
"Kamu lapar?" tanyaku.
Gadis itu mengangguk sambil memegang perutnya.
"Tunggu, sebentar. Sekalian makan siang," ucapku.
Aku menyelesaikan pekerjaanku yang masih menumpuk dengan secepat kilat. Entah kenapa aku kasihan melihat gadis ini lapar?
"Om, istri Om ke mana?" tanyanya kepo.
Aku melihat gadis ini aneh, kenapa dia ingin tahu sekali di mana istriku? Apa dia juga tahu kalau aku sudah menikah?
"Dari mana kamu tahu kalau saya sudah menikah?" tanyaku penuh selidik.
"Noh, cincin di jari, Om," tunjuknya.
Aku melihat jariku. Entah kapan ku pasang kembali cincin ini? Padahal sejak kedatangan Mona aku sengaja melepaskan cincin tersebut, agar Mona tidak curiga jika aku sudah menikah.
"Hem." Aku menjawab dengan deheman.
Setelah pekerjaan selesai. Aku mengajak gadis ini makan siang. Kasihan juga dia kelaparan.
"Om, perasaan dari tadi wajah Om kusut terus. Lagi berantem ya sama istrinya?" tebak gadis tersebut.
Aku menghembuskan nafas kasar, "Bisakah kamu diam dan tidak kepo sama urusan saya?" gerutuku menatap gadis ini tajam.
"Ya-ellah, sensi amat sih, Om. Kayak cewek PMS saja," sindir gadis itu. "Eh Om, kita belum kenalan. Perkenalkan namaku Vennisa Anggraini, panggil saja Ve," ucapnya menggulurkan tangan kearahku.
"Hem." Aku tak menyambut uluran tangannya dan malah fokus menyetir.
"Aish, lama. Nama Om siapa?"
"Kamu...."
"Dokter Bintang ya?" tebaknya melihat nametag di saku baju putih yang ku pakai.
__ADS_1
"Kamu ya. Sembarangan," protesku menarik tangannya.
"Dasar pelit," sindirnya.
Aku tak menanggapi. Entah kesialan apa yang membuatku bertemu dengan gadis aneh ini? Padahal aku sedang ingin sendiri dan tidak mau di ganggu. Bahkan Betrand mengajakku makan siang bersama saja aku tolak, karena aku belum siap bertemu dengan sekumpulan orang.
Mobilku terparkir di restaurant tempat langgananku bersama Mona. Sebenarnya aku ingin makan siang di cafe Nara. Tetapi aku takut di usir walau aku tahu Nara tak mungkin melakukan hal tersebut.
"Kita mau makan di sini, Om?" tanya Ve, seperti orang yang tak pernah makan di tempat mewah seperti ini.
"Hem." Aku berdehem lalu berjalan masuk duluan.
"Om, tunggu!"
Ve berjalan menyusulku dengan setengah berlari, padahal kakinya masih sakit.
Seketika langkahku kakiku terhenti ketika melihat Nara, Rimba dan juga ada Naro di sana. Mereka terlihat bahagia sekali dengan Nara yang tertawa lebar seperti itu.
"Om, kenapa?" tanya Ve yang juga berhenti dan melihat kearah mereka.
Aku tak menjawab. Apa yang kami jalani hari ini tak pernah terencanakan. Tiba-tiba saja waktu mempertemukan kami kembali. Nara dan aku sepakat untuk menjalani hidup masing-masing. Tetapi hari ini kami di pertemukan kembali ketika sudah menemukan jalan hidup.
Seketika tatapanku dan Nara saling bertemu satu sama lain. Tuhan, aku sangat merindukan wanita itu. Bolehkah aku memeluknya dan mengatakan jika aku rindu dia.
"Nara," lirihku.
Wanita itu menyapa dengan anggukan dan senyumannya dari jauh. Penyesalan terbesar dalam hidupku adalah ketika tak mampu menahan kepergian Nara. Dia pergi karena aku. Dia bilang karena aku. Aku penyebab dia menderita.
Aku melanjutkan langkah kakiku menuju meja yang tidak jauh dari Nara. Sebenarnya aku ingin sekali berlari memeluk raganya. Tetapi aku sadar diri bahwa dia tidak akan pernah mau kusentuh lagi.
