Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)

Love Is Hurt (Poligami Pernikahan)
S2. Viral


__ADS_3

"Tari," panggil Divta.


"Iya Pak?" Mentari tersenyum menyambut lelaki itu.


"Saya antar ya?" tawarnya gemes melihat Mentari yang tampak cantik pagi ini.


"Tidak usah Pak, saya bawa motor," tolak Mentari halus.


"Tid_"


"Divta," panggil Melly dari arah pintu membawa rantang nasi yang mungkin berisi makanan.


"Kenapa, Ma?" tanya Divta malas.


"Ini tolong bawakan untuk calon istrimu ya, Audrey. Ini hari pertama dia bekerja di rumah sakit Dokter Langit," ucap Melly menyerahkan rantang nasi tersebut. "Tari, kamu belum berangkat?" Melly memincingkan matanya curiga.


"Ini sudah mau berangkat, Bu. Kalau begitu saya duluan Pak, Bu." Gadis itu berlalu dan naik ke atas motor lalu menancapkan gas.


"Ta_" Divta menghela nafas panjang, sebenarnya dia sedikit khawatir melihat Mentari membawa motornya sendiri.


"Ta, ini."


Divta melenggang masuk ke dalam mobilnya tanpa peduli pada teriakkan Melly yang memanggil namanya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita bernama Audrey itu. Mau anak orang kaya, mau dia dokter. Bagi lelaki itu, Mentari jauh lebih menarik dan membuat hatinya nyaman.


"Huh, dasar," gerutu Melly. "Awas saja, aku tidak akan biarkan gadis kampung itu memasuki keluargaku," ucapnya.


Wanita paruh baya yang masih cantik dengan pakaian mahal di tubuhnya tersebut, beranjak masuk ke dalam rumah dengan terus menggerutu.


"Heran deh sama Divta, apa sih kelebihan gadis kampung itu?" gerutu Melly. "Audrey yang cantik seperti bidadari saja dia tidak tertarik sama sekali," ucapnya lagi.


Melly meletakkan rantang nasibnya dengan kasar diatas meja dengan wajah di tekuk.


"Kenapa lagi sih, Ma?" tanya Ferdy geleng-geleng kepala salut melihat istrinya ini yang suka sekali mengomel.


"Itu si Divta. Mama tidak habis pikir padanya, bagaimana bisa dia lebih menyukai Mentari daripada Audrey," jelas Melly melipat kedua tangannya di dada. Dia tidak akan biarkan Mentari memasuki rumah tangga mereka. Baginya hanya orang-orang berkelas saja yang boleh menjadi menantunya. Bukan gadis seperti Mentari.


"Biarkan sajalah, Ma. Itu pilihan Divta sendiri. Asal dia bahagia," ucap Ferdy menangahi.

__ADS_1


"Pokoknya Mama tidak mau, Pa. Mama itu ingin punya menantu yang berkelas seperti Audrey. Apa kata dunia nanti jika kita punya menantu dari kampung seperti Mentari," omel Melly menggebu-gebu.


"Ma, janga merendahkan orang," tegur Ferdy.


"Siapa yang merendahkan sih, Pa. Ini kenyataannya," sanggah Melly.


Wanita itu berdiri dari duduknya lalu menuju dapur. Entah apa yang akan dia lakukan.


"Bik," panggilnya pada Susanti yang tengah sibuk mencuci piring.


"Eh, iya, Bu. Ada yang bisa Bibi bantu?" tanyanya ramah sambil mengelap tangannya kain lalu menghadap Melly dan membungkuk hormat.


"Bibi tolong ajarkan Mentari supaya tidak dekat-dekat Divta. Saya tidak mau nanti ada yang salah paham karena kedekatan mereka. Bibi tahu 'kan kalau Divta itu abdi negara yang harus menjaga namanya. Dia bercerai saja sudah menjadi boomerang di bagian kesatuan. Apalagi kalau dia memiliki hubungan dengan gadis seperti Mentari. Jadi, tolong Bik. Sampaikan ini pada Mentari," jelas Melly panjang lebar.


Susanti mengangguk dan memaksakan senyum di wajah tua nya.


