
Divta mengenggam erat tangan Mentari, sedangkan gadis tersebut hanya menunduk dengan keringat dingin yang membasahi dahinya.
"Apa maksud kamu, Divta?!" hardik Melly menatap putranya tajam.
"Ma, bicara pelan-pelan," tegur Ferdy pada istrinya tersebut. Dia geleng-geleng kepala saja.
Ada Susanti juga di sana yang menunduk. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu karena tak bisa mengajari anak gadisnya. Padanya dia sudah melarang Mentari berhubungan dengan Divta tetapi anaknya itu sama sekali tidak mendengar ucapannya. Namun, lagi Susanti tak bisa sepenuhnya menyalahkan Mentari. Sebagai seorang wanita tentu dia paham perasaan anaknya tersebut. Cinta memang tidak selalu memihak pada keadaan.
"Kalau bicara pelan-pelan dia tidak dengar, Pa," sahut Melly kesal. Dia menatap benci pada Mentari. "Tari, apa kamu sadar kamu itu siapa? Kamu itu hanya gadis miskin yang tidak pantas bersanding dengan anak saya. Harusnya kamu berkaca dulu bah_"
"Ma, cukup!" potong Divta setengah berteriak.
Melly dan Ferdy terkejut ketika mendengar teriakan Divta yang menggema dan memekik telinga. Selama ini anak lelakinya itu tidak pernah berkata kasar pada kedua orang tuanya.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Divta!" sentak Mentari.
Ferdy menarik nafasnya dalam. Dia tidak mempermasalahkan hubungan Divta dan Mentari dan malah dia memberi restu tetapi istrinya tersebut yang tidak mau anak lelakinya memiliki hubungan dengan wanita miskin seperti Mentari.
"Ma, aku mohon jangan hina Mentari. Aku mencintainya dan kami saling mencintai. Aku tidak mempermasalahkan status kami yang berbeda. Untuk apa status jika tidak saling mencintai," sahut Divta membela.
Air mata Mentari dan Susanti luruh ketika mendengar penghinaan Melly. Kedua wanita berbeda usia itu memang sadar diri yang terlahir sebagai orang miskin. Tetapi apakah keduanya bisa menyalahkan cinta dan perasaan.
"Pikirkan nama baik keluarga kita, Divta." Nafas Melly naik turun menahan emosi.
"Aku tidak peduli, Ma," sahut Divta santai. Lelaki itu semakin erat menggenggam tangan kekasih kecilnya untuk menyalurkan kekuatan lewat sentuhan tangannya.
"Oh itu yang kamu mau. Sekarang kamu pilih Mana atau gadis miskin ini."
Deg
__ADS_1
"Ma," tegur Ferdy.
Divta menggeleng tak percaya mendengar ucapan sang ibu. Dia memang menyanyangi ibunya sangat malah. Wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya serta merawatnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang hingga dia tumbuh menjadi pria dewasa. Tetapi jika harus memilih antara Mentari dan ibunya, tentu dia akan pilih gadis tersebut. Perasaannya pada Mentari memang tidak main-main.
"Kamu mau pilih dia. Kamu keluar dari rumah ini. Tinggalkan Al dan El. Tinggalkan Papa dan Mama," ancam Melly.
"Al mau nya sama, Mama," sahut Al memeluk Mentari.
"El juga," sambung El memeluk Mentari yang berdiri sambil menunduk.
"Al, El. Apa sih yang kalian harapkan dari gadis kampung ter_"
"Cukup, Bu!" hardik Susanti.
Semua menatap kearah Susanti. Wanita paruh baya yang sejak tadi terdiam ketika anaknya di hina kini angkat bicara. Hatinya ikut panas saat putrinya di pojokan seperti itu.
"Hoh, memangnya salahnya di mana? Apa yang saya katakan salah? Bukankah kalian memang wanita miskin yang bermimpi bersanding dengan pria kaya seperti anak saya?"
"Ma," tegur Ferdy dan Divta bersamaan.
"Baiklah." Susanti menarik nafasnya dalam. "Tari, ayo kita keluar dari rumah ini. Lupakan cinta kamu, suatu saat kamu akan menemukan lelaki yang bisa mencintai kamu apa adanya dan keluarganya juga mencintai kamu," ucap Susanti lembut pada anaknya.
