Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Gugup


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


Aku membawa Diandra masuk kedalam mobil dengan wajah panik dan bahkan tak peduli dengan baju ku yang juga basah akibat air hujan.


"Dia kenapa Dan?" tanya Regi saat aku memangku tubuh Ara.


"Tidak tahu. Dia kehujanan, cepat jalan!" titah ku.


"Iya," ketus Regi menjalankan mobil.


"Ara, bangun Ra. Ra bangun," ucap ku sambil menepuk-nepuk pipi Ara.


Wajah pucat dan tangan dingin. Entah apa yang Ara lakukan sampai bisa kehujanan seperti ini? Kondisi tubuh nya juga seperti nya kurang sehat, apalagi sejak kematian mantan suaminya. Ara seperti nya mengabaikan kesehatan nya.


"Ara bangun," panggil ku.


Kenapa rasanya aku panik, apalagi mengingat mata terpejam ini membuat kejadian lima tahun yang lalu seperti terekam lagi? Di mana aku memeluk tubuh pucat dan kaku itu dengan teriakkan histeris dan berharap bahwa dia akan bangun dan mendengar suaraku.


"Kamu terlihat panik Dan?" Sial kenapa Regi terus menggoda ku, jelas aku panik. Tetapi aku tidak tahu kenapa bisa panik?


"Ck, aku tidak ada waktu bercanda, Gi. Sebaiknya percepat kelajuan mobilnya," omel ku kesal.


"Aku juga sedang tidak serius," sahut Regi terkekeh pelan. "Eh dia benar-benar mirip Killa, Dan. Aman jantung kamu peluk dia seperti itu?" ujar Regi dengan senyum tanpa dosanya.


Aku terdiam lalu mendapati bahwa diriku tengah memeluk tubuh Ara.


"Jangan salah paham, aku hanya khawatir karena dia karyawan ku," kilah ku.


"Sudahlah, Dan. Tidak perlu mengelak lagi. Aku setuju jika kamu sama dia dari pada Tensa. Setidaknya dia lebih normal dan tidak terobsesi sama kamu," tukas Regi.


Aku menghela nafas panjang. Sudah aku tegaskan bahwa aku tidak menyukai siapapun. Jika pun aku memiliki rasa pad Ara, anggap saja itu sebuah kebetulan karena dia mirip dengan Killa. Aku takkan membiarkan rasa ini tumbuh didalam dada. Aku sudah berjanji akan menjaga cinta kami dalam keabadian nanti.


Sampai dirumah aku langsung turun menggendong tubuh Ara. Wanita ini tampak kurus seperti nya makannya pun tak terurus. Dia tertekan karena masalah yang dia hadapi.


"Astaga Dan, Ara kenapa?" tanya Mama panik.


"Pingsan Ma. Ma cepat periksa Ara," ucap ku meletakkan Ara di kamarku. Tidak ada kamar lagi yang bisa digunakan untuk Ara.

__ADS_1


"Iya iya, Mama periksa," ucap Mama.


Mama Dokter spesialis penyakit dalam yang sudah lama pensiun. Dia tinggal dirumah bersama Tata dan Papa.


"Mommy," panggil Tata.


"Tata, ayo kita tunggu diluar ya Sayang." Aku langsung mengangkat tubuh Tata dan membawa nya keluar dari kamar lalu membiarkan Mama memeriksa kondisi Ara.


"Hiks hiks, Daddy apa yang teljadi pada Mommy? Kenapa Mommy bisa pingsan sepelti itu?" cecar Tata menangis segugukan.


"Mommy baik-baik saja Sayang," ucap ku menenangkan Tata.


Papa dan Regi duduk dengan tenang di sofa seraya menatap ku dengan curiga.


"Sebaiknya kamu ganti baju dulu, Dan. Nanti kamu sakit," ucap Papa. Aku memang dalam keadaan basah karena menggendong Ara tadi di tengah hujan.


"Iya Pa," sahut ku.


"Tata sini sama Om Ganteng," ucap Regi mengambil Tata dari gendongan ku.


Aku menuju kamar dan berganti pakaian, jujur saja aku dingin.


