
POV Bintang.
Aku berbenah diri. Hari-hari baru telah tiba. Aku mulai menata rencana-rencana. Aku menyepakati banyak hal. Merancang masa depan. Aku begitu bersemangat dengan segala impianku. Aku menjadi punya banyak hal yang ingin kuperjuangkan, ada Ayah, Bunda dan Bee yang akan menjadi sosok pertama untukku melangkah maju. Mungkin beginilah cara cinta bekerja. Seseorang yang sudah tak punya banyak tujuan, tiba-tiba berambisi untuk menggapai ini itu di masa depan.
Setelah sekian lama berada di sini aku mulai menikmati kesendirianku. Keputusanku pindah ke Singkawang sangat tepat. Walau banyak hal baru yang aku temui. Namun, tetaplah aku lelaki yang merindukan sosok wanita yang masih sangat aku cintai. Namanya, Anara Putri, mantan istriku yang paling cantik. Senyumnya, suaranya, tutur bahasanya selalu menjadi canduku. Entah kapan semua rasa ini padanya akan hilang. Semakin aku berusaha lupa semakin keras juga perasaan ini kian menggebu.
"Nara, aku merindukanmu. Sangat." Kupegang dadaku serta meresapi kehadiran Nara.
Kutatap kekosongan di taman rumah sakit milik Om Fajar. Ya, sekarang aku menjadi direktur di sini. Mengembang dan menjalankan rumah sakit ini agar menjadi rumah sakit yang mampu melayani masyarakat dengan baik. Hanya itu tujuanku saat ini. Membuat orang sehat dan sembuh dari penyakitnya adalah impian dan pekerjaanku. Tak banyak, hal itu saja sudah berhasil membuat aku bahagia menjalani detik-detik kehidupanku.
"Kak Bintang," panggil Auny, anak keduanya Om Fajar dan Tante Elly.
"Iya, Ny. Kenapa?" tanyaku.
"Kak Bee kapan melahirkan, Kak? Uny sudah tidak sabar melihat anak Kak Bee nanti," ujar Auny. Dia masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Jadi masih sangat muda dan remaja, mungkin seusia dengan Shaka.
"Tunggu beberapa bulan lagi," jawabku. "Kamu tumben ke sini? Ada apa?" tanyaku menyambung.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kak. Bosan saja di rumah," sahut Auny.
Aku kembali melanjutkan pekerjaanmu. Sekarang yang menjadi fokus utamaku adalah pekerjaan dan keluarga. Aku tak lagi memikirkan masalah hubungan asmara. Dan bahkan aku memutuskan untuk menutup hatiku serta memilih hidup sendiri sampai kutemukan akhir dari usia.
Bahagia tidak harus menikah? Orang yang menikah saja belum tentu bahagia. Jadi, untuk apa aku berepot-repot mencari wanita yang mau denganku sementara aku masih terjebak dengan wanita di masa laluku. Hidup sendiri bukan hal yang buruk juga. Lagian hidupku akan terus berjalan dengan semua hal-hal yang mengangumkan, mungkin.
"Iya sudah, Kak. Uny pulang ya. Mata Uny mengantuk mau bobo siang," pamit Auny.
Aku terkekeh pelan ketika dia mempraktekkan tidur siang dengan tangannya. Auny ini memang lucu dan imut-imut. Maklum masih muda dan polos. Apalagi dia sangat manja dengan segala fasilitas yang diberikan Om Fajar karena Auny anak kesayangan.
"Hati-hati. Langsung pulang ke rumah dan jangan ke mana-mana," pesanku.
Setelah Auny pulang, aku kembali menatap berkas-berkas yang menumpuk di atas mejaku. Bukan, bukan aku tak bosan dengan pekerjaan ini. Tetapi aku hanya berusaha mendedikasikan diri terhadap apa yang aku pilih.
Kubuang pandangan kearah jendela ruangan yang menampilkan langsung taman dekat rumah sakit. Setidaknya ada sedikit kelegaan dalam dadaku.
"Apa kabar Nara di sana?"
__ADS_1
Selama berbulan-bulan di tempat baru ini. Tak sehari pun Nara hilang dalam ingatanku. Aku dia selalu masuk ke dalam mimpiku seolah memiliki rindu yang sama seperti aku.
Cukup lama aku berkutat dengan berkas-berkas pasien tersebut. Lalu bergegas pulang ke rumah. Kadang juga aku tidak pulang jika ada dinas malam. Ya, walau aku seorang pemimpin aku juga bekerja sebagai dokter pada umumnya. Melayani pasien yang menderita penyakit di bidsngku serta berkonsultasi tentang penyakit mereka.
.
.
"Son, apa kamu tidak ingin mencari pendamping hidup?"
Aku terkejut mendengar pertanyaan dari Bunda. Selama ini mereka tak pernah menyingung masalah pernikahan setelah aku gagal dalam rumah tanggaku.
"Bintang belum memikirkan hal itu, Bund," jawabku.
"Nak, kamu tidak bisa terjebak terus dalam masa lalu. Sudah cukup lama kamu dan Nara bercerai. Nara saja sudah bisa move on, masa kamu tidak?" ucap Bunda lembut. Aku terdiam sejenak. "Belajarlah membuka hati!"
Jika Nara sudah bahagia kenapa aku gelisah memikirkan dia. Aku yakin Nara tak baik-baik saja. Dia sedang mengalami hal-hal yang menyakitkan karena aku bisa merasakannya.
__ADS_1
"Bintang masih mencintai Nara, Bund."
Bersambung...