
SEBELUM MEMBACA JANGAN LUPA BUDIDAYA LIKE YAA YA GUYS..........
CEKIDOT......
👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇
Aku menghembuskan nafas kasar dan duduk kembali dikursi. Setiap kali melihat wajah mertua ku. Entah kenapa aku tak bisa menahan emosi, apalagi mengingat semua penghinaan nya padaku. Aku bukan tipe orang yang mudah ditindas. Aku akan melawan jika ada yang berani macam-macam dengan ku.
"Mantan mertua?" tanya Pak Dante melirik wajahku.
"Iya Pak," sahutku kesal sambil menyantap makanan ku.
Pak Dante tampak tenang. Syukurlah dia bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Jadi aku tak perlu mencari alasan atau sekedar menghindar.
"Makanlah yang kenyang, setelah ini kamu pulang saja. Bawa anak-anak mu istirahat. Seperti nya mereka kelelahan," ucap Pak Dante.
Dalam hati aku sangat senang, apalagi Divta pulang hari ini dan memintaku menjemput nya di pelabuhan. Bisa jadi alasan untuk aku pulang cepat.
"Iya Pak," jawabku.
Nafasku masih memburu, menahan amarah karena mantan mertua ku tadi. Mungkin, aku bisa dikatakan menantu durhaka. Tapi aku tak peduli. Aku takkan jahat jika tidak di pancing. Jika dulu aku penurut dan diam saja saat dihina, tapi tidak dengan sekarang.
"Saya salut sama kamu," ucap Pak Dante
Aku mengangkat pandangan ku. Kening ku berkerut heran, maksudnya salut apa? Aku tidak paham.
"Saya tidak mengerti Pak," sahutku. Ya aku tak mengerti apa yang di ucapkan Pak Dante.
"Ya kamu wanita berkelas yang menghadapi orang dengan tenang," puji nya.
Sebenarnya aku bukan tenang, hanya saja aku tidak mau memancing keributan. Hidupku sudah banyak masalah dan aku tidak mau menambah masalah lagi, rasanya kepala ku mau pecah. Apalagi kondisi Nara belum benar-benar pulih.
"Tidak seperti itu Pak. Saya memang orang nya keras. Saya tidak bisa membiarkan orang lain menginjak harga diri saya," jawabku sambil menjelaskan.
Setelah makan siang, aku diperbolehkan pulang oleh Pak Dante, rasanya aku bernafas lega karena terlepas dari pertanyaan horor Pak Dante tentang perceraian ku.
Aku menjemput Nara dan Naro di mess Bu Dessy. Aku bersyukur, karena Bu Dessy sudah menganggap Nara dan Naro seperti anaknya sendiri.
"Nak, kita jemput Om Divta ke pelabuhan yaa," ajakku.
__ADS_1
"Om Divta pulang, Ma?" tanya Naro sumringah. Entah kenapa Naro begitu menyukai sosok Divta. Padahal dengan Mas Galvin dia sangat dingin.
"Iya Sayang," jawabku tersenyum.
"Ya sudah ayo,"
Selesai berpamitan pada Bu Dessy, aku segera membawa anak-anak.
"Ra,"
Langkah kami bertiga terhenti saat mendengar suara yang begitu kami kenal memanggil nama ku.
"Mas Galvin,"
"Papa,"
Ya Mas Galvin berjalan kearah kami dengan senyuman manis nya. Entah apalagi yang di inginkan oleh mantan suamiku ini, dia seolah tak berhenti mengusik hidupku. Padahal aku sudah tak peduli lagi dengan nya.
"Papa," sapa Nara tersenyum bahagia.
"Nara," sahut Mas Galvin berjongkok lalu memeluk Nara yang duduk dikursi roda.
"Papa apa kabar?" tanya Nara melepaskan pelukan Mas Galvin.
"Papa sehat, Nak." Mas Galvin mengecup kening Nara.
Sementara Naro malah mengenggam tangan ku dengan erat. Dia enggan melihat Mas Galvin.
"Ra," panggil nya padaku.
"Ada apa, Mas?" tanya ku dingin. Entahlah, perasaan nya dulu nya menggebu didalam dada. Kini perlahan menghilang tiba-tiba. Atau sebenarnya aku sudah mati rasa?
