Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Di lamar


__ADS_3

SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........


CEKIDOT......


👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇


"Mas kita mau kemana?" tanya ku heran ketika mobil Mas Dante berhenti didepan sebuah butik yang sekaligus ada salonnya.


"Turun saja, Sayang. Nanti kamu juga tahu," jawab Mas Dante sambil mengulurkan tangannya.


Aku mengangguk lalu menyambut uluran tangan Mas Dante. Jujur saja aku belum pernah datang ke salon langganan para istri pejabat ini. Untuk bisa menjadi salah satu pengunjung salon serta butik ini harus menjadi member dulu. Kalau tidak, hanya sepotong baju saja bisa puluhan juta.


"Ayo, Sayang. Peluk tangan Mas," ucap Mas Galvin menyedorkan lengannya agar ku peluk.


"Mas, sebenarnya mau apa sih kesini? Katanya mau mengajak anak-anak makan malam," ujar ku setengah bersunggut.


"Mau makan," jawab Mas Dante asal.


"Kok makan disini, Mas?" tanya ku polos. Entah kenapa kalau dekat-dekat Mas Dante otakku suka lemot seperti remote.


"Ikut saja Sayang. Jangan banyak bertanya. Nanti juga kamu tahu." Mas Dante mencubit hidung ku dengan remes.


"Mas." Aku meringgis.


Mas Dante terkekeh pelan sambil mengusap hidungku. Kadang segala rasa sakit didalam dadaku seolah terobati jika bersama Mas Dante, rasa ketakutan yang kian menjelma menjadi rasa sakit lalu berubah tenang dan nyaman.


Kami masuk ke dalam butik mewah dan mahal ini. Dalam hidupku tak pernah terpikir bisa mengunjungi butik yang hanya bisa kulihat lewat media sosial tersebut.


"Selamat sore Pak Dante, ada yang bisa kami bantu?" sapa salah satu wanita yang ku tahu pemilik butik ini. Butik ini sangat terkenal di kota Pontianak, tak hanya pakaian berkualitas tetapi juga cara pelayanan para pekerjanya yang membuat para customer merasa nyaman.


"Tolong dandani, calon istri saya dengan cantik. Untuk baju, biar saya yang pilih," ucap Pak Dante.


"Mas......."


"Ayo, Sayang." Mas Dante melepaskan pelukan tangan ku lalu meminta ku mengikuti pemilik butik ini.

__ADS_1


"Mari, Bu," ucap sang pemilik butik padaku.


Aku tidak tahu akan dibentuk seperti apa wajahku. Seumur-umur aku tidak pernah didandani seperti ini. Walau ke salon pernah beberapa kali kalau Mas Galvin sudah gajian. Itu juga kalau dia memberikan uang lebih, sisa kebutuhan keluarga dan belanja anak-anak.


"Bu, mirip sekali dengan almarhum istri Pak Dante," ucap Mbak Hilda yang ku tahu pemilik butik ini.


"Begitu yaa," sahutku.


"Iya Bu, Pak Dante sering mengajak Bu Killa kesini setiap akhir pekan," jelas nya.


Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak cemburu sama sekali karena memang sebelum aku masuk kedalam kehidupan Mas Dante, Kak Killa adalah orang pertama yang menjadi istrinya.


"Kenapa kalian bisa mirip, Bu. Apakah Ibu adiknya almarhum istri Pak Dante?" tanya Mbak Hilda lagi penasaran.


Kami bukan hanya saudara tetapi kami kembar yang terpisah dan sayangnya ketika hal tersebut disadari setelah Kak Killa pergi untuk selamanya.


"Kami kembar, Mbak," jawabku.


Mbak Hilda tampan terkejut, pasti dia tak menyangka. Sama aku juga masih tak menyangka jika aku kembar. Tetapi kenyataannya memang begini bukan?


"Kalian kembar?" ulang Mbak Hilda sekali lagi.


.


.


"Sayang, kamu cantik sekali," puji Mas Dante melihatku dengan kekaguman.


Seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta, pipi ku bersemu merah dan merona. Hanya pujian kecil itu saja berhasil membuat ku salah tingkah.