"Baik, Bu. Saya akan menasihati anak saya nanti. Sekali lagi mohon maaf, Bu. Atas ketidaknyamanan ini," ucap Susanti tersenyum kecut.


Melly tak menjawab dia meninggalkan Susanti begitu saja. Dia merasa tidak sederajat dengan keluarga Mentari.


"Tari." Dia mendesah pelan lalu melanjutkan pekerjaannya.


.


.


Mentari menaiki motornya dengan melamun. Jujur saja, perasaannya kini mulai menggebu dan tak bisa dia pungkiri bahwa dirinya memiliki rasa pada Divta. Perasaan yang sebelumnya belum pernah dia lakukan.


"Tari, sadar diri kamu siapa. Jangan berharap terlalu banyak. Kamu itu gadis miskin mana pantas bersanding dengan abdi negara seperti Pak Divta. Hubungan kalian adalah ketidakmungkinan," ucap Mentari berusaha menyadarkan dirinya bahwa rasa yang ada di dalam dadanya adalah sesuatu yang tidak mungkin.


Gadis itu memasuki gerbang kampus dan menuju parkiran. Kelasnya berada di dalam, sebagian fakultas management bisnis dia harus belajar lebih giat apalagi mendengar penghinaan orang orang-orang padanya.


"Tari," panggil Shierra.


"Ehh Ra," balas Mentari memarkirkan motornya. "Sudah lama datang?" tanyanya.


"Baru," jawab Shierra. "Ri, ada gosip baru," ucap Shierra yang sibuk dengan ponsel di tangannya.

__ADS_1


Mentari membuka helmnya dns memperbaiki rambutnya yang setengah berantakkan akibat helm tersebut.


"Gosip apa?" tanyanya.


"Kamu serius semalam ke rumah Kak Rein?" tanya Shierra tanpa melihat sahabatnya itu.


Mentari mendelik, darimana Shierra tahu. Padahal dia tidak mengatakan pada siapapun kalau semalam dia berkunjung ke rumah Rein.


"Kenapa?" tanya Mentari


"Coba kamu lihat." Sambil menunjukkan layar ponselnya.


Pupil mata Mentari membulat sempurna saat melihat apa yang ada di layar ponsel Shierra.


"Lho, kok bisa ada fotoku di sini?" tanya Mentari heran dan terlihat panik.


"Aku tidak tahu, ini lagi viral di group kampus. Cepat periksa ponsel kamu," suruh Shierra.


Secepat kilat Mentari mengambil ponselnya dan gadis itu menutup mulutnya tak percaya ketika semua mahasiswa dan mahasiswi membicarakan dirinya di group kampus.


Mata gadis itu mulai panas ketika salah satu chat yang mengatakan bahwa dia menggoda Rein dan berusaha mendekati jawara kampus itu.


Mentari memasukkan ponselnya. Wanita itu menghela nafas panjang, ada-ada saja cara orang ingin mencari masalah dengannya.


"Ri, kamu benaran ke rumah Kak Rein semalam?" tanya Shierra memastikan.


Mentari mengangguk karena dia memang berada di rumah Rein semalam.


"Jangan salah paham, aku berkunjung dengan majikanku. Kedua anaknya tidak mau. Jika aku tidak ikut," jelas Mentari meluruskan.


"Iya aku percaya sama kamu. Sudahlah tidak usah dipikirkan. Ayo masuk kelas," ajak Shierra.


Mentari mengangguk. Kedua gadis itu berjalan masuk menuju kelas mereka. Tatapan tak suka tertuju pada Mentari lebih tepatnya tatapan iri karena tidak semua orang bisa mendekati keluarga Rein. Calon dokter itu selalu menjaga circle pertemanannya karena dirinya yang merasa bahwa semua orang mendekatinya pasti ada sesuatu yang orang itu inginkan. Oleh sebab itu, Rein selalu menjaga lingkungan pertemanannya dan berhati-hati untuk memulai hubungan pertemanan.


Namun, Mentari adalah sosok gadis berbeda yang menarik perhatian Rein. Sejak gadis itu jadi MaBa dan dia sebagai ketua BEM yang ikut dalam kegiatan ospek, Rein sudah memperhatikan gadis itu. Dia tertarik dengan sifat Mentari yang lemah lembut dan menarik hati.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2