
Kenyataannya, dia tudis lagi bersedia berada di sampingku. Bahkan untuk sekedar duduk berdua seraya mengobrol hangat seperti dulu. Sementara dulu dia adalah orang yang sering ngambek jika aku sibuk dengan pekerjaan di butik lalu lupa mengabarinya dalam seharian.
"Mas sudah pulang?" Aku menyambut kedatangan suamiku.
"Iya, Sayang."
Rasanya aku ingin muntah mendengar kata sayang yang terlontar dari mulut Mas Gevan. Kalau dia memang sayang mungkin aku bahagia. Tetapi ini malah mendua dan mengkhianati cinta yang kami sepakati.
"Sini tas sama jas nya, Mas. Mas mandi dan makan terus setelah itu kita ke rumah Daddy sama Mama," ucapku.
"Lho mau apa?" tanya Mas Gevan.
"Aku tidak tahu, Mas. Mungkin mau bahas sesuatu penting kali," jawabku asal.
Mas Gevan tampak menghela napasnya panjang. Diam-diam dia curi pandang ke arah Mbak Queen yang sudah makan di meja makan bersama Lala. Huh, bukannya cemburu aku malah jijik. Semua perasaanku pada Mas Gevan seketika memudar bersama pengkhianatannya kemarin.
"Iya sudah, kamu makan saja dulu. Mas mau mandi." Saat dia mengecup keningku bukannya bahagia aku malah merasa jijik. Ternyata bukan hanya aku wanita yang dia sentuh tetapi salah satunya.
"Gevan tidak ikut makan?"
"Dia lagi mandi, Mbak. Nanti dia menyusul," jawabku.
"Oh begitu," sahut Mbak Queen.
Kami bertiga makan sampai menunggu Mas Gevan datang. Tadi siang aku sudah puas menangis. Jadi sekarang, aku tidak akan menangis lagi hanya karena pengkhianatan dua orang yang tak memiliki urat malu tersebut.
Dia pernah menjadi tempatku bersandar kemudian tiba-tiba membuatku menghindar. Dia menjadi seseorang yang mengingkari janjinya sendiri. Dengan mendadak dia tepikan semua yang terlihat baik-baik saja. Dia memilih berlalu bersama pilihan yang tidak pernah kuduga. Bagaimana bisa ada seseorang yang kusebut sebagai cinta, sementara pada waktu yang sama kisah kami belum selesai dengan asmara. Dia menjadi liar dan mulai mencemaskan. Lalu memaksa sebelah pihak melepaskan.
"Malam semua," sapa Mas Gevan.
"Mal_"
"Malam, Van," sapa Mbak Queen lebih dulu.
Aku langsung terdiam. Diriku yang tadinya ingin menyapa suamiku seketika bungkam karena pelakor ini ternyata lebih dulu menyapa pria tersebut.
"Makan, Mas."
__ADS_1
Kami semua makan dalam diam. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku dengan santai menyuapi Lala tanpa peduli dengan kedua manusia tersebut. Bukan aku tak mengawasi jika mereka saling curi-curi pandang tetapi aku sama sekali tidak mau tahu pada mereka berdua.
"Oh ya, Mas. Tadi 'kan Mbak Queen tanya aku takut tidak kalau suamiku di goda wanita lain?" ucapku memulai pembicaraan.
Sontak saja mereka bertiga menoleh kearahku. Wajah Mas Gevan seketika dingin, padahal dari tadi aku melihat dia senyam-senyum pada istri sirinya.
"Lalu kamu jawab apa?"
"Tadi aku jawab apa ya, Mbak? Aku mendadak lupa!" Aku cenggesan sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal sama sekali.
"Hem, tadi Tata bilang itu namanya bukan kelebihan tapi kegatalan."
Uhuk uhuk uhuk.
Sontak saja Mas Gevan terbatuk mendengar jawaban Mbak Queen. Rasanya aku ingin tertawa sepuas-puasnya karena melihat raut wajah Mas Gevan yang salah tingkah seperti ini.
"Minum, Saya_"
Mbak Queen hampir kecoblosan memanggil Mas Gevan dengan panggilan sayang. Mereka berdua tampak gugup satu sama lain.