Mas Dante tersenyum simpul, tangannya mengambil kedua tangan ku lalu mengecup punggung nya dengan sayang. Hatiku hangat ketika bibir itu menyentuh kulitku. Entahlah, sampai saat ini aku masih tak percaya jika aku kembali jatuh cinta. Bahkan dalam hidupku tak pernah terbayangkan, akan jatuh cinta pada boss sendiri.


Jujur saja awalnya Divta adalah pria yang dekat dengan ku, mustahil jika tak ada rasa antara aku dan dia. Kata orang-orang tidak sds persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan dan pasti salah satu nya menyimpan rasa. Namun, aku segera menepis semua perasaan yang tak seharusnya ada. Aku takut malah tenggelam dalam perasaan ku sendiri dan tak bisa mencintai lelaki tersebut dengan baik.


Namun, hatiku yang sekian lama tertutup karena kegagalan ku dalam berumahtangga tergoyahkan sejak kehadiran Mas Dante. Aku tidak tahu kapan aku jatuh cinta pada calon suamiku tersebut, tetapi didekat nya aku merasa jadi diri sendiri.

__ADS_1


"Ayo Sayang," ajak Mas Dante melingkarkan tangan ku dilengan kekarnya.


"Mas sebenarnya ada apa sih? Kenapa aku didandani seperti ini? Anak-anak di mana?" tanya ku heran dan terus bertanya-tanya.


"Sayang ikut saja yaa, simpan pertanyaan mu," sahut Mas Dante.


Aku mengangguk dan mengikuti langkah Mas Dante walau dalam hati aku masih bertanya-tanya.


Kami berjalan masuk, aku tahu restaurant ini selalu ramai setiap malam Minggu. Namun, kenapa malam ini seperti sepi pengunjung, bahkan tak ada satu orang pun yang kulihat disana.


"Mas, kenapa tidak ada orang? Restaurant ini tidak tutup 'kan?" tanya ku lagi.


Mas Dante tak menjawab dia terus mengiring ku masuk kedalam.


Mataku membulat sempurna ketika melihat dekorasi disalah satu ruangan VVIP yang penuh dengan bunga. Ditengah-tengah nya ada sebuah meja dengan lilin kecil diatas nya dan dua kursi disamping. Sepanjang jalan dipenuhi dengan kelopak bunga berwarna merah tua.


"Mas."


Entah kapan Mas Dante berlutut didepan ku sambil menyedorkan sebuah kotak beludru berwarna merah menyala. Aku menutup mulut tak percaya.


"Mas memang bukan pria romantis. Mas juga tidak bisa merangkai kata-kata manis. Tetapi Mas malam ini ingin memintamu sepenuh hati. Bahwa Mas ingin hidup bersama mu hingga nanti. Mas ingin menghabiskan sisa usia dan waktu di keabadian. Apakah kamu mau menikah dengan Mas?"


Aku tak dapat berkata apa-apa, lidahku terasa kelu. Baru saja aku meragukan lelaki ini karena ucapan Chelsea tadi. Tetapi dia sudah membuktikan padaku bahwa cinta yang dia beri adalah ketulusan. Baru saja tadi aku ingin mengatakan tidak mau melanjutkan hubungan kami karena aku takut kejadian kedua kali akan aku alami lagi.


"Terima... Terima... Terima."


Aku terkejut ketika mendengar suara tepuk tangan. Aku menoleh kearah kanan, tampak ayah dan ibu, ada Henny dan Mira, Papa dan Mama, Mas Bayu dan Kak Dea serta Divta dan si kembar.


"Mama terima," teriak Nara.


"Iya Mommy, telima. Supaya Mommy bisa bobo baleng Tata lagi!" seru Tata.


Sementara Naro tersenyum dari jauh. Dia tak mengatakan apapun selain anggukan kepala agar aku menerima lamaran Mas Dante.


Aku menghela nafas panjang, lalu tersenyum kearah nya. Apakah menolak atau menerima?

__ADS_1


"Bagaimana Sayang apa kamu mau hidup bersama dengan Mas hingga akhir usia?"


Bersambung...


__ADS_2