
"Apa yang kamu lakukan di sini, Van?!" hardik Mbak Queen di dalam ruangan Lala.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Mas Gevan dengan wajah marahnya.
Mbak Queen menatapku penuh kebencian. Sementara aku memeluk Lala sambil menutup telinganya. Aku tak ingin Lala mendengar ucapan-ucapan kasar dari orang lain. Mentalnya masih tidak kuat untuk menahan tekanan.
"Kamu pasti digoda oleh janda ini, 'kan?" tudingnya.
Mbak Queen berjalan ke arahku dengan wajah merah padam dan penuh amarah.
"Queen, keluar!" Mas Gevan mencengkram tangan istrinya.
"Tidak. Aku tidak mau keluar, aku ingin memberi pelajaran pada wanita tidak tahu diri ini!" sentak Mbak Queen memberontak saat Mas Gevan menariknya keluar dari ruangan rawat Lala.
"Mama." Lala menangis ketakutan.
Aku hanya memeluk Lala seraya mengusap punggungnya dan mencoba menenangkan putri kecilku.
"Semua akan baik-baik saja, Sayang. Jangan menangis," ucapku lagi.
Aku menatap sedih bubur di dalam mangkuk dan boneka panda yang Lala peluk. Hatiku tergores sakit, baru saja Lala ingin merasakan kebahagiaan orang tua lengkap. Dia harus menerima kenyataan pahit. Tanpa sadar aku yang dari tadi berusaha kuat untuk tidak menangis, akhirnya air mataku lolos.
"Lala mau makan, Nak?" tanyaku menyeka air mata dengan kasar.
"Mama, Lala ingin makan sama papa," renggek Lala.
Akh menggeleng. "Sayang, mulai sekarang Lala harus terbiasa tanpa papa. Kita tidak bisa selamanya sama papa, Nak. Kan Mama sudah pernah cerita sama Lala, mulai sekarang kita harus jalani hidup walau hanya berdua," jelasku sabar.
"Lalu papa ke mana, Ma?" tanya Lala dengan air mata yang masih berderai dari kelopak matanya.
"Papa tidak bisa bersama kita lagi," jawabku.
Apa yang aku dan Mas Gevan jalani hari ini tak pernah kami rencanakan sebelumnya. Tiba-tiba saja waktu mempertemukan kami kembali setelah berpisah beberapa hari. Kami sepakat untuk berpisah secara baik-baik, walau pada akhirnya hanya mendapatkan luka karena masih ada cinta di hati. Belajar menumbuhkan perasaan untuk orang yang baru. Kami belajar satu sama lain. Aku berusaha memahami melupakan cinta yang pernah menggebu di dalam dada. Berusaha mengesampingkan masa lalu. Berusaha memupuk perasaan-perasaan baru agar tumbuh memekar dengan indah. Tetapi pada kenyataannya melupakan tak segampang itu.
__ADS_1
Aku pikir pertemuan kembali ini bisa sedikit memberikan kebahagiaan pada Lala. Namun, nyatanya hal itu justru membuat anakku seperti kehilangan jati dirinya.
"Ayo, Lala makan dulu!" ucapku mengambil mangkuk yang berisi bubur ayam kesukaan Lala.
Kata orang-orang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, tetapi tidak semua. Karena tidak semua seberuntung itu. Lala adalah salah satunya, dia harus kehilangan sosok papa-nya sejak usia belia. Keegoisan dan nafsu Mas Gevan telah membawa anak kami dalam penderitaan. Andai, andai saja waktu bisa diulang kembali aku tak ingin bertemu Mas Gevan dan aku tak ingin menikah dengannya, tetapi kalau aku tidak bertemu mantan suamiku Lala tidak akan bisa lahir di dunia ini.
"Lala."
Aku dan Lala tersenyum ke arah pintu masuk saat melihat siapa yang datang.
"Om Rey!" seru Lala dengan wajah sumringahnya.
Seperti biasa setiap kali datang Mas Rey selalu membawa buah tangan untuk Lala. Dia menganggap Lala sebagai putrinya sendiri. Selama ini dia juga banyak menemaniku.
"Liat Om bawa apa?"
"Wah, buah. Lala suka, Om!" seru Lala.
"Ini buah Lala!" Mas Rey memberikan bingkisan yang dia bawa.
