
Aku selalu percaya, tak ada hal yang abadi dari kesedihan. Atau dari hal apapun itu. Yang ada hanyalah orang-orang yang bertahan bersama sepanjang usia mereka. Dan, itu bukan sebuah keabadian. Itu adalah usaha mempertahankan kesepakatan. Sementara seseorang yang tak bisa menjaga kesempatan. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk membiarkanmu betah di sini. Meski datang sesekali ke kepala, sungguh dadaku tak lagi membutuhkan rasa.
"Pelan-pelan, Kak," ucap Anggi membantu aku berbaring di atas brangkar rumah sakit.
"Bisa, Nggi?" Kak Galaksi menatap kami berdua.
"Bisa, Kak," sahut Anggi.
Saat ini kami sedang melakukan pemeriksaan dan ultrasonografi untuk memastikan posisi bayiku. Ah, aku semakin tak sabar menanti kedatangan mereka yang akan bertepatan dengan kematianku.
"Saya izin menaikan bajunya ya, Bu," izin Dokter Novi sembari mengangkat baju bagian perutku.
Aku membalas dengan anggukan. Saat ini kami berada di rumah sakit Timberland, Kucing Malaysia. Iya, Kak Galaksi, Anggi dan Dokter Novi membawa aku ke sini untuk menjalani pengobatan sesuai arahan dari dokter. Di sini kami tinggal di salah satu rumah mewah Mas Angga yang ada di Malaysia. Tidak ada yang tahu keberadaan kami. Aku meminta Mas Angga, Kak Galaksi dan Dokter Novi menyembunyikan keberadaanku. Biarlah aku menepi dan menghilang dari permukaan bumi. Agar semua orang tak lagi malu karena perbuatanku di masa lalu.
"Tarik napas ya, Bu."
Aku menurut dan menarik napas sedalam mungkin. Lalu Dokter Novi menuangkan gel di atas perutku sebelum mengarahkan benda yang dia gunakan untuk mendeteksi kondisi ketiga anakku di dalam sana.
Kami semua melihat kearah layar monitor. Tampak tiga benda bergerak-gerak di dalam sana. Mataku berkaca-kaca, benarkah itu anakku? Benarkah itu bayi yang hampir aku gugurkan hanya karena tidak menerima kehadirannya?
"Bayi Ibu sehat-sehat," ucap Dokter Novi.
"Terima kasih, Dok."
Aku bangun dengan pelan. Walau usia kandunganku baru memasuki bulan ketujuh tetapi perutku sudah sangat besar seperti sembilan bulan. Mungkin karena aku menggandung tiga anak sekaligus makanya sangat besar.
__ADS_1
"Rin, biar Kakak bantu!" Kak Galaksi membantu aku turun dari brangkar.
"Terima kasih, Kak."
Aku duduk di kursi depan meja Dokter Novi dan siap mendengarkan penjelasan dari dia.
"Bu." Dokter Novi mendesah pelan. "Kondisi Ibu semakin menurun, Bu. Untuk proses lahiran sepertinya kita tidak bisa menunggu bulan ke sembilan. Karena sel kanker sudah masuk ke bagian syaraf. Saran saya Minggu atau Minggu berikutnya kita sudah melakukan operasi agar Bu Arin bisa segera di kemoterapi."
"Apa secepat itu, Dok?" tanya Kak Galaksi.
Anggi mengenggam erat tanganku dan menahan tangis yang hampir pecah dari pelupuk matanya. Lalu aku, aku sangat takut. Bagaimana jika ini terakhir aku hidup di dunia dan pergi meninggalkan semua yang ada di muka bumi?
"Dok, apa operasinya menjamin keselamatan antara ibu dan anak?" tanya Kak Galaksi.
Dokter Novi tampak menghela napas panjang. Dia berusaha tersenyum walau aku tahu di balik bibir merekah itu ada perasaan yang sulit dia jelaskan.
30% kemungkinan berhasil? Apakah 70%nya kematian? Sekecil itu kemungkinan untuk aku bertahan hidup. Bahkan bayiku akan di keluarkan secara paksa dalam usia 7 bulan.
