
Mira menghela nafas panjang, entah mau apa lagi mantan kekasihnya itu yang ingin bertemu dengannya.
Lalu setiba kejap wanita itu tersenyum saat mengingat pernyataan cinta Rick padanya. Dia tidak tahu kenapa lelaki itu bisa jatuh cinta pada wanita yang memiliki trauma sepertinya?
"Aish, kenapa aku bisa senyam-senyum tidak jelas seperti ini? Tidak mungkin aku menyukai brondong itu!" kilah Mira menepis semua perasaannya.
Wanita itu memarkirkan mobilnya di depan sebuah restaurant mewah. Dia turun dari mobil. Sejenak Mira mendesah pelan dia harus menguatkan hatinya agar kuat bertemu dengan mantannya tersebut. Sebab tak ada orang yang baik-baik saja ketika bertemu dengan sang orang di masa lalunya.
Dia berjalan masuk ke dalam dengan langkah lebar. Tatapannya dingin dan tak ada senyum ceria yang biasa dia perlihatkan pada orang lain. Sejujurnya Mira adalah wanita yang mati rasa, dia tidak yakin bisa jatuh cinta kembali. Apalagi luka di dadanya masih basah.
Namun, saat Rick mengatakan telah jatuh cinta padanya di pertemuan pertama mereka. Wanita itu merasa ada debaran yang menyelip masuk ke dalam dadanya. Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan, tiba-tiba datang dalam ketidakharusan.
Langkah Mira terhenti ketika melihat Lintang sudah duduk sambil menunggunya. Lelaki berkacamata tebal dengan jas putih tersebut masih berdiam nyaman di dalam hatinya. Jujur, hingga kini Mira tak bisa melupakan semua kenangannya bersama Lintang. Walau rasa sakit lebih mendominasi tetapi rindu pun memaksa untuk menatap matanya walau sejenak.
"Tang," panggil Mira.
Lintang menoleh dan sontak berdiri menyambut kedatangan wanita tersebut. Sejenak tatapan keduanya bertemu, mereka saling menatap satu sama lain. Tatapan rindu itu menusuk masing-masing jiwa mereka.
"Mira," gumam Lintang tersenyum kaku.
Mira berjalan mendekat lalu Lintang menarik kursi agar wanita itu duduk.
"Terima kasih," ucap Mira memaksakan senyum.
Lintang mengangguk dan ikut duduk. Keduanya masih saja canggung meski hubungan tersebut sudah kandas sejak sepuluh tahun lalu.
"Apa kabar?" tanya Lintang.
Mira banyak mengalami perubahan. Biasanya wanita ini cerewet dan banyak bicara dan selalu bermanja-manja dengan suara celotehannya. Namun, kenapa di pertemuan kedua mereka wanita ini malah enggan menatap dirinya?
"Seperti yang kau lihat," jawab Mira dingin. "Ada apa? Mau bahas apa? Aku tidak punya banyak waktu!" cecarnya sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Lintang memperbaiki posisi duduknya, seraya menteralisir detak jantungnya yang berdebar setiap kali melihat Mira. Perasaannya tak berubah meski sudah berlalu sangat lama. Wanita ini tetap menjadi cinta terbaik dalam hidupnya. Walau dia tahu Mira sangat membenci dirinya karena sebuah alasan yang belum bisa dia ceritakan.
"Ini tentang Elda," ucap Lintang.
__ADS_1
"Kenapa?" Mira memincingkan matanya. Sakit, kecewa semua perasaan itu bercampur aduk.
Elda adalah almarhum istri Lintang dan sahabat Mira. Dua orang yang Mira percaya dan sayangi sepenuh hati jiwa raga dan perasaannya tetapi malah tega menusukkan belati di dadanya. Mira tak bisa lupakan penghianatan tersebut. Hingga kini masih terngiang di kepalanya pesta pernikahan mewah yang harus di batalkan karena calon suami menghamili sahabat calon istri.
"Ada hal yang harus kau tahu, aku datang ke sini karena ingin menyampaikan pesan Elda," ucap Lintang lagi.