"Om, kenapa sih?" tanya Ve sambil melambaikan tangannya kearah mataku seolah menyadarkan aku dari lamunan yang membicarakan tentang Nara.
"Tidak apa-apa," kilahku. "Kamu mau pesan apa?" tanyaku membuka buku menu makanan.
"Apa saja, Om. Ve tidak tahu makanan di sini," jawab gadis itu jujur.
__ADS_1
Aku mengangguk dan memesan makanan untuk kami berdua. Sesekali aku curi-curi pandang kearah Nara. Sejak berpisah denganku dia terlihat baik-baik saja. Padahal dia mengatakan mencintaiku dan meminta aku juga mencintainya. Tetapi di saat aku mulai membuka hati dan mencintai dia. Dia malah pergi meninggalkan aku.
Beberapa kali aku memang harus belajar keras untuk memahami. Bahwa duniaku hanya sepintas kesepian. Aku juga tak begitu paham bagaimana nantinya jalan cerita hidup ini. Aku dan Nara berdebat hal-hal yang sebenarnya tak perlu untuk di perdebatkan. Tetapi yang aku darinya, dia mau belajar tenang. Meski kamu belum menemukan pemahaman yang sama. Dia mau belajar menerima aku dan duniaku. Walau akulah yang akhirnya menciptakan gelap di dalam dunianya tersebut. Hal-hal yang tak pernah kulalui sebelumnya. Meskin pada akhirnya, aku menyadari hal penting untuk kami. Waktu telah menyatukan hati kami. Hal yang harus aku dan Nara jalani bukan tentang memahami dunia kami saja. Namun, harus mengupayakan dunia baru, dunia masing-masing yang akan kami jalani.
"Om, kenapa melamun sih? Om kenal sama wanita itu?" tanya Ve melirik kearah Nara.
"Kenapa?" Aku memincingkan mata curiga pada Ve.
Gadis itu menghembuskan nafasnya panjang.
"Dia kakak tiri Ve, Om," jawab Ve.
"Apa? Maksud kamu?" tanyaku tak mengerti.
"Kak Nara, anak dari istri pertamanya Papa. Sedangkan mamaku istri kedua Papa. Papa sudah meninggal. Sementara mama masih di penjara," jelas Ve.
Aku tercengang mendengar penjelasan gadis ini. Aku tidak tahu masa lalu Nara. Yang aku tahu bahwa Mama Ara memang menikah dua kali. Sedangkan Nara dan Naro satu ayah. Sementara Tata anak dari istri pertama Daddy Dante dan Shaka anak dari Mama Ara dan Daddy Dante. Tetapi sebelumnya aku tidak pernah tahu masalah anak dari papa-nya Nara karena dia pun tak pernah menceritakan hal tersebut.
"Apa Nara tahu keberadaan kamu?" tanyaku.
Ve menggeleng, "Tidak, Om. Tante Gisel melarang Ve memberitahu semuanya. Kata Tante Gisel jangan menganggu kehidupan Kak Nara dan ibunya lagi," jelas Ve.
Aku sebenarnya tak mengerti dengan penjelasan dari Ve. Tetapi aku sedikit paham jika Ve adalah anak dari simpanan papa-nya Nara. Benar-benar rumit sekali sistem keluarga mantan istriku itu.
"Memangnya kamu berniat menganggu Nara?" tanyaku menatap Ve curiga. Walau Nara bukan istriku lagi tentu aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Ck, jangan sembarangan, Om. Ve sama sekali tidak berniat menganggu Kak Nara dan Kak Naro. Apalagi saat ini Ve..." Gadis itu menghela nafas panjang.
"Saat ini apa?" tanyaku tak sabar menanti sambungan dari ucapan Ve.
"Hukum karma itu berlaku, Om. Ve tidak mau seperti Mama dan Tante Gisel. Merebut suami orang lalu berakhir hidup menderita," sambung gadis itu.
Aku tak mengerti apapun yang dia ucapkan. Siapa Gisel? Siapa Mama-nya? Aku tidak menyelidiki seperti apa masa lalu Nara.
Ve melihat kearah Nara juga. Tatapan gadis itu tampak sendu. Apa sesungguhnya dia ingin sebenarnya bertegur sapa dengan Nara tetapi merasa malu dengan perbuatan masa lalu ibunya.
__ADS_1
"Dia mantan istri saya," ucapku.
Bersambung...