Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Meminta izin


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


"Pak saya mau izin kerumah sakit sebentar, nanti saya kembali lagi," ucap ku pada Pak Deddy.


"Lho, siapa yang sakit, Ra? Anak kamu sakit lagi?" tanya Pak Deddy. Pak Deddy teman lama Mas Galvin, dulu dia juga sering datang ke rumah saat membahas pekerjaan dengan Mas Galvin. Jadi aku cukup mengenal beliau.


"Tidak Pak, tapi anak teman saya," ucap ku.


"Kamu sudah izin sama Pak Dante?" tanya Pak Deddy tampak sibuk dengan berkas diatas meja nya. Pak Deddy juga sebagai atasan tertinggi diperusahaan ini.


"Belum Pak," jawab ku sambil menggeleng.


"Ya sudah, kamu izin dulu ke Pak Dante. Kalau dia memperbolehkan berarti di izinkan, kalau tidak ya jangan sakit hati," goda Pak Deddy sambil terkekeh pelan.


Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal. Kenapa harus izin pada Pak Dante padahal aku sudah berusaha menghindar agar tidak bertemu Pak Dante hari ini.


"Bapak saja yang izinkan saya buru-buru," ucap ku beralasan.


"Kamu tidak lihat pekerjaan saya banyak?" ketus Pak Dante.


Aku menghela nafas panjang, "Iya Pak," sahut ku. "Saya permisi, Pak," pamit ku.


"Iya. Jangan lupa ke ruangan Pak Dante," ujar Pak Deddy.


Aku keluar dari ruangan Pak Deddy dengan wajah ditekuk kesal.


"Ra, bagaimana?" tanya Mira yang dari menunggu di luar.


"Disuruh izin sama Pak Dante langsung," sahutku.


"Cie yang akan ketemu gebetannya," ledek Mira.


"Jangan ngadi-ngadi, Mir," ketus ku.


"Ya sudah ayo kita keruangan Pak Dante, nanti kalau sudah jam siang tidak bisa izin. Apalagi setelah makan siang ada meeting," ajak Mira menggandeng tanganku.


Aku dan Mira menuju ruangan Pak Dante. Kalau bukan demi Al, aku sama sekali tidak berniat datang kerumah sakit walau hanya menjengguk Al yang sedang sakit.


"Selamat pagi Pak," sapa ku.


"Pagi Ara. Ada apa? Tumben kesini?" tanya nya yang sudah duduk dengan berkas-berkas diatas meja nya.


Sial, kenapa aku malah mengingat kejadian tadi pagi. Padahal Pak Dante biasa saja. Kenapa aku seperti orang salah tingkah?

__ADS_1


"Pak, saya mau izin ke rumah sakit lagi ini. Nanti sebelum jam makan siang saya kembali lagi untuk ikut meeting bersama Bapak," jelas ku.


"Nara sakit lagi?" tanya nya langsung melihat ku


"Tidak Pak, tapi anak nya Divta," jawab ku jujur.


"Divta?" ulang nya dengan kening mengerut.


"Iya Pak," jawab ku.


"Kamu mau bertemu Divta lagi? Bukannya ada Chelsea?" tanya Pak Dante.


Aku baru ingat kalau Chelsea adalah kakak ipar Pak Dante dan kakak tiri almarhum istrinya. Jika aku saudara kembar almarhum istri Pak Dante, artinya Chelsea kakak tiriku juga. Tetapi kenapa Chelsea tak mengenali wajah ku, padahal kami kenal sejak SMA? Benar-benar diluar nalar.


"Saya hanya ingin menjengguk anak Divta saja, Pak," jawabku.


"Saya ikut."


Aku mendengar tak percaya dan sontak saja melihat kearah Pak Dante, apa tadi katanya? Dia mau ikut?


"Bapak yakin?" tanya ku memastikan.


"Kenapa? Kamu tidak lihat kalau saya serius?" Dia memincingkan matanya curiga.


"Tidak, Pak," kilah ku.