"Ma, bagaimana keadaan Ara?" tanya ku.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Dan? Kenapa Ara bisa sampai pingsan?" tanya Mama memasukkan alat-alat medisnya kedalam tas.


"Aku tidak mau, Ma. Tadi aku menemukan di jalan hujan-hujanan," jelas ku.


Mama menghela nafas panjang lalu menatap ku lama.


"Dan, kenapa kamu tidak bantu Ara mencari tahu tentang orang tua nya? Jangan kan Ara, Mama juga penasaran apa sebenarnya yang membuat mertua kamu bisa tidak tahu kalau anak nya kembar?" ucap Mama.


"Aku akan coba nanti, Ma," jawab ku.


"Kamu suka sama Ara?" tanya Mama menyelidik.


"Ma, aku tidak ingin membahas ini," sergahku.


Bukan apa, kami sering sekali berdebat hanya karena hal ini. Mama memaksa ku mendekati Ara karena dia ingin Ara menjadi istriku, begitu juga dengan Papa dan Tata. Sementara aku, belum siap sama sekali. Aku takut tak bisa mencintai Ara dan aku juga takut kalau nanti malah menyakiti nya nanti.


"Tidak ada salah nya, Dan. Kamu buka hati buat Ara," imbuh Mama. "Kamu bisa jadi obat untuk menyembuhkan luka di hatinya. Percayalah, dia wanita yang baik. Dia tidak hanya akan mencintai mu. Tapi juga menyayangi Tata," jelas Mama panjang lebar.

__ADS_1


"Ya sudah Mama mau ambil baju dulu di kamar. Mau ganti baju Ara," ucap Mama berdiri dari bibir ranjang.


"Iya Ma."


Ku tatap wajah Ara yang terlelap. Entahlah, aku tidak yakin dengan perasaan ku sendiri. Ara wanita baik, dia pantas mendapatkan lelaki baik-baik. Apakah lelaki itu aku? Aku saja belum siap menaruh hati sepenuhnya pada Ara.


"Kamu tahu, sejak pertama kali melihat kamu saya pikir kamu adalah istri saya yang hidup kembali," ucap ku. Tanpa sadar tangan ku terulur menyingkirkan anak rambutnya yang menutupi mata.


Pertemuan pertama kami di lift kala itu masih terngiang dikepalaku, dia tampak cuek dan dingin bahkan sama sekali tak menyapa ku. Padahal aku sudah tahu bahwa dia adalah karyawan baru yang di katakan pada Deddy.


"Ara, saya berjanji akan membantu kamu mengungkap tabir ini. Kamu tenang saja. Kamu tidak sendirian. Tetapi kamu harus menyiapkan mental ketika tahu semua kebenaran nya," ucap ku lagi.


Wajah nya tampak lelah dan rapuh. Setelah berpisah dari suaminya anak nya kecelakaan lalu mantan suaminya pun dipanggil oleh Tuhan. Aku tahu tak mudah menjadi Ara, pasti sangat sakit.


"Dan."


Mama masuk menbawa beberapa potong baju yang mau di pakaikan ke tubuh Ara.


"Silakan, Ma," ucap ku berdiri sambil mempersilahkan Mama mengganti pakaian Ara.


"Kamu mau bantuin?" Mama tersenyum menggoda.


"Jangan aneh-aneh, Ma." Aku memutar bola matanya malas.


"Terus kenapa masih disitu? Mau lihat Ara ganti baju?"


Aku langsung tersadar, kenapa aku masih berdiri disini.


"Mama, ahh."


Aku melenggang keluar dari kamar dengan wajah malu. Kenapa aku bisa lupa? Sial, Mama pasti akan terus menggoda ku setelah ini.


"Kenapa Dan?" tanya Papa yang melihat ku gugup.


"Tidak apa-apa, Pa," sahutku mengembuskan nafas kasar.


"Kenapa muka nya merah begitu?" goda Regi sambil tersenyum jahil.


"Mommy, baik-baik saja, Dad?" tanya Tata yang masih duduk dipangkuan Regi. Tata memang dekat dengan Regi, apalagi Regi suka membelikannya es cream.


"Mama baik-baik saja, Sayang," jawabku.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2