"Katakan. Aku tidak suka basa-basi!" sahut Mira melipat kedua tangannya didada. Pipinya terasa panas, rasanya dia tidak ingin mengingat penghianatan tersebut. Dia tidak lupa karena rasa sakit yang mendominasi masuk menyeruak sangat dalam.
.
.
"Wah Pak Komandan terlihat bahagia," goda para ajudannya pada Rick yang terlihat bahagia hari ini.
"Hem, tentu," jawab Rick tersenyum.
Lelaki itu merasa lega karena telah mengungkapkan perasaannya pada Mira. Walau wanita tersebut belum memberikan jawaban padanya tetapi dia yakin bisa membuat wanita tersebut jatuh cinta padanya.
"Apakah wanita yang Bapak bawa ke pesta itu?" tanya yang lain penasaran sambil tersenyum menggoda Rick.
"Dia sangat cantik, Pak," puji yang lainnya.
"Doakan saja yang terbaik," sahut Rick meluruskan.
Lelaki itu menatap ponselnya menunggu pesan dari Mira. Tadi Mira sempat pamit ingin bertemu teman dekatnya karena ada sesuatu yang ingin mereka bahas.
"Teman lama?" gumam Rick. "Apa lelaki yang waktu itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Walau Mira tak menjelaskan siapa lelaki tersebut. Tetapi Rick tahu jika pria yang mereka temui di pesta tersebut memiliki hubungan dengan Mira.
Tiba-tiba wajah lelaki itu berubah, entah kenapa dia takut jika hati Mira kembali berpaut pada orang di masa lalunya.
"Rick."
Lelaki itu mengangkat pandangannya ketika merasa namanya di panggil oleh seseorang. Wajahnya langsung berubah jadi dingin. Dia menyimpan ponselnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyanya dingin.
Wanita berpakaian tentara lengkap dengan beberapa atribut di bagian bajunya sebagai tanda pangkat dan prestasi.
"Rick."
"Pak, kalau begitu kami permisi," pamit yang lainnya.
Rick merespon dengan anggukan saja. Lalu wajahnya kembali ke mode semula.
Wanita tersebut duduk di kursi depan meja Rick. Mereka sedang makan siang bersama di kantin. Sebenarnya tadi Rick tidak mau berangkat ke kantor tetapi Mira memaksa karena dia tidak lelaki itu bolos hanya untuk menjelaskan siapa wanita yang bersamanya tadi.
"Aku mau bicara sesuatu," ucap wanita berambut pendek bak potongan polwan. Postur tubuhnya tinggi dengan pantat yang terisi penuh. Kulit putih dan senyuman manis yang terlihat memesona.
"Apa?" tanya Rick tanpa melihat wanita itu. Dia menatap kosong ke depan.
"Aku minta maaf," ucap wanita tersebut.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Rick mengalihkan pandangannya pada wanita tersebut.
"Aku tidak bermaksud mengkhianatimu aku han_"
"Aku tidak ingin bahas dan aku sudah melupakan hal tersebut. Aku sudah menemukan wanita yang aku cintai. Jadi, kau tak perlu bersusah payah untuk menjelaskan sesuatu yang tidak ingin aku dengar lagi," potong Rick dengan penjelasan panjang lebar.
Wanita itu menatap Rick dengan sendu. Dia tidak percaya jika lelaki yang dulu mencintainya serta memperlakukan dia seperti ratu. Kini tampak dingin dan enggan melihat dirinya.
"Rick, aku_"
"Sri, kita sudah lama berlalu dan aku harap kau tidak mengangguku lagi. Bulankah kau yang mengakhiri hubungan kita. Bahagialah bersama lelaki itu," ucap Rick lagi.
Banyak hubungan yang berakhir karena orang perselingkuhan dan orang ketiga. Tetapi banyak juga yang tidak mau menyadari kesalahan mereka. Saling menyalahkan tanpa berniat untuk memperbaiki hubungan tersebut agar hubungan tetap baik-baik saja.
Rick adalah salah satu lelaki yang menyaksikan perselingkuhan mantan kekasihnya. Lama sekali lelaki itu menyembuhkan luka yang membuatnya mati rasanya. Bergonta-ganti pasangan dan memacari banyak wanita dengan alasan balas dendam pada perempuan atas pengkhianatan yang dia rasakan.
Bersambung....
__ADS_1