"Terima kasih, Om," ujar Lala bahagia.
"Ta," sapa Mas Rey.
"Iya, Mas?" Aku tersenyum.
"Kenapa?" Mas Rey seperti tahu bahwa aku sedang tak baik-baik saja.
Partikel-partikel menyakitkan dari jatuh cinta adalah ketika di paksa untuk melepaskan seseorang yang begitu di cintai. Padahal sudah di sakiti berulang kali tetapi masih saja mencintai orang yang salah. Terkadang benar kata orang-orang, kalau mau kurus cintailah orang yang salah, maka tubuhmu akan mengalami kemerosotan. Entah itu karena nafsu makan berkurang atau penyakit yang menumpuk di tubuh.
Akhirnya aku belajar melepaskan Mas Gevan, bukan karena aku tidak lagi mencintainya. Bukan juga karena sayangku sudah habis di dalam hati. Namun, aku sadar, mencintainya sendirian bukanlah cinta yang wajar. Aku dibunuh debar-debar dada dan kecemasan akan kenangan berselimut luka. Itulah mengapa aku mulai belajar melepaskan. Sebab, aku tahu cinta terbaik akan selalu pulang tetapi jika Mas Gevan tak kunjung datang, barangkali dia memang di takdirkan sebatas kisah yang hanya layak tersimpan sebagai kenang.
"Tidak apa-apa, Mas," jawabku.
__ADS_1
Mas Rey duduk di kursi sampingku sembari mengupas kulit apel untuk Lala.
"Masalah Gevan lagi?" tebaknya.
Aku membalas dengan anggukan. "Tadi Mbak Queen datang dan marah-marah," jelasku.
Mas Rey tampak diam dan mulai berpikir.
"Lalu?"
"Dia menuduhku menggoda suaminya," jawabku tersenyum kecut. "Jangankan menggoda, melihat Mas Gevan saja aku sudah tak memiliki rasa apapun," jelasku jujur. "Aku mengizinkan Mas Gevan datang ke sini demi Lala," jelasku panjang lebar.
Mas Rey mengangguk paham. "Selama Lala bisa bahagia lakukan apapun!" ucapnya. "Mas akan selalu menemani kamu," sambungnya kemudian.
"Terima kasih, Mas." Aku tersenyum lebar.
"Kalau butuh apa-apa. Jangan sungkan sama Mas," ujarnya lagi.
"Pasti, Mas."
Sebab jatuh cinta adalah hal-hal yang tak selalu mampu disebut dengan kata; terkadang hanya menjelma tatap mata dan degup di dada. Maka, kuserahkan saja segala kebekuan bibir ini pada tatap matanya, pada rentang lenganmu, pada obrolan-obrolan ringan yang kutahan agar tak cepat berlalu. Aku, telah berusaha patah mengutuk waktu menahanmu dengan segala gemuruh di dadaku. Sesuatu yang akhirnya kusimpulkan sebagai rindu.
Beberapa hal di dunia ini terkadang terlihat lucu dan terasa lucu. Bisa jadi hari ini seseorang jatuh cinta pada kekasihnya. Mulai merasakan nyaman dan membuat berbagai rencana. Semua berjalan dengan seharusnya. Bekerja lebih giat. Sebab kadang harus tahu ada tanggungjawab yang lebih berat. Namun, siapa menduga, hal yang dengan sungguh-sungguh di perjuangkan. Ternyata sama sekali tidak melakukan hal yang sama. Malah, dilepas, dikuras, dimanfaatkan begitu saja. Kemudian, seseorang yang di sebut cinta. Malah menunjukan sifat aslinya seakan meminta pergi perlahan.
Sejak memilihnya aku belajar untuk percaya. Meski banyak hal yang terkadang mencoba membuat ragu. Namun, aku paham aku sudah menempatkannya menjadi orang terpenting dalam hidupku. Seseorang yang sedang belajar kucintai. Seseorang yang kupaham tak sempurna, tetapi selalu berusaha memperbaiki diri. Aku percaya dalam hati terdalamnya belum sepenuhnya milikku. Sama seperti aku yang belum bisa sepenuhnya menaruh perasaan padanya secara utuh.
"Ta," panggil Mas Rey sekali lagi.
"Ada apa, Mas?" tanyaku.
"Mas cinta sama kamu."
Bersambung ...
__ADS_1