Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
Season 04. Chapter 05.


__ADS_3

"Silakan duduk, Bu," ucap Dokter Novi.


"Terima kasih, Dok." Aku duduk di kursi depan meja Dokter Novi.


Saat ini aku berada di rumah sakit. Setelah drama pagi tadi, aku memutuskan untuk memeriksa kondisiku. Aku takut terjadi sesuatu ada calon bayiku, karena beberapa hari terakhir aku memang merasa aneh. Ini bukan efek kehamilan tetapi serasa ada sesuatu yang janggal di dalam sana. Semoga aku dan bagiku baik-baik saja. Aku tidak mau kehilangan calon anakku karena dia kelak yang akan menjadi sosok penyemangat dalam hidupku.


"Bagaimana dengan hasil pemeriksaan saya, Dok?" tanyaku was-was. Aku harus berpikir positif bahwa tidak ada sesuatu berbahaya yang terjadi padaku.


"Bu." Dokter Novi menghela nafas. Dia adalah dokter kandungan yang sudah lama aku kenal sejak kehamilan Nara.


"Kenapa, Dok?" tanyaku penasaran. Raut wajah Dokter Novi menunjukan kekhawatiran.


"Saya harap, apapun yang saya jelaskan tentang penyakit Ibu. Ibu bisa menerima semuanya dan kemungkinan akan berpengaruh pada bayi dalam kandungan Ibu," ucap Dokter Novi.


Aku terdiam sejenak. Apa sebenarnya yang terjadi pada tubuhku? Kenapa Dokter Novi mengatakan hal tersebut padaku. Aku berulang kali mencerna apa yang di ucapkan olehnya, barangkali aku paham tanpa dia menjelaskan sesuatu yang tidak ingin aku ketahui lagi.


"Apa, Dok?" tanyaku.


"Ibu menderita kanker rahim stadium lanjut. Ada tumor yang tumbuh di dinding rahim Ibu."


Deg.


Debar-debar jantung dalam dadaku seolah berhenti. Aliran darah mendesis dan pecah di antara pembuluh darahku. Badanku langsung lemah serasa tak bertenaga.


"Sel-sel otot rahim tumbuh secara abnormal. Tumor jenis ini umumnya tidak bersifat ganas. Meski demikian, keberadaannya kerap membuat khawatir para ibu hamil maupun wanita yang sedang merencanakan kehamilan."

__ADS_1


"Tumor rahim atau disebut juga miom umumnya ditemukan di bagian dalam maupun luar dinding rahim. Seorang wanita bisa memiliki satu tumor atau lebih di dalam rahimnya. Ukurannya pun bervariasi, mulai dari sekecil biji jeruk dan bisa berkembang hingga sebesar bola tenis."


"Penyebab munculnya tumor rahim belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita menderita tumor ini, mulai dari peningkatan produksi hormon estrogen, pertambahan usia, obesitas, hingga faktor keturunan."


"Adapun tumor rahim memiliki beberapa jenis Fibroid miometrium atau intramural, yaitu tumor rahim yang berkembang di dalam lapisan dinding otot rahim."


"Kedua Fibroid submukosal, yaitu tumor rahim yang tumbuh tepat di bawah lapisan rahim hingga ke dalam rongga rahim."


"Ketiga Fibroid subserosal, yaitu tumor rahim yang tumbuh di dinding luar rahim dan bisa membesar ke arah rongga panggul."


"Keempat Fibroid bertangkai atau pedunculated fibroids, yaitu tumor rahim yang pangkalnya berbentuk menyerupai tangkai dan bisa menjuntai ke dalam atau ke luar rahim."


"Sedangkan Ibu menderita Fibroid subserosal, yaitu tumor rahim yang tumbuh di dinding luar rahim dan bisa membesar ke arah rongga panggul," jelas Dokter Novi.


"Tumor rahim umumnya tidak menjadi hambatan bagi seorang wanita untuk hamil. Operasi sebelum hamil untuk mengangkat tumor rahim juga tidak selalu diperlukan, kecuali jika tumor rahim yang diderita menimbulkan gejala berat, seperti nyeri hebat saat haid dan volume darah haid yang sangat banyak."