"Mohon persiapkan diri ta, Bu. Saya hanya seorang dokter. Namun, di atas segalanya Tuhan lah yang menentukan kehidupan dan kematian setiap insan manusia. Saya yakin Ibu bisa melewati ini bersama ketiga bayi Ibu. Kalian orang-orang yang kuat," ucap Dokter Novi menenangkan aku.
Dokter Novi sudah seperti saudaraku sendiri. Bahkan dia rela pindah bersama kami demi membantu aku bertahan hidup.
"Terima kasih, Dok."
Biarlah yang 30% untuk ketiga anakku. Jika pun ini tibanya saatnya aku pergi meninggalkan semua yang ada di dunia ini. Aku akan berusaha ikhlas menjalani semuanya. Aku yakin, Tuhan sudah sediakan masa depan untuk anak-anakku nanti setelah aku tidak ada. Aku berharap dunia tidak kejam pada mereka bertiga. Aku berharap mereka tidak mengalami cerita seperti yang aku alami saat ini. Walau dada terasa sesak untuk melewati semua ini tetapi aku berusaha menyakinkan semuanya bahwa aku baik-baik saja.
__ADS_1
Dalam hidup ini, aku tak memiliki angan-angan yang banyak. Masih bisa hidup di hati esok saja sudah sebuah keistimewaan bagiku. Tak perlu aku bahagia yang terpenting dari orang-orang yang berada di dekatku hidup baik-baik saja.
Kami keluar dari ruangan dokter. Wajah Kak Galaksi dan Anggi tampak tegang. Mereka bahkan memapahku berjalan seolah takut jika ada yang berusaha merebut aku dari mereka.
"Maaf ya, Kak. Arin merepotkan," ucapku. Kak Galaksi terlalu banyak berjasa dan berkorban padaku. Dia merelakan hidupnya agar aku bisa bertahan di sini.
"Anggi, maafkan Kakak ya. Kamu harus meninggalkan semuanya demi Kakak."
Aku menatap kedua orang itu secara bergantian dengan ucapan syukur. Setidaknya di detik terakhir dalam hidupku ada orang-orang yang menemaniku menuju kematian.
"Kak, jangan bicara begitu. Anggi sayang sama Kakak. Kakak itu saudara Anggi dan menggandung anak Anggi." Anggi memelukku dari samping.
Sementara Kak Galaksi tak mengatakan apapun. Dia seperti orang mati pikiran yang terlihat kosong dari tatapan matanya. Kami bertiga masuk ke dalam mobil. Berada di negeri Jiran ini membuatku belajar menghargai waktu.
"Rin, besok Kakak akan pulang ke Indonesia untuk mengambil beberapa data kamu sebelum operasi. Kamu hati-hati sama Anggi ya?" ucap Kak Galaksi.
"Kak, jangan beritahu keluargaku ya. Arin mohon, Kak. Mereka tidak peduli pada kondisi Arin. Arin tidak mau mereka perhatian hanya karena kasihan bukan karena peduli," pintaku.
Kak Galaksi mengangguk, "Kamu tenang saja. Kakak tidak akan katakan apapun pada mereka," sahut Kak Galaksi.
Tak bisa kupungkiri jika aku ketakutan menghadapi kematian. Kadang aku takut tertidur dan tak bangun lagi. Lalu berada di tempat lain, sepi, sunyi dan aku kedinginan tanpa ada siapapun di sana. Apakah wajar jika aku takut pada kematian? Aku manusia biasa yang tidak bisa lepas dari semua itu.
Aku bersandar di bahu Anggi sambil menikmati setiap hembusan napas yang terasa mencekat dada. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipi. Tubuhku tiba-tiba dingin, apakah kali ini aku benar-benar akan kalah dan menyerah pada kematian yang membawa aku pergi menemukan takdir?
'Jika pergi sejauh mungkin bisa membuat hati kalian tenang, maka izinkan aku pergi. Aku tidak akan kembali ke dunia yang fana dan kejam ini. Biarkan aku tenang bersama hembusan angin dingin yang menerpa kulitku serta bau tanah yang terasa menyengat.'
__ADS_1
Bersambung..