
Gevan POV.
Namun, pada hari yang tak pernah kuduga. Jam-jam yang kuanggap semua akan baik-baik saja. Kenyataan telah menghempaskan segalanya. Kenyataan hancurkan semua yang telah kubangun dengan sepenuh jiwa. Tata mengatakan padaku; izinkan aku mencintaimu, Mas. Dia ingin menjalani hidup dengan orang yang ternyata diam-diam telah memintanya menjadi bagian dari hidupnya. Ah, aku sempat berlari menjauh dari kenyataan. Menghabiskan hari-hari sedih di kota lain untuk membunuh waktu yang terasa pedih.
"Tata, Lala."
Air mata yang tak mampu ku bendung ini keluar sesuka hati dan menunjukkan bahwa aku telah kalah dalam perjuangan cinta yang kami perjuangkan dengan susah payah.
"Tata, kenapa kamu meninggalkan Mas?"
Aku duduk dengan tatapan kosong sembari bersandar di bibir ranjang dan duduk di lantai. Di tanganku terdapat botol wine yang sedari tadi aku sesap. Setelah pulang dari kantor pengadilan, aku berusaha mengejar Tata berharap cintanya akan berlabuh kembali padaku. Namun, ternyata apapun yang aku lakukan takkan membuat dia kembali ke dalam pelukku.
"Seandainya aku tidak pernah tergoda dengan Queen. Seandainya aku membuka hati untukmu, kita pasti akan bahagia," ungkapku penuh penyesalan. Aku telah kehilangan emas demi benda tak berharga.
Hidup terus berjalan beriringan dengan wajah yang sering kali menghadirkan ingatan. Banyak hal yang sudah berusaha dilupakan pun pada akhirnya bisa saja kembali datang, meningkat kembali luka-luka yang telah usang. Senyabyajg oetajh dibuang jauh seolah terlempar menjadi sangat dekat.
Aku memandangi lekat foto itu. Tanganku yang kekar merengkuh figura tersebut. Kupandangi sekali lagi foto itu dengan lekat. Kuhela napas panjang, mataku berkaca-kaca. Terlihat jelas oleh semburat lampu, titik-titik air mata bergulir dari kerling air mataku yang indah. Foto bahagia aku bersama Tata dan Lala. Aku menyesal. Aku bodoh. Aku, aku adalah orang yang tak memiliki perasaan. Aku tega meninggalkan dan menduakan istriku hanya demi Queen. Aku pikir selama ini Tata tidak pernah tahu masalah ini. Ternyata dia diam-diam mengetahui semuanya.
"Kenapa kamu tidak memberikan aku kesempatan, Ta? Apa kamu tahu bahwa aku menyesal? Apa kamu tahu aku merasa bersalah dan tidak sanggup kehilangan kamu. Aku sungguh-sungguh mencintai kamu, walau sudah terlambat. Maafkan aku, Tata. Maafkan aku. Kalimat aku tidak bisa hidup tanpa kamu itu benar adanya, mungkin aku akan tetap hidup seperti biasa. Tetapi aku tidak memiliki tujuan. Sekarang aku tidak harus apa?"
__ADS_1
Buliran bening saling bergulir betkeluaran dari dalam kelopak mataku dan membasahi pipi. Hancur, hancur berantakan. Kepingan-kepingan hati yang takkan mungkin kembali utuh seperti keadaan semula.
"Tata, kamu adalah sumber kebahagiaanku. Setelah kamu pergi, aku bahkan tak tahu bagaimana caranya untuk bahagia."
Aku mencintai Tata sepenuh hati jiwa dan raga. Namun, entah bagaimana ceritanya aku bisa tergoda dengan Queen. Padahal istriku lebih dari segalanya.
Kuletakan foto tersebut di atas dadaku sambil menangis hebat. Hidupku hanya untuk menangis dan menangis. Memaksa seseorang yang telah pergi kembali bersamaku. Memaksa cinta yang takkan pernah aku miliki berlabuh dalam semu.
"Tata... Lala.. Lala...."
Bolehkah aku merayu Tuhan agar mengembalikan istri dan anakku ke dalam pelukanku? Bolehkah aku memarahi takdir yang memisahkan aku dengan wanita yang aku cintai? Walau semua sudah terlambat.
*
*
Apakah ada yang tahu? Hal yang lebih sakit dari kehilangan seseorang? Bayangkanlah saat seseorang yang di cintai. Dia yang ada di samping. Namun, hatinya tidak pernah benar-benar bisa di miliki.
Rasa bahagia datang ketika perasaan terbalas. Cinta yang dulu dia ucapkan dibalas dengan pengucapan yang sama, dia juga mencintai. Dia sepenuh jiwa berasa di sampingku. Mewujudkan rencana-rencana baik dengannya. Tidak ada orang lain di hatinya. Tidak ada cinta yang memancar di dadanya.
__ADS_1
Aku terduduk di ranjang tempat tidur dan menguap beberapa kali seraya mengumpulkan nyawa yang terbang ke alam mimpi. Kulirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Sejenak aku terdiam. Kuhela napas panjang lalu kuhembuskan perlahan. Tanganku terulur mengusap bagian dadaku yang masih terasa perih. Kulihat lantai yang sudah bersih, entah sejak kapan para asisten rumah tangga membersihkan kamarku dari botol-botol alkohol dan bekas putung rokok.
"Tata, Lala. Mas kangen kalian."
Masih sama. Nama wanita yang telah pergi meninggalkan aku itu, masih tersemat di dalam dada. Aku pun tak paham kenapa aku tak bisa melupakan Tata begitu saja? Padahal kami sudah berpisah dan terpisah tetapi jiwa dan raga ini tak mau melepaskan bayang-bayang yang menghilang di dalam kalbu.
Terkadang memang lebih baik menjadi pengagum rahasia. Tetap menyembunyikan perasaan pada seseorang. Daripadanya, dinyatakan dan hanya mendapat luka yang mendalam. Namun, aku tak pernah menyesal mengakui semua perasaanku pada Tata Walau pada akhirnya hanya luka dan penolakan yang aku dapatkan.
Aku menyimak selimut dan turun dari ranjang. Tak hanya hati yang rapuh tetapi juga seluruh tubuh jiwa dan ragaku. Inilah mengapa aku tak mengerti, kenapa sebagian orang menyebutnya hanya sebagai patah hati? Karena ketika aku bangun ku dapati tubuhku rusak terpatah-patah.
Aku segera membersihkan diri di dalam kamar mandi. Masih saja terngiang di kepalaku, ketika setiap pagi Tata sibuk menyiapkan sarapan pagi untukku dan Lala. Kami bahagia sebagai keluarga kecil.
"Lala, Mas akan belajar melepaskanmu. Mas akan belajar mengikhlaskan kepergianmu. Walau sepenuhnya aku tak pernah benar-benar bisa. Sekali lagi, maafkan aku, Tata. Apa kamu tahu, setelah kamu tidak ada di hidupku, hari-hariku terasa berat dan menyekat di dalam sana. Maaf, Tata. Kehilanganmu seperti mimpi buruk, jika benar ini mimpi aku ingin segera bangun dan memberontak."
Tak mau lama-lama merenungi nasib di bawah guyuran shower aku segera keluar dari kamar mandi. Sebenarnya hari ini aku belum siap ke rumah sakit. Apalagi masalah perceraianku dan Tata telah tersebar di mana-mana. Semua orang beranggapan aku lelaki brengsek dan pengecut yang berani menyakiti wanita baik seperti Tata.
Bersambung...
__ADS_1