
Hari ini banyak yang aku ceritakan pada Kak Rimba di luar pekerjaan. Kami memang dekat sejak lama, apalagi Kak Rimba itu tetangga sebelah rumah.
Andai aku tahu sejak awal jika orang yang mengajakku bekerja sama adalah Kak Rimba, aku pasti akan menerima tawaran itu sejak lama.
Aku masuk ke dalam rumah mewah kami. Sebenarnya aku memang butuh asisten rumah tangga untuk sekedar membersihkan rumah di kala aku pulang bekerja seperti ini. Namun, Mas Bintang beranggapan aku yang pengangguran ini cocok menjadi assisten rumah tangga dan mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Kulihat Mas Bintang sudah duduk di meja makan sendirian. Di mana Mbak Mona?
"Malam, Mas," sapaku.
Dia membalas dengan anggukan, sebenarnya aku ingin bertanya di mana Mbak Mona. Tetapi saat melihat wajah lemas Mas Bintang membuatku ragu.
"Mas sudah makan?" Aku meletakkan tasku di atas meja makan. Kukira tadi dia makan ternyata hanya duduk sambil menatap ponselnya.
"Belum," jawabnya singkat padat dan jelas yang cukup membuatku tak perlu bertanya lagi.
"Iya sudah Mas tunggu sebentar ya. Aku masak dulu," ucapku.
__ADS_1
Dia hanya mengangguk dan aku berlalu kearah dapur untuk memasak. Walau dia telah menurihkan luka di dalam dadaku. Aku tetap mencintainya, karena dia adalah suamiku.
Cukup lama aku memasak untuk kami berdua. Walau aku sudah kenyang karena tadi sudah makan bersama Kak Rimba tetapi demi suamiku aku rela lapar lagi.
"Makan, Mas," ucapku menawarkan.
Mas Bintang hanya mengangguk. Kami berdua makan dalam diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Mas Bintang memang tipe orang yang tidak banyak bicara, dia selalu santai dan tenang.
"Mbak Mona kemana, Mas?" tanyaku memberanikan diri.
Aku mengangguk. Moment ini selalu ku tunggu, di mana berdua saja dengan Mas Bintang serta berbicara empat mata.
"Apa kamu mengatakan sesuatu pada Bunda?" tanya Mas Bintang tanpa melihatku.
"Tidak, Mas. Aku tidak mengatakan apapun. Seperti katamu, kita bebas melakukan apa saja tanpa keterikatan," sahutku menjelaskan dan masih ingat apa yang dikatakan oleh Mas Bintang tempo hari.
"Aku berharap kamu tidak melanggar ucapanmu," kata Mas Bintang.
__ADS_1
Aku sudah sadar diri sebelum bermimpi terlalu tinggi. Walau rasa sakit seketika sekujur tubuhku bergidik ngeri. Namun, aku berusaha untuk tidak menunjukkan sisi lemahku di depan Mas Bintang.
"Mas, apakah tidak ada kesempatan untuk kita? Aku sangat mencintaimu, Mas. Bolehkah kamu belajar juga mencintaiku?" Kali ini bukan permintaan tetapi sebuah kalimat permohonan yang ku ungkapkan lewat hari terdalam. Berharap Mas Bintang memberikan satu kesempatan untuk kami memperbaiki hubungan kami.
"Kenapa kamu mencintaiku?" tanyanya.
Aku langsung bungkam. Jika aku tahu jawabannya mungkin aku juga tidak bertanya seperti Mas Bintang, kenapa aku bisa mencintai lelaki ini?
"Aku tidak tahu, Mas. Aku hanya mencintaimu itu saja," jawabku jujur karena memang itu perasaan yang sedang aku rasakan saat ini.
"Jika kamu tidak punya alasan untuk mencintaimu. Lantas kenapa kamu meminta aku mencintaimu?" tanya Mas Bintang.
"Aku tegaskan sekali lagi, Nara. Aku tidak akan pernah mencintaimu dan menerimamu sebagai istriku karena aku hanya ingin Mona yang menjadi wanita terakhir dalam hidupku," tegas Mas Bintang.
Setelah berkata demikian dia melenggang pergi meninggalkan aku dan makanan yang masih banyak di atas meja.
Bersambung....
__ADS_1