"Kurangnya aliran darah pada dinding rahim dapat mengubah bentuk rahim dan menyebabkan gangguan pada proses penanaman atau implantasi embrio pada dinding rahim."


"Pada ibu hamil, kebanyakan tumor rahim juga tidak menimbulkan gejala atau mengganggu kehamilan sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Namun, pada kondisi tertentu, tumor rahim bisa saja menyebabkan masalah selama masa kehamilan."


"Masalah paling umum yang dapat dialami ibu hamil akibat tumor rahim adalah bayi lahir prematur, tumor menutup jalan lahir, bayi sungsang, dan solusio plasenta. Berbagai masalah ini bisa menghambat ibu hamil melahirkan secara normal sehingga operasi caesar menjadi metode bersalin yang dianggap paling aman."


"Oleh karena itu, ibu hamil perlu melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin guna menghindari masalah kesehatan akibat tumor rahim dan mendeteksi berbagai komplikasi kehamilan sedini mungkin. Dengan demikian, kesehatan ibu dan janin pun tetap terjaga."


"Jika Anda mengalami beberapa gejala tumor rahim, seperti sering buang air kecil dan haid yang terasa sangat nyeri serta berkepanjangan, atau mengalami sulit hamil akibat menderita tumor rahim, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat."

__ADS_1


"Namun, yang di alami oleh Ibu Ariana ini cukup memprihatinkan karena sudah memasuki stadium lanjut."


Seketika tubuhku membeku di tempat. Air mata yang sedari tadi ku tahan dengan susah payah, leleh membasahi pipiku. Memang sebelum hamil aku selalu merasakan nyeri saat haid dan kadang tak bisa bangun karena sakitnya menyebar di bagian pinggang.


"Bu, kita tidak bisa melanjutkan pengobatan jika bayi itu masih ada dalam kandungan Ibu." Dokter Novi mengenggam tanganku yang ada di atas meja.


"Maksud, Dokter?"


"Dengan terpaksa kita harus gugurkan bayi dalam kandungan Ibu agar kita bisa melakukan kemoterapi. Karena Ibu akan mengkonsumsi obat-obat yang bisa membuat bayi mengalami kecacatan. Oleh sebab itu saya sarankan agar Ibu mengugurkan kandungan Ibu demi keselamatan Ibu."


Deg


Tidak, aku menggeleng. Tidak, tidak akan pernah. Ibu macam aku jika rela membunuh bayi yang tak bersalah hanya demi aku bertahan hidup. Aku tidak akan pernah membunuh bayiku, dia adalah harta yang paling berharga walau aku belum melihat bentuk dan rupanya.


"Maaf, Dok. Saya tidak bisa," tolakku dengan tegas.


"Tapi, Bu_"


"Saya tidak mau kehilangan anak saya, Dok. Tolong cari alternatif pengobatan lain tanpa harus membahayakan bayi dalam kandungan saya," mohon mengenggam tangan Dokter Novi.


Dokter Novi menggeleng, "Ibu akan mengkonsumsi obat-obat yang tidak bisa di konsumsi Ibu hamil. Jelas ini berbahaya untuk perkembangan janin," jelas Dokter Novi. "Mohon di pertimbangkan lagi, Bu. Kanker itu sudah menyebar ke bagian tubuh Ibu yang lainnya. Kalaupun Ibu mempertahankan bayi itu kemungkinan besar untuk selamat sangat tipis, Bu," tutur Dokter Novi secara blak-blakan.


Tubuhku langsung luruh, bisakah tidak menakut-nakutiku seperti ini? Tidak apa jika aku harus kehilangan nyawa yang tidak terlalu berharga ini. Tetapi aku tidak ingin kehilangan anak yang sudah ku perjuangkan dengan susah payah. Aku ingin dia melihat dunia ini walau kehadirannya mungkin menyakiti banyak orang.


"Saya tahu ini berat buat, Ibu. Saya paham, Bu. Tetapi tidak ada pilihan lain. Nyawa Ibu dan janin dalam kandungan Ibu Sama-sama dalam bahaya. Maka itu, saya berani menyarankan agar Ibu mengugurkan bayi itu dan kita fokus pada pengobatan. Nanti setelah sembuh, Ibu bisa hamil lagi dan memiliki anak," jelas Dokter Novi berulang kali memberi pengertian.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2