"Biar Mas anterin kalian pulang," tawarnya.
Kenapa setelah berpisah Mas Galvin terlihat baik sekali? Dulu saja dia seperti tak peduli pada aku dan anak-anak, malah sibuk dengan pekerjaan nya.
"Tidak usah Mas. Hargai perasaan istri kamu. Aku tidak mau dianggap orang ketiga dalam hubungan rumah tangga kalian," ucap ku. Ya aku tidak aku dituduh pelakor, apalagi rumah tangga ku hancur karena pelakor.
"Tapi_"
__ADS_1
"Anak-anak kalian masuk dulu," suruh ku.
"Iya Ma," jawab Naro.
Aku membantu Nara masuk kedalam mobil. Aku tak mau anak-anak mendengar obrolan ku dan Mas Galvin. Aku takut mental mereka akan rusak jika mengetahui obrolan orang dewasa seperti kami.
"Mas, aku mohon. Jangan ganggu aku dan anak-anak lagi. Aku tidak melarang kamu bertemu anak-anak. Tapi kamu harus tahu batasan. Aku tidak mau Lusia tahu dan malah menuduh aku merebut kamu," ucap ku memperingatkan. Sebab tak baik mantan bertemu setiap hari.
"Mas hanya ingin tahu kamu ada hubungan apa antara Pak Dante dan Divta?" tanya nya penasaran.
Aku tersenyum mengejek, "Untuk apa kamu tahu Mas? Aku mau berhubungan sama siapapun sudah bukan urusan kamu lagi," sahutku tak habis pikir. Heran juga melihat keanehan Mas Galvin. Untuk apa coba dia mencari tahu aku menjalin hubungan dengan siapa. Itu juga urusan ku.
"Ra, kamu berubah," ucap Mas Galvin terlihat kecewa.
Aku tertawa sinis, "Mas, jelas aku berubah. Aku bukan istri kamu lagi, Mas. Sudahlah, aku mau jemput Divta ke pelabuhan dulu. Sampai bertemu nanti Mas. Titip sama untuk Ibu dan Lusia," ucap ku tersenyum mengejek sambil masuk kedalam mobil.
Jika dulu di mata Mas Galvin aku adalah perempuan lemah, maka tidak dengan sekarang. Aku adalah seorang perempuan yang lahir kembali. Inilah sifat ku yang sebenarnya, jika disakiti maka aku akan membalas seribu kali lipat.
"Mama, tadi Papa bilang apa?" tanya Nara.
"Papa tidak bilang apa-apa," kilah ku. "Kita jemput Om Divta ya." Aku mengusap kepala Nara.
Aku bersyukur Nara tidak lagi bertanya kenapa aku dan Mas Galvin berpisah? Aku takkan sanggup menjelaskan jika ada orang ketiga yang masuk kedalam rumah tangga kami. Nara terlalu kecil untuk memahami apa itu poligami hati.
Aku menatap kosong keluar jendela mobil. Aku memang kelihatan kuat. Namun, sebenarnya aku adalah wanita lemah yang hati nya sangat rapuh. Aku wanita yang tak kuat menahan perih didada ku. Aku hanya mencoba menerima jalan takdir yang telah di anugerahkan padaku.
"Mama." Naro bersandar di bahuku.
"Iya, Son. Kenapa?" tanya ku lembut.
"Tidak usah dipikirkan lagi, Ma," ucap Naro yang seakan tahu apa yang ada dipikiran ku
"Mama tidak memikirkan nya lagi, Sayang," kilahku.
Bohong jika aku tak memikirkan Mas Galvin. Bohong jika aku bilang benci padanya, aku masih mencintai Mas Galvin. Namun, perasaan ku tak seperti dulu yang benar-benar menggebu dalam dada. Aku merasa kosong ketika melihat tatapan mata Mas Galvin. Rasa sakit dan kecewa yang dia turihkan didadaku, seperti menyeruak masuk didalam sana.
Aku wanita biasa yang menginginkan bahagia. Aku bukan wanita berpendidikan namun, aku tahu mana yang baik atau yang tidak baik.
Bersambung....
__ADS_1