Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Kekasih suamiku


__ADS_3

Aku memarkir mobil di garasi. Dan keluar dari sana. Kulihat mobil Mas Bintang sudah ada di sana, pasti dia sudah pulang lebih dulu. Lampu juga sudah menyala.


Aku masuk dengan wajah lelah, hari ini banyak sekali laporan keuangan tertinggal dan harus aku kerjakan agar bisa mengejar target bulan depan.


"Selamat ma_" aku membeku di tempatku ketika melihat Mas Bintang dan seorang wanita.


Mas Bintang melirikku sekilas lalu kembali fokus makan bersama wanita tersebut. Kenapa sesak? Aku tak pernah melihat Mas Bintang sebahagia itu selama ini.


"Siapa dia, Mas?" tanyaku dengan suara serak.


Wanita itu juga menatapku heran. Wajahnya cantik dan ayu. Penampilannya sederhana.


"Hai, aku Mona." Dia mengulurkan tangan kearahku.


"Nara," sahutku menerima uluran tangannya.


"Ini kekasihku, Mona."


Deg


Seluruh tubuhku langsung melemas ketika dia mengatakan bahwa perempuan itu adalah kekasihnya. Kenapa rasanya sakit sekali ketika mendengar ucapan uth keluar dari mulutnya.


"Memangnya dia siapa, Tang?" tanyanya pada Mas Bintang. Mungkin dia belum tahu jika aku adalah istri dari pria yang menjadi kekasihnya itu.

__ADS_1


Mas Bintang sekilas melihatku lalu kembali fokus pada makanannya.


"Adik sepupu," jawabnya.


"Oh adik kamu. Senang berkenalan denganmu, Dek. Semoga kita bisa menjadi teman baik ya." Wanita ini malah memberikan pelukan hangat padaku.


Aku terdiam, tak menolak dan tak juga membalas. Sendi-sendi dalam tubuhku serasa ingin terlepas dari tempatnya. Kulirik sejenak jari tangan Mas Bintang. Tidak ada cincin pernikahan kami di jarinya, cincin itu seperti sengaja dia lepas karena takut jika wanita yang memelukku ini tahu bahwa kami sepasang suami istri.


"Iya, Mbak," balasku.


Mona melepaskan pelukanku lalu tersenyum hangat. Wanita ini sangat baik sekali, senyumnya dan tutur bahasanya.


"Sayang, makanlah. Tadi kamu sudah lapar!" ucap Mas Bintang pada wanita itu.


"Ayo, Ra. Mbak sudah masak banyak," ajaknya memapahku duduk di kursi.


"Iya, Mbak." Lagi-lagi aku membalas dengan senyuman manis.


"Mbak ambilkan ya," tawarnya mengambil nasi dan beberapa lauk serta sayuran untukku.


"Tidak perlu, Mbak. Aku bisa sendiri," tolakku tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Jangan sungkan sama Mbak," jawabnya tersimpul.

__ADS_1


Mas Bintang makan dalam diam. Wajahnya datar tak berekspresi tetapi berbeda ketika dia berbicara dengan Mona. Raut kebahagiaan yang tak pernah kulihat itu seperti terpancar di bagian wajahnya.


"Ayo, makan, Ra."


Harusnya aku yang mengatakan hal seperti itu karena ini rumahku dan Maz Bintang. Tetapi kenapa aku seperti tamu di rumah suamiku sendiri?


"Iya, Mbak."


"Kamu sudah lama tinggal sama Bintang?" tanyanya di sela-sela makan kami.


Aku melirik Mas Bintang sejenak sebelum menjawab pertanyaan Mona.


"Baru seminggu, Mbak," jawabku jujur karena memang kami serumah baru seminggu setelah pernikahan.


"Masih baru ya. Mbak, akan tinggal disini."


Deg


Jantungku kembali terasa sesak ketika Mona mengatakan akan tinggal bersama kami. Kenapa Mas Bintang tega sekali membaww wanita lain di rumah tangga kami? Aku tahu dia tidak menginginkan pernikahan ini tetapi bisakah dia sedikit menghargai aku.


"Ti-tinggal di si-ni, Mbak?" ulangku memastikan barangkali salah dengar.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2