinya Ariana akan kembali bersama lelaki itu. Namun, kenapa rasanya aku cemas? Kenapa rasanya aku takut? Aku tidak mau kehilangan Ariana dan dia lebih memilih Mas Angga dari pada aku yang suaminya.
"Tante mohon, Galaksi. Katakan di mana Arin!" renggek Mama Tari sambil menangis hebat.
Kami semua sedang berkumpul di keluarga besar mertuaku. Wajah kami tidak ada yang tenang. Semua penuh dengan kecemasan dan ketakutan. Beberapa bulan terakhir kami berbondong-bondong mencari keberadaan istriku. Namun, kami gagal cara apapun yang di lakukan tak juga menemukan jejak kaki Ariana. Galaksi begitu pandai menyembunyikan wanita tersebut.
Galaksi terdiam. Dia menatap kami semua dengan sinis. Tatapan matanya penuh amarah dan kebencian karena terlihat dari mata yang merah dan wajah dingin.
"Untuk apa? Bukankah kalian semua membenci Arin?"
Kami semua terdiam. Tak ada yang bersuara selain suara isakan tangis yang saling bersahutan. Terutama Mama dan Mama Tari, mereka benar-benar kehilangan sosok anak yang begitu di sayangi.
__ADS_1
"Om minta maaf, Galaksi. Tetapi Om mohon bawa Om ketemu Arin," ucap Om Divta.
Om Divta seperti orang gila. Setelah tahu fakta dan kebenarannya. Dia terus mencari keberadaan anak perempuannya. Penyesalan seolah telah membuatnya berada di ujung tanduk kemarin.
"Apa Om tahu? Om adalah orang pertama yang membuat Arin terluka." Galaksi menatap Om Divta dengan sinis.
"Kedatanganku ke sini bukan untuk mengatakan di mana Arin. Tetapi mengambil berkas-berkas penting sebelum dia menjalani operasi."
Aku berlutut di depan Galaksi. Agar dia mau mengatakan di mana istriku? Tak peduli lagi dengan semua rasa gengsi dan malu. Aku hanya ingin Galaksi mengatakan kondisi Ariana lalu aku bisa menemui istriku sebelum terlambat. Sebelum aku benar-benar menyesal selama ini.
"Aku akan lakukan apa saja agar kamu mengatakan keberadaan istriku. Aku tidak peduli, siapa yang harus berkorban dan di korbankan. Tolong aku, Galaksi. Aku benar-benar ingin menemuinya. Aku ingin meminta maaf dan memeluknya. Aku tahu, aku salah, aku jahat, aku berdosa, aku lelaki yang tidak baik," ucapku memeluk kaki Galaksi. Kali saja hatinya bisa luluh dengan permohonan yang aku ucapkan.
Galaksi berdecih seakan mengejek aku. Sejak dulu sampai sekarang, hubungan kami memang tidak baik walau saudara.
"Galaksi, katakanlah! Kami semua berhak tahu kondisi Arin sekarang. Tolong jangan pikirkan amarah dan kebencian di hati kamu. Saat ini yang paling penting adalah Arin," sambung Mas Bintang ikut menimpali.
"Naro, duduklah. Jangan seperti itu. Mari kita dengarkan penjelasan Galaksi," ucap Mas Bintang sembari mengusap bahuku dengan lembut.
Aku berdiri dan menyeka air mataku dengan kasar. Lalu duduk di samping Mama. Sementara Mas Angga menatapku dengan sinis, setelah bangun dari koma. Mas Angga langsung mencari keberadaan Ariana. Namun, seketika di kejutkan oleh sejuah kenyataan yang membuatnya menyesal karena bangun. Aku adalah sasaran utama yang di benci olehnya karena aku Ariana sampai seperti ini.
"Ayo, Galaksi. Katakan!" ucap Mas Bintang lagi.
Galaksi tampak menghela napas lalu menunduk. Air mata bergelinding bergulir dari bola matanya dan mengalir membasahi pipi yang basah.
"Selama ini aku dan Anggi membawa Arin ke rumah sakit Timberland. Kondisinya semakin menurun."
"Sel kanker dalam tubuh Arin sudah menyebar ke bagian syaraf. Dia harus menjalani pengobatan rutin supaya bisa bertahan."
__ADS_1
"Namun, kenyataannya dia tidak bisa menjalani kemoterapi lagi karena berpengaruh pada tiga bayi dalam kandungannya."
"Tiga bayi?" ulang kami semua. Apa istriku melahirkan anak kembar tiga?
"Iya, Arin menggandung anak kembar tiga. Saat tahu hal tersebut dia sangat bahagia. Namun, sayang kebahagiaan itu tidak bisa bertahan lama setelah dokter memberi pilihan antara dia dan bayi nya," jelas Galaksi. Seumur hidup baru kali ini aku melihat dia menangis.
"Sekarang...." Dia menunduk. "Sebentar lagi Arin akan menjalani operasi besar tetapi kemungkinan operasi ini berhasil hanya 30% itu juga hanya untuk ketiga bayinya."
Deg
30% 0? Jantungku seperti berhenti berdetak ketika mendengar penjelasan Galaksi. Hanya 30% akan berhasil, lalu bagaimana jika operasi itu gagal? Apakah Ariana akan meninggalkan aku selamanya? Apakah dia benar-benar takkan kembali lalu membiarkan aku hidup dalam penyesalan sepanjang masa?
Lalu Galaksi menatap kami semua. Seolah hendak menginterogasi apa yang sudah kami lakukan selama ini pada istriku itu.
"Om Divta." Galaksi melihat kearah Om Divta. "Apa Om tahu? Bagaimana menderitanya Arin? Ayah mana yang tega mengusir anaknya hanya karena dia hamil nikah? Ayah mana yang tega mengatakan anaknya murahan hanya karena dia hamil di luar nikah? Ayah mana yang tega menyakiti hati putrinya hanya karena dia hamil?" cecar Galaksi.
"Gal....."
"Apa Om tahu apa yang sudah di lewati oleh Arin selama ini? Dia di paksa menikah dengan Naro yang tidak pernah menghargainya. Dia di siksa dan dianggap dan setiap hari mendapat kata-kata yang kotor dari suaminya sendiri? Tapi Arin tidak pernah menceritakan itu pada aku dan Anggi. Dia menanggung semua beban seorang diri tanpa mau berbagi."
"Seorang ayah yang seharusnya memeluk putri kecilnya di saat dia terjatuh. Bukan malah menjatuhkan!" sentak Galaksi membentak Om Divta.
Mertuaku itu tak dapat berkata apa-apa selain menunduk malu dengan semua perbuatan yang dia lakukan selama ini. Dia yang biasanya tegas terlihat rapuh.
"Om itu abdi negara. Aku tahu Om malu karena Arin. Tapi haruskah Om mengatakan hal-hal yang kasar pada anak Om sendiri? Haruskah Om semakin menyakiti hati Arin? Mana sikap tegas Om sebagai seorang kapten? Apakah itu hanya untuk pajangan setelah Om pensiun? Arin memang salah tetapi bukan berarti dia mendapatkan perlakukan yang tidak baik dari kalian."
Bersambung....
__ADS_1