"Tidak, Bik," tolak Divta
"Mama, tidak boleh pelgi," ucap Al dan El bersamaan.
"Iya, Bik. Saya tidak mau kehilangan Mentari," sambung Divta.
Melly mengepalkan tangannya dengan kuat. Baru kali ini dia melihat sosok Divta yang tak dia kenal kenal selama ini, padahal anak lelakinya ini paling menurut dan selalu mendengarkan perkataannya.
__ADS_1
"Divta, sekarang kamu pilih dia atau Mama. Kalau kamu pilih dia berarti kamu bukan anak Mama lagi dan silakan keluar dari rumah ini tetapi jangan membawa Al dan El," usir Melly sambil menunjuk kearah pintu.
"Ma, jangan keterlaluan," tegur Ferdy lagi mendesah pelan. "Biarkan mereka bersatu, Ma," ucap Ferdy. Dia heran istrinya ini meminta anaknya segera menikah tetapi ketika Divta sudah menemukan wanita yang dia mau malah tidak di restui.
"Tidak. Mama tidak akan pernah merestui hubungan mereka sampai kapanpun. Mama tidak akan sudi memiliki menantu miskin seperti dia," jawab Melly dengan emosi yang menggebu di dalam dadanya. Dia benar-benar tak ikhlas dan tak bisa membiarkan anaknya menikah dengan gadis miskin seperti Mentari.
"Sekarang kamu pilih siapa, Divta?" Melly tersenyum mengejek. Dia sangat yakin jika Divta akan memilihnya sebab anak lelakinya itu sangat menyanyangi dirinya.
"Aku pilih Mentari, Ma. Dan aku memilih keluar dari rumah ini walau tanpa Al dan El," ucap Divta yakin dengan keputusannya. Sebab dia benar-benar tak bisa jauh dari Mentari, walau harus berpisah dengan anaknya.
Lagi-lagi Ferdy dan Melly tak percaya dengan ucapan Divta dan begitu juga dengan Mentari dan Susanti.
Mentari bahkan melihat lelaki itu dengan dalam. Dia tak menyangka jika Divta akan memilihnya dan rela meninggalkan keluarga yang begitu dia sayangi.
"Mama tidak menyangka, Divta. Kamu benar-benar jahat. Kamu tega meninggalkan orang tua dan anak kamu demi gadis yang tidak pantas bersanding dengan kamu," ucap Melly kecewa. Tanpa sadar air mata wanita paruh baya itu menetes dengan deras di pipinya.
"Aku mencintai Mentari, aku tidak bisa kehilangannya. Aku rela melakukan apa saja demi dia." Sebelumnya tak pernah Divta merasakan perasaan sedalam ini pada seseorang. Tetapi gadis yang dia genggam tangannya ini mampu memporak-porandakan hati dan jiwanya.
"Mas," panggil Mentari menggeleng.
"Mas tidak akan menyerah, Sayang. Mas sangat mencintai kamu. Jangan pergi," mohon Divta.
Susanti ikut terharu. Dia terbawa perasaan ketika melihat kesungguhan Divta dalam memperjuangkan anaknya. Sebagai seorang wanita tentu dia bersyukur memiliki calon menantu yang begitu mencintai putri semata wayangnya.
Mentari menyatukan tangan mereka, "Mas, Tari juga sangat banget sama, Mas. Tapi Tari tidak mau gara-gara Tari, Mas harus kehilangan Ibu. Ibu adalah seorang wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan, Mas," ucap Mentari tersimpan dengan air mata yang mengalir di pipinya. Sedangkan Al dan El memeluk gadis itu dengan erat sambil menangis karena tidak mau berpisah dengan Mentari.
"Pilihlah Ibu, Mas. Tari tidak mau kita menikah tanpa restu. Tari tidak mau Ibu kehilangan, Mas. Mungkin kita memang tidak berjodoh, Tari yakin suatu saat Mas akan menemukan kebahagiaan Mas sendiri."
Bersambung......
__ADS_1