Mas Gevan mengambil gelas dari tangan Mbak Queen. Padahal mereka sudah saling main mata satu sama lain. Dasar manusia biadab, tidak tahu diri.
"Tante Queen kok perhatian banget sama Papa?"
*
*
Sekian kali ku yakinkan diri. Mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi. Bercermin untuk mengetahui salah sendiri. Namun, tak ada yang mampu kucerna. Kami sebelumnya baik-baik saja. Lalu bagian mana yang membuatnya semudah itu melepaskan tiba-tiba.
"Kamu sibuk banget sama hp?" Mas Gevan melirikku.
Kami sedang menuju rumah Daddy dan Mama. Sementara Lala tidak ikut karena besok dia ada ujian jadi harus fokus belajar bersama guru pembimbingnya.
"Kenapa, Mas?" Aku melihat kearah suamiku.
Aku memang sengaja untuk tidak peduli pada apa yang dia lakukan lagi. Aku akan mencoba cuek dan dingin. Toh, tatapan matanya bukan lagi sesuatu yang membuat dadaku berdebar setelah apa yang dia lakukan di belakang aku dan Lala.
__ADS_1
Waktu akan mengetuk dadanya, hingga tak ada satu hal pun yang telah menjadi bahagia yang bersedia mengetuk dadanya. Tanpa aku, dia hanyalah kumpulan rasa sepi yang enggan mati, tetapi tak mampu bunuh diri.
"Kamu berubah, Ta? Biasanya juga tidak main hp saat sama Mas," ucapnya.
Baru hal ini yang berubah dia sudah merasa kehilangan sosokku. Laki-laki ini memang tidak tahu berterima kasih. Harusnya seribu kali dia beruntung memiliki istri yang menyayangi dan melayani dia dengan baik.
"Tidak ada yang berubah perasaan Mas saja kali," kilahku santai sambil melipat kedua tangan di dada.
"Mas, ada yang mau aku bicarakan?"
"Apa?" Keningnya mengerut heran.
"Kamu masih cinta sama aku?" tanyaku serius.
"Pertanyaan kamu lucu!" Dia terkekeh seolah ucapanku adalah lelucon yang dia anggap bercanda.
"Lucu?" Kali ini aku tergelak.
"Iya lucu. Kamu tahu 'kan kalau Mas cinta sama kamu? Kenapa malah bertanya?" Dia geleng-geleng kepala.
"Masa sih Mas masih cinta sama aku? Ya siapa tahu saja rasa cinta itu memudar seiring berjalannya waktu. Apalagi usia pernikahan yang sudah lama," ujarku.
"Kamu ini ada-ada saja. Berpikiran aneh!"
Tuhan aku tak bisa jelaskan betapa aku mencintai lelaki ini. Tetapi kenapa dia tega mengkhianati cinta yang ku jaga dengan susah payah. Seketika perasaan ini memudar saat aku tahu dia memiliki hubungan dengan Mbak Queen.
"Mas, kalau suatu kamu bosan sama aku. Kamu bilang ya, tapi jangan selingkuh. Aku bisa pergi sendiri tanpa kamu membawa orang asing di rumah tangga kita. Kamu sendiri tahu 'kan bagaimana sulitnya membangun kepercayaan? Jadi, aku harap kamu jujur sama apa yang kamu rasakan sama aku," ucapku panjang lebar.
"Sayang, Mas itu tidak pernah bosan sama kamu. Jadi, jangan ngomong begitu ya. Mas sayang sama kamu. Mas ingin kita bersama selamanya."
Andai yang dia ucapkan adalah kebenaran mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia. Tetapi nyatanya tidak begitu. Dia bahkan menanam benih di rahim wanita lain. Lalu apa yang bisa aku lakukan? Bahkan marah pun sepertinya sudah tidak ada gunanya.
Dia mengusap pelanku dengan sayang. Usia kami memang terpaut jauh dan pria ini lebih cocok jadi ayahku dari pada suami. Dulu aku kira dia dewasa tetapi nyatanya dia malah terjebak dalam rasa.
"Semoga saja, Mas. Tapi jika ada hal lain yang terjadi. Jangan salahkan takdir tetapi kita manusia yang tidak tahu bersyukurlah."
Bersambung...
__ADS_1