Entah kenapa aku merasa Pak Dante seperti tidak ingin aku dekat-dekat Divta. Apakah dia cemburu? Jelas tidak mungkin, cemburu itu tanda nya cinta. Tidak mungkin Pak Dante menyukai ku lalu jatuh cinta pada wanita seperti ku.


.


.


"Kenapa bingung?" tanya nya melihat ku yang malah diam.


"Pak," panggil ku menghela nafas panjang.


"Apa Bapak mau membantu saya mencari tahu tentang orang tua kandung saya dan hubungan saya dengan almarhum istri Bapak?" tanya ku, semoga dia mau. Sebab Pak Dante satu-satunya orang yang bisa ku percaya saat ini untuk menguak semua rasa penasaran yang menyeruak masuk kedalam dadaku.


"Kamu tenang saja. Minggu depan kedua mertua saya datang kesini," jawab nya. "Tapi istri saya sudah tidak punya ibu kandung, dia punya ibu tiri dan itu Mama-nya Chelsea," sambung nya.


Aku terdiam, jika begitu apakah ibu kandung ku juga sudah meninggal?


"Iya Pak," sahutku.


Kami berjalan masuk menelusuri koridor rumah sakit, tanpa berbicara satu sama lain.


Sampai di ruangan rawat inap Al, tampak disana ada kedua orang tua Divta dan ada Chelsea juga. Lalu kalau ada Chelsea kenapa Divta meminta ku datang kesini?

__ADS_1


"Mama," panggil Al.


Semua mata melihat kearah pintu masuk tempat aku dan Pak Dante berdiri.


"Ara," ucap Divta pelan.


Chelsea menatap ku dengan marah, terlihat sekali dari wajahnya yang merah. Sementara aku tidak peduli, karena aku tidak hidup dibawah telapak kaki nya.


"Mama," panggil Al.


Anak berusia 3 tahun itu terbaring diatas ranjang dengan jarum infus yang menempel ditangan munggilnya. Al belum lancar berbicara, tetapi kalau memanggil nama mama dia terdengar lancar.


Aku berjalan masuk sambil tersenyum pada anak kecil berusia 3 tahun itu. Wajah Al sangat mirip dengan Divta, senyum nya menggembang saat aku mendekat kearah nya.


"Mama."


Mungkin dia hanya bisa menyebut nama Mama. Sementara untuk bicara yang lain, Al belum lancar.


"Hai jagoan Mama," sapa ku duduk dibibir ranjang tanpa peduli pada tatapan tajam Chelsea.


"Mama." Matanya berkaca-kaca melihat ku.


"Di mana yang sakit Son?" tanya ku lembut.


"Dicini," ucap Al menunjuk dadanya.


Beberapa waktu terakhir aku memang tidak pernah lagi bertemu Al dan El, selain sibuk mengurus Nara di rumah sakit. Ancaman Chelsea juga membuat ku tak bisa menghabiskan waktu dengan dua bocah tampan dan menggemaskan tersebut.


"Mama elus yaa," ucap ku lembut sambil mengelus dada Al.


"Al dari tadi mencari kamu, Ra," ucap Mama Divta yang sudah ku anggap sebagai Mama ku sendiri.


"Iya Ma, maaf Ara baru bisa jengguk," sahutku memaksa kan senyum.


"Bagus ya bisa mendekati dua lelaki sekaligus?" sindir Chelsea.


"Chelsea," tegur Divta.


Aku tak peduli, tangan ku masih mengelus dada Al. Seperti nya anak ini sesak nafas. Tetapi aku tak habis pikir, bagaimana anak sekecil ini bisa merasakan sesak nafas?


"Hiks hiks, Mama kenapa yanye iyu malah-malah?" tanya Al terisak takut ketika melihat Chelsea marah.


Aku terkejut ketika Al memanggil Chelsea dengan panggilan tante, padahal Chelsea Mama-nya. Harus nya aku yang dipanggil tante, karena aku bukan mama-nya.


"Div, bawa Chelsea keluar!" suruh Papa-nya Divta.


"Iya Pa," jawab Divta.

__ADS_1


Chelsea memberontak saat Divta membawa nya keluar dengan paksa. Sementara aku menghela nafas panjang.


Bersambung.....


__ADS_2