Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 3. Berkunjung ke rumah mertua


__ADS_3

Aku menatap pantulan diriku di depan cermin. Malam ini aku akan mengunjungi rumah mertuaku, Bunda Senja. Kebetulan mereka mengundang makan malam bersama.


Lagi-lagi aku tersenyum kecut, bisa ku tebak jika pertanyaan pertama yang akan di lontarkan oleh mereka adalah 'kapan punya anak?' Inilah fase paling menakutkan setelah menikah. Jangankan memiliki anak malam pertama saja belum pernah dan aku masih perawan ting-ting yang belum pernah di jamah oleh pria lain.


Aku keluar dari kamar dengan meneteng tasku.


"Sudah siap?" Mas Bintang berdiri ketika aku keluar.


Aku mengangguk. Kami berdua masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan. Aku yang biasanya cerewet dan selalu menemukan kata-kata untuk di perbincangkan, kini diam saja tanpa berniat dan berbicara dengan suamiku. Ada benarnya juga, titik lelah dari seorang perempuan ketika hadirnya tak di anggap adalah diam.


"Di depan Ayah dan Bunda harus seperti biasa. Aku tidak mau wajah dingin mu membuat mereka curiga."


Aku menoleh kearah suamiku ketika dia berbicara demikian. Ku pikir dia akan sadar setelah melihatku tak lagi peduli. Namun, nyatanya dia malah mengucapkan kata yang tak ingin ku dengar lagi.


"Iya," sahutku singkat padat dan jelas.


Baik-baik saja di depan orang tua adalah seni terbaik menurihkan luka. Sebab melihat wajah bahagia mereka seperti menjadi siksaan sendiri di dalam dada.


Sampai di rumah mewah mertuaku. Kami berdua turun. Tak ada adegan romantis seperti di film-film atau novel genre percintaan, di mana seorang suami membuka pintu mobil agar istrinya bisa turun. Apalagi penggantin baru seperti kami saat ini. Tetapi hal itu tak berlaku untuk aku dan Mas Bintang.


"Nara."


"Bunda."

__ADS_1


Aku berpelukan dengan mertuaku yang baik hati ini. Bunda Senja sangat lembut dan baik padaku. Dia adalah mertua idaman yang memperlakukan menantunya bak ratu.


"Apa kabar kamu, Sayang?" tanyanya mengecup keningku dengan sayang.


"Nara baik-baik saja, Bund," jawabku.


"Bunda."


Mas Bintang juga memeluk Bunda Senja. Menurut cerita yang aku dengar dari Bunda, jika Mas Bintang sangat manja pada ibunya ini padahal bukan ibu kandung.


"Ayo, masuk. Bunda sudah masak spesial buat kalian berdua," ajak Bunda Senja merangkul tanganku.


Kami menuju meja makan. Di sana sudah ada Ayah Langit dan Bee, adiknya Mas Bintang. Mereka menyambut kami dengan senyum. Aku juga cukup dekat dengan adik ipar ku itu. Walau hanya bertemu beberapa kali sebelum dan setelah menikah.


"Kapan kalian punya anak?"


Uhuk uhuk uhuk


Kami berdua terbatuk bersamaan ketika mendengar pertanyaan dari Ayah Langit.


"Minum, Kak." Bee menyedorkan gelas berisi air padaku.


"Terima kasih, Bee," sahutku menunggak isi gelas itu hingga tandas.

__ADS_1


"Kalian gugup sekali?" goda Bunda. "Wah sepertinya kecebong Mas Bintang sudah mulai tumbuh ini," celetuk Bunda lagi.


Kami berdua hanya tersenyum kesem. Tidak tahukah Bunda bahwa ucapan itu sungguh mengiris hati. Andai tebakannya itu benar, mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia. Tetapi nyatanya ucapan itu tak sesuai realita. Pernikahan kami tak sebahagia yang orang lain banggakan dan ceritakan, pernikahan ini hanya menutupi kedok kehancuran yang telah suamiku ciptakan sendiri.


"Doakan saja yang terbaik, Bunda," sahut Mas Bintang menimpali.


"Doa harus di sertai dengan usaha, Son," sambung Ayah Langit seraya menepuk bahu anaknya.


Setelah selesai makan malam kami berkumpul di ruang keluarga. Aku membantu Bunda Senja membuat cemilan di dapur.


"Kamu dan Bintang baik-baik saja?" tanya Bunda.


"Kami baik-baik saja, Bunda," sahutku menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


"Bunda berharap semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan. Kalau Bintang berani macam-macam, jangan lupa laporkan pada Bunda." Andai saja Bunda tahu bagaimana kehidupan rumah tangga kami.


"Iya, Bunda. Mas Bintang baik sama Nara. Dia juga selalu membantu Nara," kilahku.


Tak mungkin aku menceritakan keburukan suamiku pada ibu mertua. Cukup Kak Rimba saja yang tahu bahwa rumah tangga kami ini memang sudah tak bisa di selamatkan lagi.


"Harapan Bunda selalu begitu," sahut Bunda tersenyum. "Apa Bintang masih berhubungan dengan Mona?" tanya Bunda.


Sebelum aku menikah dengan Mas Bintang, Bunda pernah menceritakan tentang kekasih suamiku ini. Cinta mereka tak di restui karena menurut Ayah dan Bunda, Mbak Mona bukan wanita baik-baik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2